Bagaimana Umat Islam Menyikapi Pandemi Corona Selama Bulan Ramadan? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Amaliana Rima

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 21 Mei 2020

Jumat, 22 Mei 2020 06:04 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Bagaimana Umat Islam Menyikapi Pandemi Corona Selama Bulan Ramadan?

    Dibaca : 114 kali

    Pandemi Corona merupakan salah satu wabah besar yang muncul sejak Desember 2019 di Wuhan, Tiongkok telah terdeteksi masuk di Indonesia pada 2 Maret 2020 dan menimbulkan kepanikan terhadap masyarakat. Menurut World Health Organization (WHO) virus corona merupakan suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan pada manusia mulai dari batuk pilek hingga yang lebih serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Merebaknya Corona Virus Disease (COVID-19) berdampak terhadap segala aspek kehidupan di beberapa negara yang terjangkit virus tersebut termasuk di Indonesia.

    Hingga saat ini di bulan suci Ramadhan pandemi corona masih belum berakhir dan menyebabkan keresahan bagi umat Islam dalam menjalani ibadah dan kegiatan agama karena sebagian besar melibatkan orang dalam jumlah banyak padahal hal tersebut merupakan larangan dari pemerintah.

    Pandemi Corona dapat dianggap sebagai ujian dari Allah sehingga umat Islam perlu bersikap secara rasional dan spiritual dalam menghadapinya. Berbagai pendapat dari tokoh-tokoh agama Islam kemudian menjadi landasan pendukung dalam menjalankan ibadah selama bulan Ramadhan.

    Ulama Quraish Shihab menjelaskan bahwa kegiatan seperti buka puasa, itikaf, shalat tarawih, dan tadarus bisa dilakukan di rumah, serta peraturan pemerintah selama tidak bertentangan dengan agama sebaiknya tetap dilaksanakan. Substansi ibadah bisa tidak dilakukan di masjid, jadi tidak ada alasan untuk bersikeras harus ke masjid sehingga masyarakat tidak perlu memaksakan diri untuk pergi ke masjid dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini. Kegiatan agama dan ibadah bukan perihal dimana dilakukannya tetapi bagaimana kualitas dan prosesnya.

    Lalu, bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi pandemi Corona di bulan Ramadhan ini?

    Berikhtiar untuk menghindari penyebaran virus dengan memperhatikan ajaran sunnah bahwa kita harus mencuci tangan sebelum makan atau minum dan sesudah berpergian atau beraktivitas.

    Tetap sholat 5 waktu di rumah, sebagai salah satu kewajiban umat Islam sholat tentunya dapat dilakukan dimanapun termasuk di rumah dan tingkatkan kualitas ibadah dengan berdoa dan berdzikir memohon perlindungan agar terhindar dari virus corona dan pertolonngan agar pandemi segera berakhir.

    Menjalankan ibadah puasa, tarawih, dan tadarus di rumah bersama keluarga sehingga lebih fokus dalam beribadah dan tidak mengurangi kualitasnya jika disertai dengan kesabaran dalam menjalankannya.

    Berperilaku hidup sehat, menjaga pola makan, menjaga kebersihan, berolahraga, bekerja dari rumah. memakai masker apabila keluar rumah, dan kegiatan lain yang dapat mencegah penyebaran virus corona.

    Mengikuti aturan pemerintah berupa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan melakukan segala aktivitas di dalam rumah dan tidak berpergian apabila bukan untuk hal yang mendesak dan tidak penting. Selain itu, tidak melakukan mudik atau pulang kampung juga ikut membantu pemerintah dalam melakukan pencegahan penyebaran virus Corona.

    Lebaran online, silaturahmi halal bihalal untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri dalam kondisi pandemi Corona hendaknya dilakukan bersama keluarga di rumah dan apabila terhalang jarak yang jauh dengan saudara atau teman bisa dilakukan melalui smartphone dengan fitur video call atau via chat sehingga dapat tetap terhubung dan merayakan hari kemenangan.

    Tawakal, yakin bahwa usaha yang telah kita lakukan untuk mencegahnya tidak sia-sia dan percaya kepada pemerintah yang telah berupaya menanggulangi pandemi Corona secara mennyeluruh serta yakin apabila Allah menghendaki pandemi ini akan segera berakhir dan dapat beraktivitas seperti semula.

    Dalam penanganan Covid-19 saat ini, seharusnya masyarakat memahami bahwa penanganan wabah tidak cukup hanya dengan doa dan tawakal atau berserah diri, tetapi harus ada usaha sungguh-sungguh untuk menghindari pandemi dan bukan diam menunggu takdir karena kita sebagai manusia terlahir memiliki akal untuk menjalani kehidupan di dunia.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.