Kasus Corona Kamis (21/5) Tertinggi, Fakta atau Sandiwara? - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Yuri

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 22 Mei 2020 07:51 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Kasus Corona Kamis (21/5) Tertinggi, Fakta atau Sandiwara?

    Dibaca : 1.229 kali

    Kamis (21/5/2020) untuk pertama kalinya, juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona, Achmad Yurianto, melaporkan kasus tertinggi sejak kasus pertama diumumkan 2 Maret 2020. 

    Sontak netizen dan masyarakat Indonesia langsung berkomentar. Apa komentarnya? Ada yang lurus-lurus saja? artinya percaya bahwa laporan Yurianto adalah benar dan fakta. 

    Sebaliknya banyak pula suara netizen dan masyarakat yang mengungkapkan bahwa sejak tanggal 2 Maret 2020 hingga 21 Mei 2020, sebenarnya laporan itu cuma sandiwara. Bukan fakta dan hanya bikinian pemerintah saja. Apa pasalnya? 

    Sebelum menjawab yang sandiwara, coba kita analisis yang menganggap lurus-lurus saja. Maksud lurus-lurus saja adalah percaya dan menganggap laporan Yurianto adalah benar sesuai fakta dan data. Logikanya, mengapa kasus hari ini melonjak dan menjadi yang tertinggi? 

    Alasannya adalah karena masyarakat selama bulan Ramadan memang sulit dikendalikan dan sangat mengabaikan PSBB. Bahkan banyak kasus warga yang melawan petugas, melawan sesama warga, saat diingatkan untuk memakai masker, menjaga jarak, dan mematahui protokol PSBB. 

    Bahkan tradisi belanja lebaran juga menjadikan pasar dan mal dipadati masyarakat layaknya dalam situasi normal tak ada pandemi, berdesak-desakan. Selain itu, larangan mudik juga tetap dilanggar dengan berbagai akal agar sampai ke kampung halaman, maka masuk akal dan logis, bila laporan Yuranto hari ini menjadi yang tertinggi, hampir menyentuh 1000 kasus. 

    Sementara, bagi yang menganggap laporan Yurianto adalah sandiwara, bila ditilik latar belakangnya, cukup logis dan masuk akal pula. Sejak kasus pertama 2 Maret 2020 hingga 20 Mei 2020, Yurianto sepertinya hanya disodorkan data yang tak valid oleh "tim", dan Yuri saat melaporkan di depan kamera televisi, tinggal membaca laporan yang memang sudah di desain. 

    Sejak 2 Maret 2020, disinyalir, laporan Yuri tidak pernah valid, karena ada "kepentingan" dari pemerintah. Di antaranya agar masyarakat tidak panik, maka yang dilaporkan setiap hari adalah jauh dari fakta kasus sebenarnya. 

    Pemerintah sejak awal hanya berpikir ekonomi, bukan menyelamatkan nyawa. Maka, kebijakan yang oleh masyarakat disimpulkan tak tegas, tak sigap, tak konsisten, longgar, mencla-mencle, kontroversi, kontraproduktif, dll, itu hanya sandiwara, skenario saja. 

    Dan, masyarakat pun tertipu, percaya bahwa mereka memang seperti itu. Saat masyarakat sudah memiliki imej, pemerintah tak tegas, mencla-mencle dan sejenisnya itu, maka pemerintah pun memainkan skenario memproduksi Undang-Undang, peraturan, kebijakan, hingga menaikkan iuran BPJS dll karena masyarakat sedang teralih pikirannya, dan dibuat terlena oleh laporan kasus corona, yang seolah biasa-biasa saja, padahal Yuri hanya membaca laporan yang sudah "diarahkan". 

    Jadi, bila hari ini Indonesia mencatatkan penambahan kasus harian tertinggi Covid-19 dalam sehari, berdasarkan data yang dihimpun hingga Kamis (21/5/2020) pukul 12.00 WIB, yaitu tercatat ada penambahan 973 pasien positif Covid-19, maka itu banyak yang menganggap hanya rekayasa saja. 

    Tujuannya baik, yaitu agar masyarakat yang kini menjelang lebaran sulit diatur, baik yang tetap ke pasar, ke mal, memaksa mudik, dan memaksa ibadah di masjid, menjadi berpikir dua kali, untuk kembali mematuhi PSBB. 

    Itulah dua pemikiran netizen dan masyarakat, saat mengetahui Yuri melaporkan kasus pertama paling tinggi di Indonesia sore ini. Memang bila di analisis, dua prasangka itu, dua-duanya masuk akal dan logis berdasarka latar belakangnya masing-masing. 

    Namun, demikian, terlepas fakta atau sandiwara, sebagai warga negara yang benar dan baik, kita patuhi saja peraturan yang ada. Ikuti protokol kesehatan demi memutus mata rantai virus corona. 

    Lihat Finlandia dan Prancis. Kasus corona sudah menurun, masyarakat pun patuh peraturan semacam PSBB di Indonesia, namun saat sekolah kembali dibuka, para siswa dan guru langsung terpapar corona, meski berasal dari zona hijau. 

    Marilah masyarakat, patuhi PSBB, setop belanja lebaran, setop memaksa mudik, setop berpikir pasrah kepada Allah, semasa kita masih mampu berupaya menghindari bencana pandemi corona. 

    Sayangi diri, keluarga, saudara, tetangga? dan masyarakat, sebab corona terus mengincar mangsa. 


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.