Perilaku Ndableg Sosial = Kejahatan Kemanusiaan #TerserahIndonesia - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Victor Rembeth

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 19 Mei 2020 13:03 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Perilaku Ndableg Sosial = Kejahatan Kemanusiaan #TerserahIndonesia

    Tagar #TerserahIndonesia adalah bentuk frustrasinya anak bangsa yang baik. Namun ‘kejahatan” para pelaku koruptif masa bodoh terhadap krisis Covid-19 ini harus dilawan. Mereka yang masih waras dan menjunjung tinggi empati kemanusiaan harus bergerak. Ini saatnya menghadirkan Gerakan #Pulihbersama dengan mengais sisi ketangguhan bersama

    Dibaca : 3.378 kali

    Ibu Pertiwi menangis lagi? #TerserahIndonesia

    “kulihat ibu Pertiwi sedang bersusah hati, air matanya berlinang..”

    “(Situasi) inilah yg dikhawatirkan....sdh mulai "longgar"....di Semarang ada pemudik yg RDT (+), ada yg Covid (+), akhirnya dikarantina juga...pusat belanja tradisional & modern mulai ramai, mobil plat luar kota sdh hilir mudik di sini....siap-siap ada "lonjakan" kasus dalam 2 Minggu ke depan (semoga tdk terjadi)...sementara itu di RS masih tetap skrining ketat.....kasihan teman-teman yg bertugas di ruang isolasi....tdk pernah kosong”.

    Kutipan di atas adalah dari seorang dokter yang melihat perilaku anak anak bangsa yang sembrono. Ia memberi informasi itu dari sebuah kota yang merupakan gerbang masuknya pemudik ke provinsi Jawa Tengah. Siapapun yang membaca pesan sang dokter di group Whatsapp itu tahu bahwa ia mewakili rasa yang dimiliki oleh para tenaga Kesehatan di negeri tercinta ini.

    Bagaimana tidak, saat ini jumlah dokter di Indonesia kurang dari 200 ribu orang dan dokter paru sebanyak 1.976 orang. Jumlah tersebut tergolong sedikit jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Menurut Doni Munardo kepala Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid 19, "Artinya 1 dokter paru melayani 245 ribu warga Indonesia, kalau kehilangan dokter adalah kerugian besar bagi bangsa.”

    Bukanlah sebuah rahasia ketika bangsa ini, sama dengan belahan dunia yang lain yang mengalami pandemi Covid-19, kita juga dalam kondisi yang rentan untuk terdampak sama  atau bahkan lebih buruk dari negara negara lain. Membaik atau memburuknya kondisi bangsa tidak lepas dari tanggungjawab masyarakat, disiplin pemerintahnya dan sudah tentu dukungan semua pihak termasuk lembaga usaha. Namun koordinasi yang baik lintas sektor dan level masih belum nyata karena fakta lapangan yang masih memberi rasa kuatir bahwa pandemi ini masih akan bertahan lama.

    Sisi komunikasi risiko yang seharusnya dapat menjangkau masyarakat untuk dapat mengubah perilaku yang meningkatkan risiko perlu ditingkatkan. Dalam sebuah kajian pasca merebaknya Covid, sebuah Lembaga kemanusiaan independen, Save The Children,  menunjukkan kondisi Indonesia yang harus segera diperbaiki bila tidak ingin makin memperburuk keadaan. Kajian itu mengatakan bahwa 2 dari 3 orang memiliki kesalahpahaman tentang Covid 19 yang dapat menghambat upaya pencegahan. Bahkan 90% responden merasa memiliki kekebalan tubuh yang baik dan karenanya tidak dapat terinfeksi.

    Sebuah gabungan antara belum mendapat informasi yang benar dan rasa percaya diri yang berlebihan bisa menjadi sebuah pusaran setan untuk hadirnya pandemi yang semakin merusak. Masyarakat oleh karenanya dengan gegabah tetap melakukan kegiatan ke pusat pusat keramaian seperti “business as usual”. Upaya upaya PSBB di dan sekitar Jakarta kelihatannya belum bisa meredam aktifitas masyarakat masuk dan keluar episentrum Covid Indonesia, dengan masih ramai, bahkan macetnya, lalulintas di jalan -jalan protokol.

    Pusat pusat kegiatan perbelanjaanpun  masih ramai dipenuhi mereka yang punya percaya diri yang berlebih ini, tidak akan terinfeksi, dibuktikan dengan sesaknya pengunjung dalam hari hari terakhir ini. Ironis pula bahkan penerbangan lewat bandar Soekarno Hatta masih membludak kendati berbagai persyaratan diberlakukan. Kalau benar pengamatan dokter di atas, maka kelihatannya berbagai upaya mengurangi lalu lintas antar kota dan antar provinsipun masih mengalami kendala dengan semakin meningkatnya kendaraan di lokasi destinasi mudik.

    Ada apa dengan Indonesia? Sebuah pertanyaan yang mungkin tidak dipertanyakan oleh mereka yang menjadi perusak bangsa dengan keteledoran dan kesembronoan mereka. Perilaku masyarakat yang tidak mau tahu dengan orang lain, alias egoisme pribadi yang merusak, terjadi dimana mana. Untuk memuaskan diri sendiri para, maaf, pengkhianat kemanusiaan ini mungkin gembira untuk meningkatkan risiko terpaparnya lebih banyak orang dengan virus jahat ini. Pokoknya saya senang dan masa bodoh dengan orang lain, padahal dengan berperilaku “sok PD” ini merekapun akan dengan mudah menjadi korban selanjutnya.

    Ada apa juga dengan Indonesia? Ketika disana sini banyak dari kita dibuat bingung oleh inksonsitensi dalam peraturan yang dibuat oleh pemangku kebijakan. PSBB memang bukan lock down, tetapi selayaknya pemerintah bisa melakukan peneguran dan  bahkan bisa mengambil penegakan hukum yang kuat dalam berbagai pelanggaran yang terjadi yang meningkatkan risiko. Contoh kasus Jakarta yang merupakan episentrum dan daerah sekitarnya tidaklah bisa dijadikan teladan baik. Lemahnya dan bahkan “baik”nya pemerintah kepada para pelaku peningkatan risiko pandemi adalah sebuah ironi sosial. Berbagai kampanye yang dilakukan justru dilanggar oleh para duty bearers.

    Pertanyaan yang serupa dengan “ada apa Indonesia” juga layak ditujukan kepada pelaku pelaku usaha. adalah wajar jika semua berusaha untuk bertahan dalam situasi ekonomi yang  terdampak Covid 19 ini. Tetapi ketika untuk itu mencari keuntungan sesaat yang akan  menuai kehancuran ekonomi dalam waktu yang panjang bukanlah sebuah tindakan yang bijak. Kisah sebuah gerai makanan cepat saji yang hanya mau menjual nostalgia namun meningkatkan risiko dengan berjubelnya pengunjung adalah kebodohan terbesar dalam era krisis ini. Belum lagi berbagai aktifitas bisnis hili hulur yang seakan tidak mau tahu dengan makin meningkatnya risiko, hanya untuk mencari keuntungan sesaat.

    Risiko Kesehatan dan risiko ekonomi yang memburuk sudah di depan mata. Bangsa yang harusnya disisi pejuang pejuang kemanusian dengan merebaknya berbagai inisiatif empati sosial untuk berjuang bersama dirusak oleh mereka yang sembrono dan tidak tahu diri. Ketangguhan bangsa untuk bisa keluar dari krisis Covid 19 ini diciderai oleh mereka yang melakukan tindakan anti sosial secara masif. Mungkin sudah saatnya sebagian anak bangsa yang mempunyai nurani yang baik melakukan upaya-upaya mempermalukan dan bahkan melakukan sangsi sosial kepada mereka yang ndableg.

    Tanpa bermaksud merasa lebih suci, mereka yang menjadi pelaku peningkatan risiko Covid 19 ini layak disamakan dengan tindakan kejahatan khusus yang koruptif dan kriminal. Karena tindakan tindakan pembangkangan mereka yang sadar dilakukan inilah mereka membunuh sesamanya manusia dan merusak kondisi sosial ekonomi. Merekalah yang bertanggungjawab terhadap frustrasinya para tenaga Kesehatan, PHK masal berkepanjangan dan deretan angka manusia yang menanti ajal. Sungguh sebuah perilaku yang menjadikan Ibu Pertiwi Kembali menangis.

    Tagar #TerserahIndonesia adalah bentuk frustrasinya anak bangsa yang baik. Namun ‘kejahatan” para pelaku koruptif masa bodoh terhadap krisis Covid 19 ini harus dilawan. Mereka yang masih waras dan menjunjung tinggi empati kemanusiaan harus bergerak. Ini saatnya menghadirkan Gerakan #Pulihbersama dengan mengais sisi ketangguhan bersama. Kita dengan bijak melakukan perundungan positif kepada mereka yang melanggar, tapi kita harus tetap menyemangati mereka yang rela #dirumahaja, mereka yang mau #stopmudik dan mereka yang #jagakarak. Kita harus melakukan #tepuktanganuntukIndonesia untuk mereka yang berkarya baik.

    Tindakan positif melawan perilaku negatif dari sebagian warga yang sedang khilaf itu harus dirayakan. Harapannya satu, mereka masih bisa bertobat dan di akhir bulan yang penuh berkah ini merekapun bisa sadar dan kembali ke jalan yang benar.  Sudah saatnya sebagai anak anak bangsa kita tidak lagi membuat Ibu Pertiwi menangis. Saatnya kita memahami #TerserahIndonesia, tapi saatnya juga kita bergerak untuk #PulihBersama.

     

    #PulihBersama  #StopMudik  #DirumahAja #TepukTanganuntukIndonesia

     

    Victor Rembeth



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.