Modernisasi dan Motivasi Wisata Ziarah - Analisa - www.indonesiana.id
x

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Mei 2020

Jumat, 22 Mei 2020 16:25 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Modernisasi dan Motivasi Wisata Ziarah

    Dibaca : 219 kali

    Secara etimologis kata ziarah berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata zara, yazuru, dan ziyarah, yang berarti berkunjung, dalam KBBI ziarah diartikan sebagai kunjungan ke tempat yang dianggap keramat atau mulia (makam dan sebagainya). Secara etimologis kata ziarah berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata zara, yazuru, dan ziyarah, yang berarti berkunjung, dalam KBBI ziarah diartikan sebagai kunjungan ke tempat yang dianggap keramat atau mulia (makam dan sebagainya).

    Fenomena ziarah bukanlah hal yang baru, melainkan sudah terjadi turun-temurun dan dilakukan oleh banyak kepercayaan seperti umat Muslim ke Mekkah, Madinah, dan Yerusalem, umat Kristiani dan Yahudi ke Yerusalem, dan umat Hindu ke Sungai Gangga, selain itu juga terdapat agama-agama lain yang juga melakukan ziarah.

    Di era globalisasi dan modern yang lebih mengedepankan rasionalitas ini mengubah way of thinking manusia  menjadi memarginalisasikan peran agama dalam kehidupan sehari-hari dan mencerabuti nilai-nilai spiritual yang dimiliki oleh agama. Terbukti dengan para individu yang tidak berafiliasi dengan kepercayaan manapun meningkat secara drastis khususnya di Eropa dan Amerika Serikat. 

    Meskipun demikian wisata ziarah masih memiliki peminat yang terbilang banyak seperti yang dilansir dari World Tourism Organization, jumlah wisatawan yang mengunjungi situs religi mencapai jumlah 300 hingga 330 juta tiap tahunnya. Hal tersebut terjadi karena wisatawan religi dan ziarah dibagi menjadi dua motivasi yaitu motivasi religius dan motivasi non-religius.

    Wisatawan dengan motivasi non-religius dimana meskipun tidak memiliki afiliasi dengan kelompok agama manapun dia tetap melakukan wisata ziarah, namun dengan motivasi yang berbeda dengan wisatawan dengan motivasi religius, yaitu berkunjung ke situs religi untuk memenuhi keingintahuannya, untuk mencari jati diri, mencari ketenangan, untuk mencari pengalaman baru dan hanya sekadar menikmati keindahan dari situs religi yang dikunjunginya

    Situs religi dipilih untuk menjadi tempat untuk mencari ketenangan dan jati diri karena dapat memberikan ketenangan dan kepuasan diri, selain itu situs religi juga dapat dinikmati siapapun, baik arsitekturnya, bangunannya, sejarahnya, dan mitos-mitosnya.

    Sedangkan untuk motivasi religius wisatawan yang mengunjungi situs religi yaitu wisata yang murni dilakukan karena alasan emosional dan sentimental. Seperti  di mana wisatawan itu bisa mendengarkan ceramah tokoh agama, mengunjungi makam terkenal atau lokasi terkenal di mana Nabi, Wali, dan tokoh-tokoh agama yang dikenal pernah tinggal, atau untuk merayakan hari-hari khusus.

    Selain itu ziarah sejatinya dilakukan untuk mengingatkan atas kematian yang absolut hukumnya. Wisata ziarah memiliki aspek transendental yang mengingatkan serta menyadarkan kembali manusia untuk meningkatkan spiritualitas manusia yang tercerabuti modernisasi.

    Ramainya peminat wisata ziarah berkaitan dengan motivasi dari para wisatawan tersebut hingga rela untuk pergi jauh mengunjungi berbagai lokasi ziarah Walisongo dan situs-situs religi lainnya meskipun lokasinya yang berjauhan dari Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur, menghabiskan waktu yang tidak sebentar.  Meskipun demikian sering dijumpai di sekitar kita rombongan menggunakan bus kecil hingga bus besar dengan tulisan “Rombongan Ziarah Wali” menghiasi bus tersebut, baik rombongan majelis ta’lim, rombongan organisasi, hingga rombongan desa dan rukun warga.

    Hal ini membuktikan bahwa motivasi yang dimiliki wisatawan religi sangatlah kuat terlepas dari argumen bahwa modernisasi menggerus nilai-nilai keagamaan dan spiritualitas.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.