Perbedaan Aktivitas Ramadan Ditengah Pandemi Corona: Menjadi Sarana Peningkatan Spiritualitas Diri? - Analisa - www.indonesiana.id
x

irma khairunnisa

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 19 Mei 2020

Jumat, 22 Mei 2020 09:13 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Perbedaan Aktivitas Ramadan Ditengah Pandemi Corona: Menjadi Sarana Peningkatan Spiritualitas Diri?

    Dibaca : 281 kali

    Ramadan adalah bulan yang selalu dinantikan kedatangannya oleh umat muslim. Saat bulan suci itu tiba, banyak orang akan berlomba-lomba untuk mencari pahala dengan melakukan aktivitas yang bermanfaat. Adapun beragam kegiatan yang dapat dilakukan saat Ramadan seperti mengikuti kajian keagamaan di masjid atau melalui media elektronik seperti radio, televisi, dan smartphone.

    Tidak hanya itu,  pada bulan Ramadan orang-orang akan mencari jajanan takjil untuk berbuka. Ngabuburit dan buka bersama juga seakan-akan menjadi kegiatan rutin yang selalu dilaksanakan setiap Ramadan tiba.

    Kegiatan lain yang tidak terlepas dari bulan Ramadan di Indonesia adalah membeli baju baru. Biasanya, pada bulan Ramadan toko-toko akan memajang koleksi baju muslim terkini. Berbelanja baju lebaran tentunya banyak orang yang antusias dan menyerbu toko tersebut untuk mendapatkan pakaian terbaiknya saat menyabut hari kemenangan.

    Namun, tampaknya Ramadan tahun ini tidak akan semeriah jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sebab, kita musti menjalankan Ramadan di tengah pandemi coronavirus disease atau dikenal dengan covid-19.

    Virus ini pun sudah merajalela ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Saat ini, jumlah pasien yang teridentifikasi positif covid-19 sudah mencapai puluhan ribu orang dan diperkirakan angka tersebut terus bertambah.

    Terkait adanya covid-19 ini, Kementerian Agama Republik Indonesia pun mengeluarkan kebijakan untuk pelaksanaan ibadah puasa dan salat idulfitri. Kebijakan tersebut menetapkan bahwa puasa, berbuka, tarawih, dan salat Idulfitri dilakukan di rumah saja. Oleh sebab itu, Ramadan kali ini rasanya jauh berbeda dengan Ramadan sebelumnya karena kegiatan lebih terpusat di rumah.

    Dengan melakukan kegiatan Ramadan di rumah saja, seseorang dapat memiliki lebih banyak waktu untuk beribadah. Dengan begitu, memungkinkan mereka untuk meningkatkan spiritualitas dengan mendekatkan diri kepada Tuhan.

    Dikutip dari Elkins dan Collegues dalam jurnal Ferguson dan Scott (2008) yang berjudul “Spirituality, Mental Health, and People with Learning Disabilities”, spiritualitas adalah suatu cara untuk mendapatkan pengalaman melalui kesadaran pada dimensi transcendental dan dapat dikarakteristikan ke beberapa nilai baik untuk diri sendiri, orang lain, alam, kehidupan, atau sesuatu yang lain. 

    Nah, untuk memastikan aktivitas Ramadan di tengah pandemi ini terasa berbeda dan apakah hal tersebut meningkatkan spiritualitas diri, sudah ada sembilan orang narasumber bernama Vivi, Eka, Mia, Ulfah, Hening, Rifka, Ema, Yusa, dan Zia. Mereka berasal dari tiga daerah yang berbeda yaitu Yogyakarta, Lampung, dan Lombok.

    Semua narasumber merupakan seorang mahasiswa. Dalam wawancara tersebut, mereka telah menjawab beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan aktivitas Ramadan saat covid-19 dan spiritualitas diri mereka.

    Kegiatan Ramadan ditengah pandemi tentu sangatlah berbeda bila dibandingkan dengan aktivitas sebelumnya. Biasanya, setelah kelas sore dan menjelang berbuka puasa, mahasiswa akan mencari masjid terdekat untuk ngabuburit, mengikuti kajian, dan mencari makan gratis bersama teman. Namun, adanya covid-19 mengubah seluruh tradisi dan aktivitas mereka dimana lebih banyak menghabiskan waktu di kamar dengan ditemani oleh laptop. 

    Pasalnya, laptop menjadi sangat diperlukan seperti untuk melakukan perkuliahan online, mengerjakan tugas, dan mengikuti rapat online. Mungkin, #dirumahaja memang menjadi slogan yang mendefinisikan kehidupan mahasiswa dalam menjalani masa sulit akibat pandemi covid-19 ini.

    Kegiatan Ramadan di rumah saja yang disebabkan oleh Covid-19 tentunya menjadikan puasa tahun ini terasa sangat berbeda. Ada beragam reaksi dari narasumber mengenai hal ini seperti diliputi perasaan waspada saat keluar rumah, menjadi lebih sepi karena sebagian memilih untuk di rumah saja, dan ada rasa kurang afdal karena salat tarawih tidak dilakukan berjemaah di masjid. 

    Akan tetapi, Ulfah dan Zia sebagai anak rantau menuturkan bahwa puasa di rumah menjadi momen spesial karena bisa kumpul dengan keluarga. Meskipun begitu, Zia juga merasa aneh karena terjadi perubahan aktivitas yaitu selama di rantauan dia tidak pernah merasakan sahur tapi ketika kumpul dengan keluarga ia diharuskan untuk sahur.

    Meskipun Ramadan ditengah pandemi ini menghambat sebagian aktivitas ibadah puasa  tapi Ulfah dan Mia menuturkan bahwa adanya pandemi ini bukan menjadi suatu penghalang untuk mereka. Walaupun terkesan menjadi hambatan, ternyata ibadah di rumah saja juga ada mendatangkan hikmah tersendiri. 

    Semua narasumber mengatakan bahwa berkumpul dengan keluarga dan memiliki banyak waktu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan adalah hikmah yang dapat diambil dari Ramadan di rumah saja. Selain itu, Zia mengatakan bahwa Ramadan kali ini digunakan untuk mengasah kembali softskill yang ia miliki.

    Ada berbagai cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Contohnya seperti menambah salat sunah, tadarus bersama keluarga, dan memperbanyak zikir. Rifka mengatakan bahwa Ramadan tahun ini ia dapat lebih mendalami ilmu agama. 

    Selain itu, Ulfah pun juga menuturkan bahwa Ramadan di tengah pandemi ini menjadi bonus waktu untuk mendekatkan diri dan berkomunikasi kepada Tuhan. Dalam hal ini juga, Yusa juga menyampaikan bahwa adanya covid-19 ini sebagai sarana untuk memohon perlindungan.

    Buka bersama menjadi tradisi yang selalu ada saat bulan Ramadan. Akan tetapi, akibat covid-19 menyebabkan kegiatan tersebut tidak akan terlaksana karena adanya physical distancing. Tedapat beragam reaksi dari narasumber mengenai hal ini. 

    Bagi narasumber yang jarang mengikuti buka bersama merasa ada atau tidaknya kegiatan tersebut bukanlah hal yang memengaruhi aktivitasnya. Adapun yang merasa senang dengan tidak adanya buka bersama karena dapat menghemat biaya. Sebaliknya, ada yang merasa sedih karena tidak dapat berkumpul dengan teman, merasa sepi, dan kurang. 

    Adanya perbedaan aktivitas Ramadan ditengah pandemi ini, dapat dikatakan bahwa sebagian besar kegiatan menjadi terpusat di rumah dan dimanfaatkan untuk meningkatkan spiritualitas diri mereka. 

    Dari yang disampaikan narasumber adanya lebih banyak waktu luang menjadikan mereka semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dengan caranya masing-masing. Seperti yang dikatakan Ulfah, bahwa adanya waktu luang ini menjadi bonus waktu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.