Wisata Ziarah bagi Penganut Sekularisme - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Pemandu Wisata di Taman Sari

Priscilla Meyda

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2020

Rabu, 20 Mei 2020 08:46 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Wisata Ziarah bagi Penganut Sekularisme

    Dibaca : 545 kali

    Wisata ziarah atau juga dikenal dengan istilah pilgrimage merupakan salah satu bentuk perjalanan paling tua yang telah dilakukan oleh manusia sejak zaman dahulu kala. Bentuk wisata ziarah terus berkembang pesat hingga saat ini.

    UNWTO mencatat bahwa 300 juta turis secara global melakukan perjalanan ziarah dan religi setiap tahunnya. Angka ini menunjukkan bahwa hampir seperempat jumlah kedatangan internasional memiliki tujuan untuk berwisata ziarah dan religi. Selama ini, wisata ziarah identik dengan perjalanan ke tempat religius dengan alasan yang berhubungan dengan kesucian dan kesakralan tempat tersebut. Beberapa situs ziarah yang terkenal di dunia hingga saat ini misalnya adalah ziarah umat Kristiani ke Yerusalem, Ibadah Haji umat Muslim ke Mekkah, serta ziarah umat Hindu ke Sungai Gangga.

    Saat ini, wisata ziarah tak lagi selalu menjadi sebuah fenomena yang berhubungan dengan religiusitas. Hal terkait perubahan dalam pemaknaan perjalanan ziarah telah ditulis oleh banyak peneliti di dunia, salah satunya adalah Noga Collins-Kreiner. Dalam tulisannya yang bertajuk Researching Pilgrimage: Continuity and Transformations (2010), ia mengemukakan bahwa saat ini ada dua jenis wisatawan religi, yaitu the religious dan the secular.

    The religious yang dimaksud di sini merupakan tipe wisatawan ziarah tradisional yang melakukan perjalanan dengan motif utama keagamaan atau keimanan. Wisatawan religius biasanya percaya bahwa lingkungan fisik tertentu memiliki kekuatan tersendiri. Saat berada di situs tertentu atau menyentuh benda tertentu yang dianggap suci, wisatawan jenis ini percaya bahwa mereka dapat diubahkan, dimurnikan, dibaharukan, ataupun terlahir kembali. Kepercayaan terhadap hal-hal berbau takhayul seperti ini menjadi ciri khas wisatawan religius.

    Bertentangan dengan tipe the religius, peziarah sekuler cenderung memaknai kesakralan dengan mengaitkannya dengan berbagai situs non-religi. Secara harafiah, sekuler memiliki makna sesuatu yang bersifat duniawi dan bukan bersifat keagamaan atau kerohanian.

    Fenomena peziarah sekuler ini muncul akibat banyaknya individu dengan pemikiran yang lebih rasional. Salah satu dasar terjadinya fenomena tersebut tentu adalah perkembangan dunia yang semakin maju dalam budaya dan teknologinya. Pada era seperti saat ini, banyak individu memilih untuk tidak memiliki dasar keimanan pada agama tertentu.

    Namun, sebagai manusia, naluri untuk mencari jati diri dan identitas dari keberadaan mereka di dunia tetaplah ada. Hal ini yang kemudian menjadi alasan peziarah sekuler untuk melakukan perjalanan dengan tujuan kebatinan.

    Jika tidak terafiliasi dengan agama tertentu, lantas kemana peziarah sekuler melakukan perjalanan ziarah?

    Perbedaan antara peziarah sekuler dengan turis biasa telah cukup lama menjadi perdebatan beberapa peneliti dalam bidang ini. Sekilas, kegiatan ziarah sekuler yang melibatkan kegiatan non-religi dan memilih situs non-religi sebagai tujuan ziarah terlihat tidak memiliki perbedaan dengan wisata biasa pada umumnya.

    E. Cohen dalam beberapa tulisannya pernah menyebutkan bahwa peziarah sekuler cenderung memiliki motivasi untuk mencari sebuah makna pada dirinya secara mendalam dengan menjawab berbagai pertanyaan yang timbul dari dalam dirinya saat berkunjung ke sebuah situs tertentu. Motivasi dan dorongan inilah yang kemudian membedakan peziarah sekuler dengan turis biasa yang cenderung hanya memiliki motivasi untuk mengisi waktu luang ataupun bersenang-senang.

    Beberapa penulis lain menggambarkan perbedaan peziarah sekuler dengan turis biasa sebagai sebuah kontinum, dengan peziarah sebagai sebuah kutub dan turis biasa sebagai kutub yang lainnya. Meskipun begitu, saat ini perbedaan ini juga sudah mulai banyak mengalami pemudaran akibat kompleksitas motivasi pengunjung yang terus berkembang.

    Perbedaan peziarah sekuler dengan turis biasa memang tidak bisa dilihat secara kasat mata. Peziarah sekuler menaruh makna dan arti tersendiri pada sebuah situs mengenai nilai kesakralan tempat tersebut, dimana hal tersebut tentu datang dari dirinya sendiri. Mengutip sebuah pernyataan dari Noga Collins-Kreiner, “No place is intrinsically sacred …. pilgrimages and their attendant landscapes, like all places, are ‘social constructions’ which do not simply emerge but undergo ‘sacralitation’”.

    Dari kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa pada hakekatnya tidak ada tempat yang tercipta suci. Peziarah sekuler menciptakan kepercayaan serta makna sebuah tempat berdasarkan pengalaman pribadi yang mereka rasakan, sedangkan peziarah religius mengunjungi situs ziarah yang pemaknaannya telah lama terbentuk di masyarakat.

    Sebagai penutup, ada satu hal menarik yang dapat saya tarik dari fenomena tersebut. Ketenangan batin dan perasaan suci biasanya menjadi alasan utama seseorang melakukan perjalanan ziarah. Namun, selama ini kegiatan ziarah, terutama di Indonesia, hanya identik dengan kegiatan keagamaan dan kerohanian.

    Belajar dari the seculars, ketenangan batin justru dapat kita peroleh saat kita berani melepaskan identitas yang selama ini melekat pada diri kita dan kembali merefleksikan tujuan kita di dunia ini dengan “mengasingkan diri”. Tidak harus menjadi tidak beragama, akan tetapi cara ini mungkin dapat menjadi ide yang bagus untuk dilakukan saat kalian merasa bingung dengan tujuan hidup kalian.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.