Menemukan Keseimbangan Spiritualitas Selama Pandemi Covid-19 - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Spiritualitas dapat diibaratkan sebagai api dalam lentera yang dimiliki setiap orang sejak lahir.

RIRIS RINONCE HAPSARI

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Mei 2020

Kamis, 21 Mei 2020 06:30 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Menemukan Keseimbangan Spiritualitas Selama Pandemi Covid-19

    Belum banyak pandemi Covid-19 yang tengah kita alami ini dilihat dari aspek spiritualitas masyarakat. Pasdahal aspek spiritualitas terkait dengan kesehatan mental dan fisik manusia, khususnya stres. Di artikel ini pembaca bisa menemukan upaya untuk menyeimbangkan spiritualitas selama pandemi yang dapat dilakukan oleh semua orang, tidak terpengaruh oleh aspek keagamaan orang tersebut.

    Dibaca : 560 kali

    Penyakit muncul dalam setiap sejarah peradaban. Tidak ada masa yang benar-benar tanpa penyakit. Lebih lanjut, pandemi adalah penyakit yang sangat menular sehingga menyebar dengan cepat, bahkan hingga mempengaruhi sebagian besar populasi manusia pada masa tersebut. Ada dua jenis respon yang muncul dalam menghadapi pandemi ini, yaitu respon fisik dan respon mental.

    Sejak kasus pertama Covid-19 di Indonesia dicatat oleh WHO pada 2 Maret 2020, berbagai kebijakan telah dikeluarkan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk menghadapi pandemi ini. Bahkan, Presiden Joko Widodo mengeluarkan wacana penetapan darurat sipil yang akan mendampingi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara nasional. Sementara itu, kebijakan social distancing mengakibatkan institusi-institusi seperti kantor, sekolah, maupun perguruan tinggi mewajibkan karyawannya bekerja dari rumah (work from home). Hal itu merupakan tanggapan pemerintah berupa respon fisik terhadap pandemi Covid-19.

    Sayangnya, kebijakan tersebut menyebabkan penurunan produktivitas kerja. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat setidaknya 100 ribu perusahaan di Indonesia terkena dampak pandemi Covid-19 sehingga harus mem-PHK dan merumahkan hampir 2 juta pekerja. Beban finansial yang datang tiba-tiba tersebut membuat banyak pekerja menjadi tertekan. Selain itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia juga mendapat banyak laporan mengenai kondisi para pelajar dan mahasiswa yang stress karena kegiatan belajar daring.

    Stress adalah perasaan ketegangan atau tekanan emosional. Hal itu bisa datang dari peristiwa atau pemikiran apa pun yang menyebabkan perasaan frustrasi, marah, atau gugup. Stress merupakan respon fisik dari kesehatan mental yang terganggu, dalam hal ini berupa respon mental yang muncul akibat pandemi Covid-19. Oleh sebab itu. stress yang berkepanjangan akan mempengaruhi kesehatan fisik dengan menurunkan daya tahan tubuh. Padahal selama pandemi ini berlangsung, hanya kekebalan tubuh yang bisa menyelamatkan dari Covid-19 karena belum ditemukan vaksin yang tepat. 

    Kondisi mental berkaitan erat dengan spiritualitas seseorang, yaitu kondisi jiwa yang ada dalam tubuh manusia. Meskipun begitu, spiritualitas kerap diabaikan dalam kehidupan sehari-hari membuat banyak orang merasa kelelahan secara mental, putus asa, dan mengalami krisis eksistensi diri yang berkelanjutan. Kini ketika dihadapkan dengan kematian dan ketakutan akan pandemi Covid-19, mau tidak mau kondisi spiritual harus lebih diperhatikan agar kondisi mental tidak mengalami stress yang berlebihan.

    Hal tersebut diperhatikan pula oleh para pemimpin spiritualitas atau pemuka agama. Akan tetapi, harus dipahami bahwa lokasi yang berbeda dipengaruhi pandemi pada waktu dan tingkat yang berbeda-beda pula sehingga menyebabkan para pemimpin spiritual agama membuat respon yang bervariasi sesuai dengan perkembangan pandemi dan kebijakan yang muncul di daerah setempat. Durasi pandemi yang panjang membuat Covid-19 memaksa semua agama di Indonesia beradaptasi dalam merayakan hari-hari besar keagamaannya. Tentunya hal itu berpengaruh terhadap spiritualitas pengikut agama tersebut secara komunal karena tidak dapat mengadakan perayaan seperti biasa.

    Meskipun begitu, perlu diingat bahwa sebenarnya jiwa merupakan bagian paling intim dari manusia dan dimiliki oleh setiap individu. Oleh sebab itu, peningkatan kondisi spiritualitas tidak harus dilakukan secara bersama-sama dan tidak akan tercapai dengan melarikan diri dari kenyataan, melainkan dengan merefleksi diri sendiri.

    Selama masa pandemi ini, sebaiknya kita menerima kenyataan pahit dari dampak-dampak negatif Covid-19 yang mendorong perasaan takut, khawatir, dan panik. Akan tetapi, jangan terlalu berlarut-larut memikirkan perasaan negatif yang timbul karena dapat merusak keseimbangan spiritual.

    Oleh sebab itu, perlu dipahami bahwa semua orang sedang mengalaminya, kita berada dalam badai yang sama sehingga tidak perlu spekulasi metafisik tentang kehidupan selama pandemi. Hal tersebut akan membalikkan kecenderungan spiritual yang paling merusak dalam masyarakat modern, yaitu dorongan putus asa untuk melarikan diri.

    Lebih lanjut, keseimbangan spiritual juga dapat dicapai secara mandiri dengan memberikan catatan pada diri sendiri mengenai kebaikan apa yang dapat dilakukan dan telah dilakukan hari ini. Tindakan sederhana tersebut sering diabaikan, tetapi terbukti berhasil menyeimbangkan spiritualitas manusia.

    Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dalam setiap peradaban dikisahkan bahwa kedamaian dan ketenangan batin hanya tersedia dengan melihat ke dalam diri sendiri, terlepas dengan kaitannya pada agama apa pun. Kepekaan terhadap diri sendiri merupakan pintu gerbang menuju kedamaian dan kegembiraan batin yang akan menguatkan mental sehingga daya tahan fisik lebih kuat selama masa pandemi. 



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.