Hari Buku: Harapan Pegiat Literasi terhadap Para Pemimpin di Kalimantan Utara

Senin, 18 Mei 2020 08:22 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Harapan pegiat literasi terhadap para pemimpin di Kalimantan Utara tak hanya sekedar peringatan seremonial harus dibarengi aksi nyata

A room without books is like a body without a soul” berarti ruangan tanpa buku seperti raga tanpa jiwa, dicetuskan oleh Marcus Tullius Cicero seorang filsuf sekaligus negarawan zaman Romawi kuno. Bila si Cicero ini masih hidup, dia barang tentu akan menargetkan Indonesia dalam misi pribadinya, untuk mengisi jiwa orang Indonesia yang kosong.

Bagaimana tidak, survey dari badan PBB untuk urusan pendidikan dan kebudayaan, UNESCO tahun 2011 menunjukkan indeks tingkat membaca masyarakat di Indonesia hanya sebesar 0,001 persen. Artinya, dari 1000 penduduk, hanya ada satu orang saja yang memiliki keinginan untuk membaca buku.

Hasil penelitian lain oleh Programme for International Student Assessment (PISA), menyimpulkan budaya literasi masyarakat Indonesia berada di urutan ke 64 dari 65 negara yang diteliti dan dalam penelitian yang sama pula, PISA menunjukkan hasil dari minat baca siswa Indonesia yang ditempatkan pada urutan ke 57 dari 65 negara yang diteliti. Menyedihkan. Prestasi memalukan ini bahkan belum selesai, bahkan pada sebuah survei penelitian yang dirilis oleh Most Literate Nations pada Maret 2016 silam terkait pemeringkatan literasi internasional, Indonesia menempati urutan kedua terbawah dari total 61 negara yang diteliti.

Literasi dan budaya membaca di Kalimantan Utara

Data Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) yang dirilis oleh Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) dengan faktor yang mencakup kecakapan, akses, alternatif, dan budaya menempatkan propinsi Kalimantan Utara pada kategori sedang tingkat literasinya. Kategori Indeks Alibaca terbagi atas lima kategori, yakni sangat rendah (0-20,00), rendah (20,01-40,00), sedang (40,01-60,00), tinggi (60,01-80,00), dan sangat tinggi (80,01-100). Sementara itu untuk indeks dimensi budaya membaca propinsi, Kaltara menduduki peringkat ke-4.

Laporan UNESCO tahun 2010 tentang The Social and Economic Impact of Illiteracy mengungkap tingkat literasi rendah memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap rendahnya produktifitas kerja, tingginya beban biaya kesehatan, rendahnya partisipasi sosial dan politik. Masyarakat yang memiliki literasi rendah cenderung memiliki perilaku kesadaran kesehatan yang rendah termasuk tingginya angka putus sekolah dan pengangguran yang berdampak pada problem sosial seperti kriminalitas dan penyalahgunaan narkoba.

Sebagai propinsi baru, Kaltara sebenarnya tidak malu-maluin level literasinya, masih bisa bersaing dengan propinsi yang dianggap sudah mapan, dalam hal fasilitas. Namun kebiasaan budaya membaca dan kemampuan literasi harus terus ditingkatkan.

Di Kaltara, sendiri ada komunitas pegiat literasi yang berwadah dalam Komunitas Sejarah Kaltara beranggotakan para individu yang kredibel dan mapan dalam literasi. Mereka adalah para penulis buku, penyair, sastrawan, jurnalis, seniman, pegiat sosial/budaya, penulis muda yang peduli pada perkembangan literasi di Kaltara.

Sebagai pejuang literasi, tentu mereka berharap pada momentum hari buku nasional ini pada pemerintah Kalimantan Utara. Berikut rangkuman harapan dan tuntutan mereka kepada pemerintah propinsi dan kabupaten/kota untuk memajukan literasi di Kaltara:

  1. Mengadakan event lomba menulis, membaca, pidato, dan semacamnya secara rutin atau bekerja sama dengan para pegiat literasi di Kaltara.
  2. Memfasilitasi penulisan buku sejarah, budaya dan kearifan hidup Kaltara yang sangat kaya.
  3. Mendukung penerbitan buku-buku anak-anak, remaja dan dewasa sesuai tema lokal.
  4. Hari buku tidak hanya sekedar ritual seremonial belaka, para pemimpin di Kaltara harus membumikan komitmen mereka. Mereka harus memberi contoh dengan aksi nyata memajukan literasi, dengan kewenangan anggaran mendukung penerbitan buku-buku para penulis dari Kaltara.
  5. Pemerintah perlu menerbitkan kebijakan peta jalan gerakan literasi untuk memberi payung hukum dan aksi nyata gerakan stimulan budaya baca tulis.
  6. Membumikan budaya lokal dalam semua sendi kehidupan Kaltara dengan membuat instrumen kebijakan pelestarian budaya lokal. Hal ini diperlukan untuk membangun propinsi Kaltara yang lebih berkarakter dan memiliki ciri khas.
  7. Perbanyak porsi beasiswa untuk mahasiswa/i yang kuliah di perguruan tinggi yang ada di Kaltara.  
  8. Merekrut guru yang berkualitas dan meningkatkan kapasitas serta kesejahteran mereka.
  9. Perbanyak program kerjasama program literasi di komunitas dengan perguruan tinggi dan organisasi masyarakat sipil yang ada di Kaltara.

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Muhamad Nour

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
Lihat semua