Kotagede Yogyakarta : Jejak Keislaman di Bekas Ibukota Mataram Islam - Travel - www.indonesiana.id
x

gapura paduraksa pada komplek masjid Kotagede

Muhammad Faisal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 21 Mei 2020

Kamis, 21 Mei 2020 17:28 WIB

  • Travel
  • Berita Utama
  • Kotagede Yogyakarta : Jejak Keislaman di Bekas Ibukota Mataram Islam

    Kotagede, Yogyakarta hampir selalu menjadi magnet bagi wisatawan yang mengunjunginya. Terlepas dari status sebagai sentra perak Yogyakarta, daerah ini rupanya bak sebuah paket wisata. Aspek budaya, religi, bahkan sejarah semua berpadu menjadi suguhan istimewa bagi wisatawan yang mengunjunginya.

    Dibaca : 1.600 kali

    Kotagede, Yogyakarta. Sebuah daerah di tenggara Kota Yogyakarta ini memang tidak membosankan untuk dikunjungi. Bagaimana tidak, berbagai kegiatan maupun aktivitas wisata, budaya, seni, bahkan ekonomi dapat kita jumpai hampir setiap hari di kawasan ini. Kawasan yang terkenal dengan sentra peraknya ini, memang identik dengan Masjid Gedhe Mataram Kotagede sebagai ikon.

    Untuk menuju kawasan Masjid Gedhe Kotagede, pengunjung perlu melewati Pasar Legi Kotagede kemudian ke arah selatan hingga menemukan plang penanda yang bertuliskan Makam Raja-Raja Mataram Kotagede. Setelah itu pengunjung akan segera melihat suatu gerbang berentuk paduraksa yang mengelilingi komplek Masjid Gedhe dan Makam Kotagede.

    Cikal Bakal Islam di Yogyakarta

    Kawasan Kotagede, dulunya merupakan sebuah hutan bernama Alas Mentaok. Oleh Ki Ageng Pemanahan, hutan tersebut kemudian dibuka sehingga kelak menjadi ibukota Mataram Islam. Masjid Agung Kotagede, dahulu hanyalah berupa langgar (semacam musala) kecil yang didirikan oleh Panembahan Senopati pada tahun 1587 M. Bangunan masjid ini, kini memiliki arsitektur Jawa seperti masjid Agung Kauman Yogyakarta maupun masjid Agung Surakarta. Hal tersebut tidak terlepas dari peran Paku Buwana X, yang telah memugar masjid menjadi berarsitektur seperti sekarang.

    Pada bagian luar masjid terdapat jagang atau semacam kolam kecil yang mengitari kawasan masjid. Tujuan dibuatnya jagang tersebut yakni supaya pengunjung yang akan memasuki masjid bisa menggugurkan kotoran yang dibawanya pada jagang tersebut. Pada bagian serambi masjid, terdapat sebuah bedug raksasa yang sudah berusia cukup tua. Konon, bedug tersebut merupakan warisan Nyai Pringgit dari Kulonprogo. Hingga sekarang bedug tersebut masi difungsikan sebagai tanda waktu salat sebeum dikumandangkannya adzan.

    Memasuki bagian dalam atau inti masjid, kita akan menemui mimbar di dekat pengimaman. Menurut ceritanya, mimbar tersebut merupakan hadiah dari Sultan Palembang kepada Sultan Agung sepulang menunaikan haji. Selain itu, pada bagian dinding masjid, terdapat suatu bagian berlapiskan kaca yang meperlihatkan bentuk asli dinding Masjid Gede Kotagede yang disusun dari batu bata merah.

    Kegiatan keagamaan serta syiar Islam masih terus dilakukan di kawasan Masjid Gedhe Kotagede hingga kini. Berbeda dengan jaman dahulu yang dilakukan oleh para wali maupun pemuka agama, kini syiar dilakukan oleh takmir dan pengurus masjid menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Selain salat lima waktu dan ibadah Jumat, kajian-kajian rutin dilaksanakan setiap bulan baik menggunakan bahasa Indonesia maupun sekali-sekali berbahasa daerah.

    Kemudian saat memasuki bulan Ramadhan, diadakan kegiatan buka puasa bersama serta salat tarawih yang diselenggarakan dua kali, yakni setelah isya dan tengah malam. Pada bulan Muharam atau bulan Sura (Jawa), diselenggarakan kegiatan membersihkan sendang (sumber air) yang terdapat dalam komplek masjid ini. Tujuannya adalah menyucikan serta membersihkan diri dalam menyambut tahun yang baru. Selain itu supaya dalam menjalani kehidupan selalu menemui keselamatan, berkah, dan kebahagiaan.

    Kawasan Wisata Religi

    Suara bedug yang disusul kumandang adzan langgam Jawa masih ditemui di masjid tertua di Yogyakarta ini. Tidak mengherankan apabila banyak pengunjung yang kemudian menyatakan dirinya merindukan Kotagede untuk kembali menikmati nuansa religi di kawasan ini. Memang pada kenyataannya kawasan inti Masjid Gede dikelilingi oleh objek lain berupa Makam Raja-Raja Mataram, Sendang Seliran, Masjid Perak Kotagede, Makam Hastarengga Kotagede, serta Situs Watu Gilang yang membuatnya layak disebut objek wisata religi.

    Beberapa kegiatan wisata religi yang dapat dilakukan wisatawan, diantaranya ziarah leluhur Mataram Islam, mengikuti kajian yang diselenggarakan masjid, menyucikan diri dengan air dari sendang seliran, hingga mencari ketenangan batin dengan berdiam diri di area Makam Raja-Raja Mataram. Para pengunjung maupun wisatawan tentu akan menemukan sendiri pengalaman keagamaannya, karena pada hakikatnya berwisata religi adalah berkaitan dengan pencarian makna spiritual dalam perjalanan wisata.

    Kotagede memang selalu menjadi magnet bagi wisatawan, lebih-lebih bagi mereka pencari makna spiritualitas. Namun dalam pengelolaan objek wisata ini, masih dirasakan kurang adanya sinergitas antar pengelola objek wisata di sekitar kawasan inti Masjid Gedhe Mataram. Bisa anda bayangkan, anda membayar sejumlah rupiah kemudian ditukarkan dengan satu paket perjalanan wisata religi di Kotagede sudah termasuk melakukan aktivitas religi, tentu menyenangkan bukan?

    Mungkin hal ini dapat menjadi pertimbangan para pengelola kawasan wisata Kotagede supaya meningkatkan kunjungan wisata ke daerah ini. Dengan keyakinan yang penuh, apabila manajemen pengelolaan wisata religi di daerah ini dikelola dengan sempurna, barang tentu kawasan ini menjadi kawasan percontohan wisata yang memadukan kegiatan wisata religi, sejarah, serta budaya. Karena pada dasarnya kawasan Kotagede memiliki modal berupa objek wisata yang sudah dikenal oleh masyarakat luas sebagai pusat wisata ziarah di Yogyakarta.

    Pada akhirnya, kita menyadari bahwa Kotagede memang bukanlah rumah kita. Namun, tetap ada suatu alasan untuk kembali pulang ke Kotagede. Bukan saja hanya karena ingin kembali berziarah, atau bukan saja hanya ingin menyucikan diri di sendang seliran.

    Lebih dari itu, syiar Islam yang terus berkembang di kawasan ini selalu berhasil memadukan dirinya dengan budaya dan peradaban masyarakatnya. Sehingga merangkai jejak keislaman di bekas Ibukota Mataram Islam ini bukan hanya ditunjukkan oleh aktivitas wisatawan maupun masyarakat di sana. Melainkan bagaimana seorang manusia dapat memahami hakikat Islam dalam dirinya setelah menemukan makna spiritualitas di bekas Ibukota Mataram Islam.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.