Ziarah Tidak Selalu Tentang Agama - Pilihan - www.indonesiana.id
x

sumber: qureta.com

Ardian Pradipta

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Mei 2020

Kamis, 21 Mei 2020 06:52 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Ziarah Tidak Selalu Tentang Agama

    Dibaca : 371 kali

    Ziarah adalah salah satu kegiatan yang lazim dilakukan oleh masyarakat untuk mengunjungi tempat-tempat yang dianggap memiliki kesakralan tertentu bagi seseorang. Beberapa bentuk ziarah yang paling sering ditemui pada masyarakat Indonesia adalah pergi menunaikan ibadah haji serta umroh, berdoa di Goa Maria, mengunjungi para dewa di klenteng, mengunjungi makam pemuka agama, dan lain-lain.

    Semua kegiatan tersebut didasari oleh kepercayaan mereka terhadap agama tertentu sehingga mereka menganggap kunjungan yang mereka lakukan adalah suatu hal yang sakral dan wajib dilakukan. Akan tetapi, saat ini telah tumbuh kegiatan-kegiatan ziarah yang tidak didasari oleh alasan-alasan agama. Kegiatan tersebut dapat disebut sebagai wisata ziarah non-religi atau sekuler.

    Ziarah sekuler dapat terjadi karena seseorang memiliki beberapa faktor yang mengaitkan dirinya dengan suatu tempat tanpa alasan keagamaan. Dua orang peneliti bernama Kenneth Hyde dan Serhat Harman memaparkan bahwa kegiatan ziarah tidak selalu berdasarkan religiusitas seseorang tetapi berhubungan dengan minat, keinginan, serta kebudayaan seseorang.

    Ziarah sekuler dapat dicontohkan seperti mengunjungi tempat terjadinya tragedi 9/11, mengunjungi lokasi bersejarah pembantaian G30S/PKI, mengunjungi makam Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno, mengunjungi makam artis terkenal, dan bahkan mengunjungi rumah ibadah juga dapat dikategorikan sebagai ziarah sekuler apabila motivasi seseorang tersebut bukan untuk beribadah.

    Perluasan motivasi ziarah terjadi karena berkembangnya budaya di masyarakat. Ziarah tidak lagi dianggap sekadar melakukan kegiatan keagamaan tetai masyarakat memandang ziarah sebagai bentuk apresiasi, observasi, serta rekognisi dari suatu nilai yang terlekat pada suatu lokasi ziarah. Akibatnya, muncul banyak ziarah non-religius yang dilakukan oleh banyak orang.

    Salah satu contohnya adalah lokasi peperangan Galipolli di Turki yang didatangi oleh wisatawan dari Australia dan Selandia Baru karena mereka ingin mengenang dan mengingat anggota keluarganya yang tewas di medan perang tersebut. Peperangan di Gallipoli juga menjadi salah satu peristiwa penting di dalam sejarah serta budaya Australia dan Selandia Baru sehingga banyak orang sengaja datang ke lokasi tersebut.

    Menurut penelitian yang dilakukan di lokasi tersebut, sebagian besar orang yang datang ke lokasi tersebut adalah masyarakat Australia, Selandia Baru, dan Turki. Motivasi setiap orang pun berbeda antara satu dengan yang lain. Ada beberapa orang yang memiliki motivasi untuk mengenang kejadian sejarah dan ada pula yang datang hanya untuk sekadar berlibur.

    Jenis-jenis Motivasi Non-religius dalam Berziarah

    Motivasi merupakan salah satu penentu seorang calon wisatawan untuk menentukan tujuan Ia akan pergi. Motivasi dapat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu pull factors dan push factors. Keduanya memiliki peranan penting dalam penentuan pemilihan lokasi wisata. 

    Pull factors merupakan faktor-faktor yang datang dari luar diri manusia, seperti ketersediaan atraksi, ketersediaan amenitas, ketersediaan aksesibilitas, keamaan, harga, dan lain-lain. Sementara push factors merupakan faktor pendorong yang datang dari dalam diri manusia, seperti minat, umur, kebiasaan, kebudayaan, jumlah pendapatan, dan bahkan agama atau kepercayaan yang dianut.

    Motivasi non-religius datang dari dalam diri manusia yang dapat dipengaruhi oleh banyak hal, seperti minat dan sejarah sosial-budaya yang dialami oleh orang tersebut. Contoh dari motivasi sekuler tersebut adalah untuk mencari ketenangan suasana, mencari jati diri, mencari aktualisasi diri, ingin mendapatkan pengalaman magis atau sakral walaupun tidak terafiliasi dengan agama apapun, ingin merasakan nostalgia atau mengenang suatu kejadian atau seseorang, ingin mengapresiasi konstruksi keindahan suatu bangunan, atau ingin mempelajari suatu kebudayaan tertentu.

    Tempat-tempat tujuan ziarah mereka pilih sebagai tujuan berziarah juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Ground Zero dikunjungi banyak orang setiap tahunnya karena masyarakat Amerika Serikat ingin mengenang dan menghormati orang-orang yang tewas pada saat tragedi 9/11.

    Hal tersebut juga terjadi di lokasi Lubang Buaya. Para pengunjung memiliki motivasi untuk mempelajari mengenai sejarah kelam yang dimiliki oleh Indonesia. Contoh lainnya adalah banyaknya orang yang berziarah ke makam mendiang Olga Syahputra karena rindu akan kehadirannya di dunia hiburan Indonesia.

    Faktor utama yang menjadi alasan bagi sebagian orang untuk melakukan kegiatan ziarah ini adalah keinginan untuk mengenang dan mengingat suatu kejadian atau seseorang yang dikenal di suatu lokasi. Faktor lainnya adalah keinginan seseorang untuk melepaskan “identitas”-nya dan mencari ketenangan serta aktualisasi diri di berbagai lokasi religi yang dikunjungi. Hal tersebut dapat juga berupa keinginan seseorang untuk mengalami kejadian-kejadian sakral yang belum pernah dialami sebelumnya.

    Perkembangan ziarah sekuler akan memengaruhi pangsa pasar di bidang pariwisata religi. Bertumbuhnya minat masyarakat untuk sekadar berlibur ke suatu tempat ibadah dan situs bersejarah lainnya menuntut para pengelola untuk serius dalam mengelola daya tarik wisata tersebut.

    Indonesia memiliki potensi wisata religi yang besar karena memiliki banyak agama serta kepercayaan yang dianut oleh masyarakat. Akan tetapi, kita semua berharap bahwa daya tarik wisata ziarah tersebut tidak dikomodifikasi secara berlebihan sehingga menghilangkan nilai religiusitas yang melekat, karena pada awalnya memang keinginan dan keterikatan seseorang terhadap hal-hal sakrallah yang menyebabkan bertumbuhnya wisata ziarah di Indonesia serta dunia.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Admin

    3 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 678 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).