Semoga Masalah PSSI, PT LIB, Narkoba, dan Sengkarut Sepak Bola Nasional Segera Teratasi - Analisa - www.indonesiana.id
x

PSSI-Supartono

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 20 Mei 2020 09:42 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Semoga Masalah PSSI, PT LIB, Narkoba, dan Sengkarut Sepak Bola Nasional Segera Teratasi

    Masalah sepak bola nasional, baik dari PSSI maupun PT LIB terus bergulir, ditambah ada pelaku sepak bola tertangkap kasus narkoba, Bagaimana?

    Dibaca : 596 kali

    Di tengah pandemi corona dan bulan Ramadan, dengan kebijakan belajar, bekerja, dan beribadah di rumah, seharusnya menjadikan siapa pun, baik individu/pribadi, lembaga, instansi, institusi, hingga organisasi melakukan instrospeksi dan refleksi diri. 

    Sayang, bagi Organisasi PSSI dengan turunannya, seperti PT Liga Indonesia Baru (LIB) dan juga para pelaku sepak bola, tetap saja dilanda masalah. 

    PSSI yang tengah menyiapkan diri untuk Piala Dunia U-20 dan program-program mengarah prestasi lainnya, ternyata harus didera masalah akibat Sekjennya mengundurkan diri. Alih-alih segera terpilih Sekjen, Deputi, dan Direktur Keuangan yang baru, gangguan malah datang dari internal PSSI, hingga proses penunjukkan Sekjen baru pun terkendala. 

    Padahal dari para calon yang telah di pilih maupun yang melamar, telah mengerucut kepada empat nama kandidat yang memiliki point tertinggi. 

    Belum kelar proses dan progres pemilihan Sekjen, tiba-tiba berhembus masalah nepotisme di tubuh PT LIB. Buntutnya, media massa langsung membikin kabar bahwa PSSI 1 (Iwan Bule) dan PSSI 2 (Cucu) hubungannya menjadi tidak mesra. 

    Dan, pada ujungnya, sengkarut PT LIB mencapai puncaknya, tatkala sang Direktur Utama PT LIB, Cucu Somantri mengundurkan diri dari jabatannya. Keputusan itu disampaikan Cucu pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Liga Indonesia Baru yang berlangsung pada Senin, 18 Mei 2020 secara virtual. 

    Dalam RUPSLB yang dihadiri oleh semua klub Liga 1, sebagai pemegang saham LIB, direksi dan komisaris PT LIB, serta perwakilan PSSI, Dirut LIB menyampaikan pengunduran dirinya dan seluruh peserta rapat menyetujui. 

    Selain Cucu, tiga komisaris lain juga mengundurkan diri yakni Komisaris Utama Sonhadji, Hasani Abdul Gani dan Hakim Putratama. Bila para pemimpin PT LIB ini ramai-ramai mengundurkan diri, lalu bagaimana nasib Klub Liga1 dan Liga 2? 

    Bila kabarnya subsidi kepada Klub Liga 1 saja PT LIB masih utang, bagaimana subsidi kepada Klub Liga 2? Sejatinya, bila ditangani dengan benar dan profesional, Sepak bola nasional benar-benar sudah menjadi industri. 

    Seharusnya, di tangan PT LIB, kompetisi sepak bola nasional adalah sumber uang. Namun karena PT LIB sekarang di huni oleh para pemimpin yang tidak profesional, maka jangankan PT LIB meraup untung. Memberikan subsidi kepada Klub saja sudah tak mampu. 

    Bila kejadiannya sudah begini, apa lagi yang dapat dilakukan oleh Klub Liga 1 dan Liga 2? Mungkinkah dalam tempo singkat, apalagi dalam situasi pandemi corona, meski Direktur Utama dan para Komisaris nantinya sudah diisi orang baru, PT LIB akan semudah membalik telapak tangan meraup uang miliaran? 

    Belum lagi, ada kemungkinan, karena ditinggalkan oleh para pemimpinnya dalam kondisi berutang, siapa yang akan mau mengisi jabatan Direktur dan Komisaris PT LIB? 

    Belum usai masalah Sekjen di PSSI, ditambah ruwetnya kondisi di PT LIB, ternyata sepak bola nasional juga tambah dirundung duka, pasalnya, kabar tentang peredaran narkoba yang baru terbongkar oleh BNNP Jawa Timur, ternyata dikendalikan oleh Dedi A manik, mantan wasit Liga Indonesia yang kini menjabat Ketua Asosiasi Kota (Askot) PSSI Jakarta Utara. 

    Tertangkapnya Dedi, menjadikan terungkapnya sejumlah fakta di balik bisnis narkoba yang tergolong kelas kakap ini. Sesuai rilis dari tribunnewa.com, Selasa (19/5/2020) Dedi A Manik ditangkap saat mengirim paket sabu sebanyak 5,319 Kilogram ke wilayah Jawa Timur bersama rekannya, Novin Ardian. 

    Sabu-sabu itu di berikan kepada mantan pemain klub Liga I, yaitu eks Kiper Persegres Gresik M Choirun Nasirin alias Cak Imin serta mantan gelandang Persela Lamongan, Eko Susan Indarto (40) warga Pucangro, Lamongan. 

    Namun, atas tertangkapnya Dedi ini, Pengurus Askot PSSI Jakarta Utara, melalui rilis Suratnya bernomor: 021/Askot-JU/V/2020 hari Senin, 18 Mei 2010 yang ditujukan kepada Redaksi Media Televisi, Cetak, dan Online memberikan klarifikasi bahwa Dedi Al Manik bukanlah pengurus aktif maupun non aktif Askot PSSI Jakarta Utara periode 2019-2023. 

    Surat bahkan ditujukan kepada 28 Media, agar meluruskan berita. 

    Bagaimana cerita Klub dan pelaku sepak bola nasional yang kini sama-sama didera pandemi corona? Semoga, masalah PSSI menyoal Sekjen dan program-programnya yang akan dlanjutkan lagi selepas Idul Fitri, akan sukses, sehingga kerja berat PSSI akan kembali dapat ditopang oleh kepengurusan yang utuh, solid, satu visi-misi dan tujuan demi sepak bola nasional berprestasi. 

    Demikian pula masalah sengkarut PT LIN,  akan ada solusi yang bijak baik dalam soal kepemimpinan baru, maupun utang-utang yang wajib segera diselesaikan. 

    Begitupun, masalah pelurusan Askot PSSI Jakarta Utara, juga menjadi berita baik bagi citra sepak bola nasional. 

    Dan, masalah yang sama di setiap Klub Indonesia serta pembinaan sepak bola akar rumput,  akan dapat teratasi dan berjalan normal dan benar seusai pandemi corona. Aamiin. 



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.