Masjid Istiqlal Jakarta: Opsi Wisata Religi di Ibukota - Travel - www.indonesiana.id
x

Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat meninjau renovasi Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat 7 Februari 2020. Renovasi Masjid Istiqlal diperkirakan selesai pada April 2020, sehingga bisa dipakai saat bulan Ramadhan. TEMPO/Subekti.

Wilda Rizqiyah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Mei 2020

Jumat, 22 Mei 2020 06:05 WIB

  • Travel
  • Berita Utama
  • Masjid Istiqlal Jakarta: Opsi Wisata Religi di Ibukota

    Jakarta tidak hanya terkenal dengan gedung pencakar langit dan kemacetannya saja. Ada sebuah masjid terbesar se-Asia Tenggara yang berdiri di Ibukota ini, yaitu Masjid Istiqlal. Bisa menjadi opsi untuk berwisata religi di Ibukota.

    Dibaca : 1.536 kali

    Sekilas info terkait Masjid Istiqlal.

    Masih dalam satu kawasan dengan Monumen Nasional (Monas), masjid ini tepatnya berada di Jl. Taman Wijaya Kusuma, Ps. Baru, Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Lokasi yang startegis di pusat keramaian Ibukota. Dengan daya tampung hingga mencapai 100.000 orang dan luas 9,9 hektar, masjid ini menyandang gelar masjid terbesar di Indonesia. Tidak hanya mencakup Indonesia, tetapi bahkan sampai menjadi masjid terluas se-Asia Tenggara.

    Masjid Istiqlal, salah satu masjid istimewa yang melambangkan kemerdekaan dan kejayaan bangsa dibangun dalam rangka menghormati para pahlawan muslim yang gugur selama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dari situlah, kemudian diadakan sayembara untuk membuat model bangunan masjid. Desain gambar dengan judul ‘Ketuhanan karya arsitek Frederich Silaban keluar menjadi pemenangnya.

    Ketika Anda berada di Ibukota Jakarta, tak ada salahnya untuk memilih berwisata religi ke Masjid Istiqlal.

    Menurut Wall dan Mathieson (via Raj dan Griffin 2015: 10), agama telah lama menjadi kekuatan untuk menyebabkan orang melakukan perjalanan ke pusat-pusat keagamaan di banyak belahan dunia. Hal tersebut yang membuat perubahan bentuk tradisional ziarah ke difusi motivasi spiritual menjadi tempat ibadah sekaligus tempat wisata. Oleh karena itu, hal tersebut yang menjadikan wisata religi lebih spesial.

    Masjid Istiqlal dibuka untuk umum sejak pertama kali diresmikan yakni pada tahun 1978. Masjid ini di kelola oleh sebuah badan yang dibentuk oleh pemerintah yang bernama Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal (BPPMI). Badan tersebut merupakan lembaga non-struktural yang dibentuk dalam rangka penyelenggaraan, pengelolaan dan pemanfaatan Masjid Istiqlal. Dengan manajemen pengelolaan yang sudah terstruktur itu, pihak BPPMI memfasilitasi beberapa layanan bagi pengunjung Masjid Istiqlal. Salah satunya adalah layanan pemandu wisata.

    Seorang pemandu bisa menemani sekelompok pengunjung selama kunjungan ke sana agar mendapatkan informasi yang seutuhnya tentang atrakis wisata religi yang satu ini. Wisatawan yang datang berkunjung pun tidak hanya dari wisatawan domestik, banyak pula dijumpai wisatawan mancanegara yang tertarik untuk mengunjungi Masjid Istiqlal. Tidak terbatas peruntukkannya bagi pengunjung muslim, masyarakat non-muslim pun diperbolehkan berkunjung ke masjid ini dengan pendampingan dari seorang pemandu.

    Selain untuk urusan kunjungan singkat seperti itu, Masjid Istiqlal sebagai masjid negara juga memberikan pelayanan kepada masyarakat yang ingin memeluk agama Islam. Pihak dari Masjid Istiqlal memberi kemudahan dengan bantuan bimibingan proses bagi mereka menjadi seorang muslim hingga memahami hak dan kewajiban yang diembannya setelah masuk islam.

    Sehubungan dengan kenyataan bahwa masjid ini didesain oleh seorang non-muslim, letaknya yang berhadapan dengan Gereja Katedral Indonesia juga melambangkan kerukunan antar umat beragama. Simbol toleransi antar umat beragama di negeri ini yang terwujud dalam bangunan. Keharmonisan hubungan juga dapat dilihat dari beberapa kegiatan saling membantu antar umat beragama di sana. Sesuatu yang menjadikan masjid ini semakin unik hingga menarik banyak kungunjungan dan perhatian.

    Dalam konteks perjalanan wisata religi ini, dapat memberikan pengalaman dan pelajaran spiritualitas tersendiri bagi wisatawannya. Hal yang membedakan wisata religi dengan wisata lainnya, ketika perjalanan wisata religi mampu membuat wisatawan merasa terhubung secara pribadi dengan situs religi yang dikunjungi. Tidak lain karena ia jadi merasa lebih memahami dan menghargai agama, merasa bebas dari kekhawatiran yang menghantuinya, serta menemukan kedamaian dan makna dalam hidupnya.

    Sayangnya, selama pandemi Covid-19 menyebar di Indonesia, Masjid Istiqlal tidak mengadakan acara yang melibatkan perkumpulan orang dalam jumlah masif. Acara dan kegiatan keagamaan tahunan seperti buka puasa bersama, salat tarawih berjamaah, iktikaf, dan tausiah dibatalkan selama bulan suci kali ini. Ikhtiar tersebut guna membantu pemerintah dalam mengantisipasi penularan virus yang lebih luas lagi.

    Sebagai gantinya, suasana kemeriahan terasa hilang dan tidak lengkap untuk tahun 2020 ini. Semoga kedepannya kegiatan wisata religi ke Masjid Istiqlal khususnya, dapat berjalan normal kembali sehingga bisa menjadi opsi wisata gratis di Ibukota.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.