Ziarah di Saat Covid-19 di Surakarta? Jangan Dulu Daripada Kecewa! - Travel - www.indonesiana.id
x

Amelye Putri

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 19 Mei 2020

Jumat, 22 Mei 2020 06:02 WIB
  • Travel
  • Berita Utama
  • Ziarah di Saat Covid-19 di Surakarta? Jangan Dulu Daripada Kecewa!

    Dibaca : 1.686 kali

    Ingin berziarah di kala Covid-19 dengan niat meminta bantuan melalui doa kepada leluhur atas kondisi saat ini atau mungkin karena sudah mendekati bulan suci Ramadan bukan merupakan pilihan yang tepat untuk dilakukan. Beberapa situs ziarah yang menjadi atraksi wisata di daerah Surakarta ditutup untuk sementara demi kelancaran kehidupan banyak pihak, loh, guys!

    Penutupan oleh beberapa atraksi wisata ziarah ini juga merupakan upaya yang dilakukan oleh pengelola atraksi wisata berdasarkan anjuran dari Pemerintah Surakarta yang mengkategorikan wabah Covid-19 sebagai kejadian luar biasa (KLB). Lalu, mana saja situs ziarah di Surakarta yang ditutup?

    1. Astana Giribangun

    Salah satu tempat wisata paling iconic di Solo karena merupakan makam tokoh-tokoh penting dari Keluarga Besar Jendral Soeharto (Presiden RI ke-2) yang berada di Jl. Astana Giribangun, Dengkeng, Girilayu, Matesih, Kabupaten Karanganyar ini menjadi sangat ramai dikunjungi wisatawan dan peziarah untuk melakukan ziarah kepada leluhur yang biasanya ramai dipadati kunjungan pada hari besar tertentu ataupun saat ada pencalonan legislatif loh. Bahkan rata-rata jumlah kunjungan setiap harinya adal 3000 orang pada hari biasan dan mencapai 10 ribu pengunjung pada akhir pekan atau hari besar lainnya.

    Namun, adanya Covid-19 yang juga melanda Indonesia ini mengharuskan situs ini untuk menutup akses bagi para pengunjung dikarenakan untuk keamanan dan keselamatan diri para pekerja dan juga pengunjung. Pengumuman penutupan ini diberitakan langsung di pintu masuk kawasan Astana Giribangun yang ditujukan untuk setiap pengunjung yang ingin berziarah di sini.

    2. Gua Maria Regina Mojosongo

    Tempat doa bagi umat beragama Katolik ini berada di kawasan Kelurahan Mojosongo, Jebres, Surakarta ini biasanya ramai dikunjungi oleh para peziarah untuk berdoa dan melakukan berbagai acara. Adapun acara rutin seperti perayaan ekaristi setiap hari kamis pukul 19.00 WIB dan juga sakramen pertobatan yang biasa dilakukam hari Jumat minggu keempat menjadi berhenti dengan adanya kasus ini.

    Dari akun Instagram resminya yaitu @guamariamojosongo  pada tanggal 28 April 2020 kemarin pihak pengelola menyatakan bahwa seluruh kegiatan dan kunjungan ditutup mengingat imbauan pencegahan penyebaran Covid-19 ini.

    3. Candi Cetho

    Peninggalan bersejarah yang diperkirakan dibangun sejak zaman Kerajaan Majapahit ini merupakan salah satu candi bercorak Hindu yang ada di Indonesia. Letaknya yang berada di lereng Gunung Lawu membuat pengunjung yang datang semakin tertarik karena adanya peninggalan bersejarah disertai dengan pemandangan sekitar yang sangat indah.

    Akan tetapi, bagi pembaca yang memiliki niat untuk berkunjung ke sini maka harus menahannya karena melalui akun Instagram @candi.cetho menjelaskan bahwa adanya Covid-19 ini mereka akan menutup akses demi keselamatan dan keamanan. Dari unggahan tersebut, pengelola Candi Cetho menutup sementara waktu berdasarkan imbauan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tnegah yang mana bertujuan untuk mencegah penyebatan dari Covid-19 ini.

    4. Masjid Agung Surakarta

    Masjid yang terletak di sisi barat Alun-alun Lor Keraton Surakarta ini sangat menarik karena memiliki arsitektur bangunan gaya Jawa Kuno dan Arab Persia yang ramai dikunjungi Jemaah untuk beribadah yang mana seperti yang telah dimuat dalam https://pariwisatasolo.surakarta.go.id/destinations/eksotisme-masjid-agung-keraton-solo/. Lokasinya yang juga berdekatan dengan Pasar Klewer dan Keraton Surakarta membuat banyaknya kunjungan dari wisatawan ke masjid ini.

    Namun, lagi-lagi karena Covid-19 ini maka Masjid Agung Surakarta pun tidak menyelenggarakan Sholat Jumat dan Sholat Tarawih sesuai dengan anjuran untuk melakukan physical distancing. Adapun pengurus dari Masjid ini juga tidak mengadakan adanya kegiatan amalan Ramadan seperti berbuka dan sahur Bersama, tadarus Alquran, takbir keliling, halal bi halal, dan lainnya di tengah wabah Covid-19 ini.

    5. Keraton Kasunanan Surakarta

    Terakhir, salah satu tempat yang sangat terkenal di Surakarta yaitu Keraton Surakarta yang mana biasanya sering didatangi oleh orang-orang. Adanya penutupan akses bagi pengunjung hingga waktu yang belum ditentukan membuat segala acara yang seharusnya terlaksana menjadi tidak dilaksanakan atau tertunda seperti Upacara Jumenengan, Kirab Budaya, dan lainnya yang biasanya dihadiri oleh pengunjung dengan segala tujuannya seperti berdoa ke leluhur, mempelajari sejarah keraton, dan lain-lain.

    Nah, beberapa tempat ziarah di atas menutup segala akses kunjungan dan kegiatan selama wabah Covid-19 ini. Dari sini maka kita bisa tahu bahwa anjuran pemerintah mengenai penutupan tempat-tempat wisata seperti wisata ziarah seperti ini sudah dilakukan oleh beberapa tempat seperti halnya di Surakarta sendiri yang sangat memperhatikan imbauan Walikota Surakarta sendiri yaitu F.X. Hadi Rudyatmo dalam kejadian luar biasa (KLB) yang terjadi di Surakarta maupun daerah lain di Indonesia.

    Teruntuk pembaca yang menginginkan untuk berziarah, berwisata, atau berpergian, mending disimpan niatnya dulu yah daripada kecewa karena banyaknya tempat wisata yang tutup akibat Covid-19 ini. Ayo tetap #dirumahaja dan lakukan aktivitas yang membuat kalian tetap produktif meski tidak kemana-mana, stay safe selalu!


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.








    Oleh: Supartono JW

    Senin, 27 Juli 2020 18:56 WIB

    Kisah Perjalanan (4) 27 Juli, Sehari di La Vallee dan Disneyland-Paris

    Dibaca : 250 kali

    Hari ini, Rabu, 27 Juli 2011 setelah sarapan pagi, sesuai agenda kami akan bertandang ke La Valee Outlet Shooping Village dan lanjut ke Paris-Disneyland. Sebenarnya, masih ingin badan ini rebahan di kamar hotel, namun apa boleh buat, saya harus mengikuti agenda perjalanan wisata yang memang sudah sangat tertata. Jadi, tidak boleh ada waktu yang meleset dari jadwal yang telah ditentukan. Kemarin, setengah hari ada di Brussel-Belgia, dan setengah harinya lagi berada di bus baik dari Amsterdam menuju Brussel, maupun Brussel menuju Paris, memang tidak begitu banyak menguras tenaga, karena semua perjalanan di tempuh pada siang hari. Nyamannya bus yang membawa kami dan pemandangan indah antara Brussel-Paris, menjadikan kami tak merasakan bahwa kami harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam 40 menit. Bahkan, saat bus harus rehat di rest area pun, kami sebenarnya ingin bus tak perlu berhenti, karena semangatnya kami. Malah saat bus masuk ke Paris, kami pun tak menyadari bahwa kini kami sudah ada di negera Prancis. Bila di sebelumnya kami sudah bercengkerama di Istanbul-Turki selama sehari. Lalu, di Sofia, Veliko Tarnovo, dan Razgrad-Bulgaria selama delapan hari. Berikutnya, singgah di Koln, Duseldorf-Jerman sekitar tiga jam, dan di Volendam, Amsterdam-Belanda selama dua malam satu hari. Kemudian, di Brussel-Belgia setengah hari, maka di Paris-Prancis ini, kami menginap selama empat malam dan bercengkerama selama tiga hari penuh.