Membangun Anti-Bodi, Terapi Kekebalan Tubuh Menggunakan IgY Antiserum Covid-19 - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Existing Technology and Proven. Proses produksi pengolahan IgY (dari kuning telur ayam petelur) dimungkinkan dalam jumlah besar secara efisien (≈ 100 mg total IgY / telur).

Andrea Hynan Poeloengan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 21 Mei 2020 15:16 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Membangun Anti-Bodi, Terapi Kekebalan Tubuh Menggunakan IgY Antiserum Covid-19

    Dibaca : 459 kali

    PENDAHULUAN 

    Beberapa hari terakhir ini, University of Texas meyakini bahwa Immunotherapy (Terapi Anti-Bodi) terhadap pasien Covid-19 melalui anti-bodi hewan Llama (Daniel Wrapp, et.all pre-proof: 2020 dan Leeying Wu, et.all: 2020). Melalui hewan Camelid (Llama, Unta) ini dapat memproduksi antiserum Covid-19 yang digunakan untuk imunisasi pasif pada pasien Covid-19 maupun sebagai propilaksis atau pencegahan bagi pekerja kesehatan yang menangani pasien Covid-19. 

    Cara berpikir sama dengan di Indonesia, walau menggunakan media yang berbeda dan kini sudah memasuki bulan ke-3, yaitu Prakarsa Percepatan Pembuatan Immunoglobulin Yolk Antiserum Covid-19.

    Apakah Indonesia mampu membuat Terapi Anti-Bodi untuk mengatasi Covid-19?

    Jawab: Sangat Mampu.

    Bagaimana dengan pengadaan dan pemeliharaan hewan Camelid seperti Llama dan Unta untuk membuat Terapi Anti-Bodi untuk mengatasi Covid-19?

    Jawab: Dengan potensi khasiat yang sama, Indonesia tidak perlu menggunakan Camelid seperti Llama dan Unta untuk membuat Terapi Anti-Bodi untuk mengatasi Covid-19. Prakarsa Percepatan Pembuatan Immunoglobulin Yolk Antiserum Covid-19 adalah solusinya (IgY Antiserum Covid-19).

    Apa itu Prakarsa Percepatan Pembuatan Immunoglobulin Yolk Antiserum Covid-19 (IgY Antiserum Covid-19)?

    Jawab: Prakarsa Produksi IgY Antiserum Covid-19 ini bukanlah penelitian, melainkan pengembangan produksi IgY dan Antiserum yang sudah terlebih dulu ada untuk penyakit lain, tetapi khusus Prakarsa Produksi IgY Antiserum Covid-19 diperuntukan bagi penanganan COVID 19.

    Apa itu Immunoglobulin Yolk Antiserum Covid-19 (IgY Antiserum Covid-19)?

    Jawab: Antiserum yang merupakan Imunisasi Pasif dengan menggunakan Antibodi yang  diproses dari Kuning Telur Ayam Petelur, yang telah terlebih dahulu diimunisasi dengan Virus Covid-19 yang telah di-inaktifasi-kan (‘matikan”).

    Bagaimana kekuatan IgY Antiserum Covid-19 melawan infeksi Virus dalam tubuh jika dibandingkan dengan Vaksin?

    Jawab: Kekebalan (respon antibody) melalui hasil Imunisasi Pasif (pengobatan dengan Antiserum) terhadap infeksi virus bisa secara langsung sesaat setelah diaplikasikan ke tubuh manusia. Sedangkan vaksinasi melalui vaksin (adalah Imunisasi Aktif) hanya bisa digunakan pada orang yang sehat dan tubuhnya mempunyai respon terhadap vaksin yang baik. Lebih lanjut, kekebalan yang diharapkan dari vaksin (sebagai respon antibody) baru muncul minimal 1 bulan setelah dilakukan vaksinasi.

    Mungkin ada keraguan tentang produk IgY Antiserum Covid-19 (Made in Indonesia), sehingga dianggap layak untuk dikritisi bahwa diperlukan penelitian mendalam untuk menggunakan Teknologi IgY dan Antiserum dalam mengatasi Pandemic Covid-19 di Indonesia.

    Masa sih bisa membuat Antiserum dari Kuning Telur yang diproses? Betulkah bisa demikian?

    VAKSIN BUKAN PENGOBATAN BAGI YANG TERINFEKSI COVID-19 

    Upaya menekan mortalitas (kematian) terhadap orang yang terinfeksi Covid-19 ada 2 pilihan terapi, yaitu menggunakan:

    1. Drugs (Obat)
    2. Antibodi (Imunisasi Pasif)

    Loh, kok bukan menggunakan Vaksin?

    Karena orang sakit, ya di obati, di terapi, bukan di cegah untuk tidak sakit dengan menggunakan vaksin.

    Vaksin (adalah Imunisasi Aktif) merupakan salah satu upaya pencegahan dari penyakit, diperuntukan bagi orang yang sehat. Vaksin adalah upaya memasukan virus aktif yang dilemahkan atau bagian dari virus yang telah diproses sebelumnya. Vaksin dimasukan ke dalam tubuh untuk menimbulkan kekebalan bagi yang sehat, agar tubuhnya dapat melawan jika virus tersebut menyerang dirinya.

    Bisa dibayangkan, jika orang sakit diberikan virus aktif yang dilemahkan atau bagian dari virus yang telah diproses sebelumnya, maka “ibarat api dalam sekam yang tersiram bensin”. Bukan akan jadi sehat, tetapi yang sakit akan tambah sakit, bisa jadi meninggal dunia.

    REPURPOSING OBAT LAMA UNTUK OBAT YANG TERINFEKSI VIRUS COVID-19 

    Kembali kepada pengobatan bagi yang sakit terinfeksi virus Covid-19.

    Pengobatan menggunakan obat-obatan saat ini dilakukan dengan upaya Repurposing obat lama yang sudah lebih dulu ada untuk penyakit lain, dan dicoba-cobakan (secara medis) pada pasien Covid -19 karena situasi darurat. 

    Hasilnya, sampai saat ini belum ada satupun yang terbukti terkonfirmasi dapat ditetapkan sebagai obat standar pengobatan Covid-19 yang dapat berlaku bagi seluruh pasien Covid-19 dalam waktu jangka panjang. 

    Obat untuk malaria yang digunakan untuk pasien Covid-19, sudah mulai dilarang di Eropa. Sedangkan Remdesivir, yang sempat dianggap sukses, pada temuan penelitian terakhir ternyata dapat berpotensi berpeluang untuk menimbulkan kemandulan atau impotensi (Jing Fang et.al., 2020). Walau pun kemudian Remdesivir direstui pada 1 Mei 2020 untuk dijadikan obat “emergensi” pasien Covid-19 dengan tingkat keparahan level tertentu (FDA, 2020) 

    TERAPI ANTI-BODI DARI PLASMA DARAH YANG SEMBUH

    Pilihan lain pengobatan dilakukan dengan menggunakan antibodi dari orang yang telah sembuh (Plasma konvalesen, dari darah pasien yang sembuh). Akan tetapi aplikasinya dapat digunakan hanya terhadap orang yang memiliki golongan darahnya sama, serta pendonor plasma juga perlu dipastikan tidak mempunyai agen penyakit bawaan, permasalahan genetika turunan, serta harus benar-benar 100% sehat dan berpola hidup sehat. 

    Hingga hari ini berdasarkan data ClinicalTrial.gov, status uji klinis yang dilakukan oleh Mayo Clinic di Amerika Serikat adalah sementara dihentikan (Withdrawn) pada tahap Uji Klinis (Clinical Trial).

    Memang terapi plasma konvalesen ini bisa menjadi “short cut” dalam menangani pandemic Covid-19, akan tetapi jumlahnya akan sangat terbatas dan resikonya sangat tinggi.

    Penggunaan plasma konvalesen serum dari orang yang sembuh ini memiliki keterbatasan jumlah, tidak semua orang sembuh mau/dapat mendonorkan plasma nya, sedangkan kebutuhan untuk masyarakat Indonesia sangat banyak. Aplagi untuk kebutuhan dunia.

    ANTISERUM vs PENYAKIT INFEKSIUS : TEKNOLOGI LEBIH 100 TAHUN

    Cara lain adalah dengan menggunakan antibodi yang diproses dari hewan yang telah terlebih dahulu diimunisasi dengan Virus Covid-19 yang telah di-inaktifasi-kan (“matikan”), melalui Imunisasi Pasif.

    Imunisasi Pasif menggunakan Antiserum dari hewan merupakan pilihan yang logis, realistis dan relatif lebih aman untuk pengobatan terhadap penyakit infeksi jika diproses dengan tepat dan cermat.

    Pengobatan dengan teknologi antiserum ini telah dilakukan lebih dari 100 tahun. Lihat saja contoh terkenalnya adalah Louis Pasteur dengan Antiserum Rabiesnya.

    Biasanya Antiserum didapat dari darah hewan mamalia seperti misalnya kuda, monyet, mencit, kelinci atau bahkan yang lagi popular sekarang Camelid (Unta, Llama), yang sudah terlebih dahulu dimunisasi oleh virus yang telah di-inaktifasi-kan (dibuat tidak aktif lagi),

    Kemudian dari darah mamalia tersebut sel darahnya di pisahkan, hingga yang tertinggal adalah plasma yang mengandung IgG (Immunoglobulin G) untuk diproses lebih lanjut yang akhirnya menjadi Antiserum. Kecuali pada hewan Camelid Unta, Llama, proses berbeda, menggunakan Camelid Singel-Domain Antibodies (Mehdi Arbabi-Ghahroudi, 2007).

    Akan tetapi berdasarkan penelitian, penggunaan, IgG Antiserum untuk virus Corona memiliki efek samping Acute Lung Injury (kerusakan jaringan paru-paru yang akut), demikian setidaknya dilaporkan dalam jurnal ilmiah, (Li Liu, et al. 2019).

    Terapi Plasma konvalesen juga dikawatirkan mempunyai resiko yang hampir sama, karena melibatkan IgG (Immunoglobulin G) manusia dari Plasma donornya. 

    TAWARAN STRATEGIS : IgY ANTISERUM Covid-19

    Beberapa kekhawatiran seperti dijabarkan di atas In Syaa Allah tidak akan terjadi pada pengobatan yang menggunakan IgY (Immunoglobulin Y, berasal dari Yolk, kuning telur ayam petelur), yang disebut sebagai IgY ANTISERUM Covid-19. 

    Adaptasi teknologi IgY dari hasil riset yang telah ada, Antiserum juga teknologi yang ada sejak lebih 100 tahun lalu, sehingga dapat langsung diadaptasikan untuk masuk ke tahap proses produksi agar dapat diujikan kemanfaatannya.

    Produksi IgY antibodi dari kuning telur ini memungkinkan diproduksi secara efisien (≈ 100 mg total IgY /per telur).

    Antibodi dari IgY ini pada gilirannya dapat memberikan alternatif sebagai Imunisasi Pasif yang bermanfaat untuk terapi Antivirus spesifik terhadap beberapa infeksi pernapasan. 

    IgY sangat stabil pada pH 4–9 dan terhadap suhu hingga 65 °C dalam kondisi larutan, dan tetap aktif dapat menetralisasi virus dengan mengikat antigennya, serta tahan terhadap enzim pepsin pada pH 4-6, sehingga bisa diaplikasikan dengan cara disuntikan maupun secara per oral (diminum). IgY ditemukan dalam sirkulasi darah dalam bentuk utuh setelah melewati saluran pencernaan (Xin Zhou, et.al. 2018).

    Karakteristik ini menjadikan IgY kandidat yang sangat baik untuk pengobatan infeksi Covid-19.

    Produksi IgY Antiserum Covid-19 yang dapat dikerjakan oleh anak bangsa dengan konten produk lokal (Made in Indonesia), berskala besar dan relatif sederhana, bersama dengan kemudahan transportasi dan penyimpanan menjadikannya pilihan strategis bangsa Indonesia dengan cakupan yang luas, untuk mengatasi pandemik Covid-19 ini.

    Administrasi penggunaan IgY Antiserum Covid-19 tidak hanya disuntik/injeksi, tetapi bisa juga di minum (Oral) atau intranasal (seperti "inhaller).

    Administrasi Oral IgY Antiserum Covid-19  dapat ditingkatkan efektifitasnya dengan formulasi sediaan sirup yang dicampur dengan semacam Antasid (yang umun dipakai untuk obat Maag), dengan tujuan mengatasi keasaman lambung, sehingga IgY Antiserum Covid-19 tetap utuh akan diserap oleh usus dalam bentuk IgY aktif yang kemudian ditransfer ke peredaran darah. 

    GAMBARAN UMUM TAHAPAN PRODUKSI IgY ANTISERUM Covid-19

    1. Bibit Virus di ambil dan di Isolasi (Isolat) à Dibiakan/dikultur (di kultivasi) à
    2. Kemudian di –INAKTIFASI – (“Matikan”), menggunakan kimia atau Sinar Gamma à
    3. Formulasi Immunogen à Menjadi Antigen à
    4. Antigen disuntik/imunisasi ke Ayam Petelur à
    5. Prosesing ekstrasi dan purifikasi IgY dari Kuning Telur Ayam Peterlur à
    6. Di formulasi jadi IgY Antiserum Covid-19 dan Bottling/Pacakgingà
    7. IgY Antiserum Covid-19 yang sudang di dalam Botol/Ampul àDisterilisasi dengan Sinar Gamma àHasil nya digunakan untuk Clinical Trial
    8. Clinical Trial à dapat berbentuk
      1. IgY Antiserum di Injeksi/Suntik; atau
      2. IgY Antiserum di Minum (seperti Obat, setelah diproses dengan tambahan semacam Antasid) 

    MANFAAT IgY ANTISERUM Covid-19

    Banyak manfaat jika Indonesia memang berkehendak untuk segera memproduksi IgY Antiserum Covid-19, paling tidak adalah:

    1. Menekan kematian (tingkat Mortalitas), dapat digunakan bagi yang sakit (terapi) dan sehat (pengamanan), disini perlindungan tenaga medis atau tenaga lapangan bisa lebih terjamin pencegahannya dibandingkan dengan menggunakan Vaksin dan Obat;
    2. Dengan waktu pembuatan relatif singkat hanya 3,5-4 bulan sebelum masuk pada tahap Clinical Trial, dengan BPOM mengawal tiap tahap : Fast Track + Kolaborasi,
    3. Potensi produksi yang masal/banyak karena menggunakan IgY dalam Kuning Telur dari Ayam Petelur, sehingga secara jumlah (kuantitas) dapat mengatasi lonjakan kasus positif,
    4. Dapat mengantisipasi wabah gelombang berikutnya, dengan penyusaian produksi dapat digunakan untuk antispasi mengatasi dampak mutasi virus kedepannya, dan meminimalisasi secara signifikan potensi dampak kekambuhan/relapse yang cepat,
    5. Mengatasi “Rush” pasien yang positif di RS rujukan/ RS lainnya karena dapat diaplikasikan pada layanan kesehatan paling bawah seperti Puskesmas atau Klinik, pengaplikasiannya mudah, bukan hanya dengan di suntik, tetapi juga bisa di minum, dan intranasal (seperti "inhaller"),
    6. Secara Etis, bagi pasien positif terinfeksi jika IgY Antiserum Covid-19 ini diaplikasikan bisa menolong dan membuka peluang untuk hidup atau pun sembuh (potensi mencegah kematian pasien positif). Tetapi jika tidak diaplikasikan kepada pasien positif, maka tingkat mortalitas tetap akan tinggi seperti yang ada saat ini.
    7. IgY Antiserum Covid-19 ini, dapat menekan kemungkinan virus bermutasi karena Antiserum ini adalah “Polyclonal Antibody” sehingga dapat menetralisir beberapa antigen virus, sehingga tidak terjadi “escape mutant virus Covid-19”.
    8. Kegiatan ini dapat berjalan PARALEL bersama Physical & Social Distancing, PSBB, Masker dan Cuci Tangan, Terapi Convalescent (Plasma Darah), Riset Vaksin-Obat-Jamu, Pembuatan Ventilator dan lain-lain,
    9. Karena menggunakan sumber daya dari Indonesia (100% Made in Indonesia), maka akan mengurangi potensi import obat/vaksin dari negara luar, membangun kemandirian kesehatan, menghemat APBN dan jika di ekspor mendatangkan devisa negara. 

    PENUTUP: WABAH MEREDA, VIRUS TIDAK HILANG 

    In Syaa Allah, pada waktunya nati wabah akan mereda atas izin Nya. Akan tetapi Virus (Virus Covid-19 ini) tetap akan hidup dalam kehidupan kita. Selanjutnya Covid-19 akan menjadi bagian dari kehidupan kita. Virus Covid 19 tidak akan hilang begitu saja. Untuk itulah kewajiban kita berupaya bersama degan berbagai cara, termasuk tetapi tidak terbatas melakukan upaya yang rasional dan strategis, yaitu memproduksi IgY Antiserum Covid-19.

    Pada saat pasca wabah, mengingat spektrum gejala dan dampak dari Covid 19 ini sangat luas, mulai dari Orang Tanpa Gejala sampai dengan Gagal Pernafasan, maka mengatasinya diperlukan “senjata ampuh” untuk melawan infeksi virus ini yaitu Vaksin (bagi yang sehat) dan IgY Antiserum Covid-19 (bagi yang terpapar, bagi yang sakit atau bagi yang memiliki resiko tinggi terpapar).

    Sama seperti halnya kita menghadapi penyakit infeksius lainnya seperti Rabies, Tetanus, Difteri dan lain-lain, tersedia Vaksin dan Antiserumnya.

    Produksi IgY Antiserum Covid-19 ini merupakan tanggung jawab moral, agar tidak menempatkan kehidupan orang banyak dalam bahaya yang berkelanjutan dalam waktu yang lama (jika dimulai sekarang juga).

     

    Kota Bogor, 03 Mei 2020

    Pemrakarsa: Prakarsa Produksi IgY Antiserum Covid-19

    Untuk Kemanusiaan dan Indonesia

    Andrea H Poeloengan, SH, M.Hum, MTCP dan Kamaluddin Zarkasie, DVM, PhD.

     

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Admin

    3 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 678 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).