Darurat Covid-19, Begini Antisipasi Masjid Agung Jawa Tengah Sebagai Destinasi Wisata Religi - Travel - www.indonesiana.id
x

Seysha Airunisa D

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Mei 2020

Rabu, 20 Mei 2020 17:12 WIB
  • Travel
  • Berita Utama
  • Darurat Covid-19, Begini Antisipasi Masjid Agung Jawa Tengah Sebagai Destinasi Wisata Religi

    Dibaca : 840 kali

    Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) yang berlokasi di Jl. Gajah Raya, Sambirejo, Semarang, Jawa Tengah ini merupakan salah satu ikon wisata religi di Indonesia. Pesona arsitektur dan ragam kegiatan keagamaan yang diadakan di MAJT telah banyak mengundang wisatawan dari berbagai daerah untuk beribadah sekaligus berwisata. Buktinya, Masjid Agung Jawa Tengah setiap harinya selalu padat dan tidak pernah sepi dari pengunjung.

    Sayangnya, kemunculan wabah Covid-19 telah menghambat aktivitas wisata religi di Masjid Agung Jawa Tengah. Tidak dapat dipungkiri bahwa jenis wisata tersebut seringkali melibatkan banyak orang dalam aktivitasnya. Terlebih lagi, kebanyakan dari peserta wisata religi berkunjung secara berbondong-bondong dalam satu waktu yang tentunya dapat meningkatkan risiko penyebaran Covid-19.

    Melihat dari latar belakang demografisnya, wisatawan religi banyak didominasi oleh kalangan usia tua. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, orang tua khususnya dengan usia di atas 60 tahun dinilai memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya. 

    Penyebabnya tidak lain karena rendahnya imunitas mereka yang disebabkan oleh faktor usia. Selain itu, adanya kemungkinan wisatawan muda sebagai silent carrier atau pembawa virus tanpa gejala perlu menjadi pertimbangan suatu situs religi untuk tanggap dalam mencegah Covid-19.

    Sebagai salah satu destinasi wisata religi terpopuler di Indonesia, kebijakan serta penerapan protokol kesehatan selama pandemi ini menjadi hal krusial yang perlu dilakukan. Dalam rangka antisipasi penyebaran wabah Covid-19, segenap pengurus Masjid Agung Jawa Tengah untuk sementara waktu menghentikan beberapa unit operasional. 

    Saat ini, unit usaha selain hotel di sekitar Masjid Agung Jawa Tengah yang berkaitan dengan keramaian sudah tidak lagi beroperasi. Namun, sebagian unit umum hingga unit keamanan dan kebersihan masih berjalan dengan normal.

    Seiring dengan munculnya instruksi karantina wilayah dan Work from Home dari pemerintah, pengelola Masjid Agung Jawa Tengah juga telah berupaya untuk melakukan pembatasan pengunjung dan meniadakan segala bentuk kegiatan ibadah serta wisata yang mengundang massa sesuai dengan fatwa MUI No. 14 tahun 2020 mengenai Penyelenggaran Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19.

    Menggandeng Radio DAIS 107.9 FM dan TVKU Semarang, Masjid Agung Jawa Tengah setiap harinya menghadirkan kajian spesial ramadhan secara online yang terbagi menjadi tiga sesi diantaranya Kajian Bakda Dzuhur, Kajian Interaktif, dan Kajian Menjelang Buka Puasa. Melansir dari akun official Instagram MAJT, kajian tersebut dikemas secara menarik dengan topik yang berbeda di setiap pertemuannya dengan melibatkan para pembicara yang kredibel.

    Menariknya, upaya MAJT melalui kajian online tersebut tidak hanya serta merta ditujukan sebagai ajang penyampaian dakwah, tetapi juga sebagai media sedekah bagi seluruh masyarakat yang ingin berkontribusi langsung melalui akun peduli sesama.

    Kepala Bagian Humas dan Pemasaran Masjid Agung Jawa Tengah, Beny Arief Hidayat (5/6/20), menyatakan bahwa Masjid Agung Jawa Tengah secara aktif juga telah banyak terlibat dalam aksi-aksi sosial tanggap Covid-19. 

    “Aksi-aksi sosial banyak dilaksanakan sesuai dengan bidang yang ada seperti edukasi ke masyarakat dan pembagian sembako melalui Satgas Covid-19 khusus yang dibentuk ataupun organisasi otonomi di bawah MAJT yang juga melaksanakan program kerja serupa,” tandasnya.

    Secara masif, beberapa organisasi kepengurusan di bawah MAJT seperti RISMA JT (Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah) dan LAZISMA (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh) juga bergerak bersama-sama dengan masyarakat setempat.

    RISMA JT selama pandemi ini setidaknya telah bekerja sama dengan pemuda masjid di luar MAJT untuk melakukan penyemprotan disinfektan ke beberapa masjid di Kota Semarang dan membagikan cairan disinfektan ke seluruh masjid di Jawa Tengah bersama dengan DMI (Dewan Masjid Indonesia).

    Mengingat pariwisata merupakan multisektor, terhentinya aktivitas keagamaan dan wisata religi di MAJT akibat Covid-19 juga sangat berpengaruh bagi pemasukan seluruh pelaku wisata. “Secara ekonomi, adanya wabah ini sangat berdampak sekali bagi MAJT dan pedagang sekitar. Boleh dibilang, di bulan Rajab dan Ruwah ini seharusnya menjadi puncak kunjungan bagi wisata religi. Adanya kejadian ini otomatis membuat seluruh kegiatan menjadi terhenti,” ujar Benny.

    Maka dari itu, LAZISMA sebagai organisasi yang bergerak dalam filantropi juga melakukan pendistribusian bantuan kepada masyarakat terdampak Covid-19 khususnya di lingkungan sekitar Masjid Agung Jawa Tengah. Bantuan berupa hand sanitizer dan paket sembako tersebut diberikan secara langsung kepada UMKM binaan LAZISMA, pegawai masjid, dan para pelaku wisata.

    Melihat dari kondisi di MAJT, Bulan Ramadhan ini seharusnya menjadi momen spesial bagi sebagian besar masyarakat muslim untuk memperdalam agama dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kegiatan religi yang biasanya dilakukan secara komunal seperti tarawih, buka bersama, pengajian, tadarus, dan kegiatan wisata seperti ziarah mau tidak mau harus ditunda ataupun dijalankan di rumah demi menjaga kesehatan bersama dalam masa pandemi Covid-19 ini.

    Saat ini, meski rutinitas kegiatan religi tidak dapat dilakukan sebagaimana mestinya, sebagai masyarakat muslim tetap harus bersyukur, berikhtiar, serta berdoa agar keadaan semakin membaik. Ibadah-ibadah di Bulan Ramadhan sebisa mungkin harus tetap dilakukan agar senantiasa mendapat perlindungan dan pahala dari Gusti Allah.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Admin

    3 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 678 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).