Inilah Kisah PT LIB hingga Direktur dan Komisaris Undur Diri - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

pssi

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 20 Mei 2020 18:55 WIB
  • Peristiwa
  • Berita Utama
  • Inilah Kisah PT LIB hingga Direktur dan Komisaris Undur Diri

    Dibaca : 299 kali

    Sejak Direktur dan para Komisaris PT Liga Indonesia Baru (LIB) mengundurkan diri, masyarakat khususnya publik sepak bola nasional menjadi bertanya-tanya, mengapa hal itu sampai terjadi? 

    Berdasarkan informasi akurat yang saya terima pada Selasa (19/5/2020), ada beberapa hal yang nampaknya publik sepak bola nasional harus tahu, sehingga tidak gagal paham mengapa para punggawa PT LIB malah melingsirkan diri. 

    Seperti sudah saya kemukakan dalam artikel sebelumnya, pada ujungnya, sengkarut PT LIB mencapai puncaknya, tatkala sang Direktur Utama PT LIB, Cucu Somantri mengundurkan diri dari jabatannya. 

    Keputusan itu disampaikan Cucu pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Liga Indonesia Baru yang berlangsung pada Senin, 18 Mei 2020 secara virtual. 

    Dalam RUPSLB yang dihadiri oleh semua klub Liga 1, sebagai pemegang saham LIB, direksi dan komisaris PT LIB, serta perwakilan PSSI, Dirut LIB menyampaikan pengunduran dirinya dan seluruh peserta rapat menyetujui. 

    Selain Cucu, tiga komisaris lain juga mengundurkan diri yakni Komisaris Utama Sonhadji, Hasani Abdul Gani dan Hakim Putratama. Mundurnya Cucu, selain karena harapan tidak adanya rangkap jabatan, dalam metting di RUPSLB, banyak klub yang meminta jatah subsidi, sementara PT LIB malah mau memangkas jatah subsidi. 

    Dalam meeting pun, saat pihak klub bertanya dan menyerang PT LIB, semuanya tidak ada yang bisa menjawab.

    Di sinilah awal keseruan dalam meeting terjadi. Hingga pada akhirnya mencuatlah  fakta bahwa dalam tubuh PT LIB memang dihuni dan dikendalikan oleh individu maupun tim yang tidak kompeten. 

    Buntutnya, banyak kasus yang tidak transparan hingga akhirnya memicu agar pejabat di PT LIB di bongkar. Selain itu, yang lebih parah, sang Direktur, Cucu Somantri banyak melakukan blunder. 

    Di antaranya kasus nepotisme yang memberikan kedudukan kepada anaknya di PT LIB. Lalu, banyak kebijakan dan keputusan yang diambil, namun tanpa metting dan sepengetahuan pemegang saham. 

    Contoh kebijakan yang tanpa meeting adalah pengurangan subsidi untuk klub, pemberhentian liga sepihak, dan ada 3 direktur yang menjadi permasalahan di PT LIB. 

    Jelas hal ini sangat jauh dari profesionalitas. Menyoal subsidi klub yang seharusnya sebesar Rp. 5.25 miliar, ternyata PT LIB baru membayar Rp 500 juta. Bahkan kabarnya, dana yang dibayarkan hasil talangan dari stasiun televisi, sehingga PT LIB baru bayar ke stasiun tersebut sebesar Rp 20 miliar.

    Terkait soal subsidi, bahkan PT LIB juga sempat bersurat kepada PSSI, yaitu surat bernomor: 187/LIB-COR/V/2020, menyoal permintaan pengurangan subsidi kepada klub, klub Liga 1 dari Rp 520 juta menjadi, Rp 350 juta, dan klub Liga 2 dari Rp 250 juta menjadi Rp 100 juta. Selain itu, PSSI juga menyebut ada sosok yang selama ini menjadi sumber masalah bagi hubungan PSSI dan PT LIB. Siapa kah dia? Nanti publik akan tahu.

    Namun, PSSI menolak melalui surat bernomor: 1098/UDN/135/V-2020. Akibat hal ini, ada klub yang direksinya sampai sudah menggadaikan BPKB untuk mengatasi keuangannya, dan ada klub yang juga sudah mengajukan tuntutan ke ranah hukum karena subsidi PT LIB macet dan tidak dapat menggaji pemain. 

    Dengan demikian, juga membuka mata, bahwa sejatinya klub-klub di Indonesia juga masih belum mampu hidup mandiri, karena masih sangat bergantung pada subsidi. 

    Seharusnya sepak bola nasional yang sudah menjadi industri, di tangan PT LIB, bila di nakodai dengan benar dan profesional, sepak bola nasional itu=uang. Tetapi, di tangan para pejabat yang mengundurkan diri, persoalan rugi laba menjadi sangat berantakan, sebab mereka tak memiliki strategi dan planning yang benar. 

    Selain masalah bobroknya pengendalian PT LIB, dalam meeting juga mengemuka dan dorongan kandidat untuk mengisi pejabat LIB seperti Ferry Paulus, Maruarar Sirait dan Reza Lubis. 

    Menurut pihak PSSI, andai PT LIB dikendalikan oleh anak-anak muda macam Ahmad Syauqi Soeratno (Syauqi/ASS), Rezza Mahaputra Lubis (Rezza/RML), Aldi Karmawan (Aldi/AL), dan Budi Setiawan (Budi/BS), PT LIB akan moncer. 

    Nasi sudah menjadi bubur, dengan kondisi ini, biarlah PT LIB mencari solusi sendiri dan empat anak muda tersebut lebih baik bergabung di PSSI. 

    Kira-kira siapa yang akan duduk menjadi direktur dan komisaris baru di PT LIB dan persoalan tunggakan subsidi klub teratasi? 

    Hanya Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dapat menentukannya. Andai saja, sejak awal hubungan PSSI dan PT LIB mesra, dan para punggawa di PT LIB kompeten, profesional, dan tidak rangkap jabatan, yakin nasib klub tidak akan seperti sekarang. 


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.