Akan Seperti Apa Pendidikan Indonesia di Era New Normal? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi siswa belajar di rumah. Foto: Tulus Wijanarko

Nurul Fauziyyah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Mei 2020

Sabtu, 23 Mei 2020 06:24 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Akan Seperti Apa Pendidikan Indonesia di Era New Normal?

    Periode New Normal akan menuntun kita menjadi lebih membuka mata dalam menyikapi transformasi pendidikan. Dalam dunia pendidikan aplikasi new normal terlihat dari penerapan mixed method: digital (remote learning) dan non-digital learning (offline learning). Teknologi dimanfaatkan sebagai penguat potensi pendidik, bukan untuk menggantikan pendidik dari profesinya. Karena hakikatnya secanggih apapun teknologi, ketulusan hati pendidik merupakan kunci terkuat keberhasilan pendidikan.

    Dibaca : 894 kali

    New Normal

    New normal merupakan habitual baru yang muncul atas penyesuaian pada kondisi sebelumnya atau kondisi normal yang dianggap baru. Presiden Joko Widodo pertama kali menggaungkan istilah new normal dalam video konferensi, 15 Mei 2020. “Kondisi mau tak mau akan berubah karena adanya penyesuaian dan tetap ada pemberlakuan protokol keselamatan serta kesehatan. PSBB dilonggarkan dan pelaksanaan new normal akan dilakukan bertahap di beberapa sektor ataupun pelaksanaannya di daerah,” kata dia. 

    Dalam video diskusi di kanal youtube Narasi yang mewawancarai Menteri Pendidikan mengenai “Belajar dari pandemi: normal baru dan teori konspirasi,” terpaparkan bahwa krisis utama yang dialami pada saat pandemi adalah kesehatan, psikologi, dan ekonomi. Pandemi ini memberikan big punch bagi dunia pendidikan yang menyadarkan untuk mampu segera bertransformasi menjadi lebih canggih. Bukan hanya dari konteks teknologi, namun juga konteks lain yang memengaruhi.

    Bagi dunia pendidikan, efek pandemi yang sangat membuka mata adalah digital gap dan economic gap (the have and the have not). Hal tersebut ternyata tidak hanya dirasakan oleh Indonesia, namun juga Amerika. Menurut Benjamin Herold dan Holly Yettick Kurtz dalam EducationWeek.org, sejak Presiden US, Donald Trump mengumumkan penutupan sekolah (13 Maret 2020), masalah besar dalam dunia pendidikan nampak jelas karena adanya pergeseran proses pembelajaran dari offline learning menuju online learning, yaitu gap antara yang mampu dan kurang mampu. Serta akses dan konektifitas ditengarai menjadi masalah besar yang harus dihadapi jika ingin online learning berjalan sukses.

    Ada peluang dari setiap masalah jika dilihat dengan bijaksana. Gap yang muncul tersebut juga dapat menjadi cambuk bagi dunia pendidikan untuk memperbaiki lagi sistem pembelajaran online-nya, entah menyederhanakan atau memberlakukan kebijakan yang tidak akan memberatkan banyak pihak. Proses pembelajaran yang awalnya cenderung offline learning, seharusnya bertahap juga mengaplikasikan online learning karena mampu memberi kemudahan dalam pembelajaran.

    Dalam dunia pendidikan aplikasi new normal terlihat dari penerapan mixed method: digital (remote learning) dan non-digital learning (offline learning). Teknologi dimanfaatkan sebagai penguat potensi pendidik, bukan untuk menggantikan pendidik dari profesinya karena pada hakikatnya secanggih apapun teknologi yang dikembangkan, ketulusan hati dari pendidik (pejuang pendidikan) merupakan kunci terkuat dari keberhasilan pendidikan. Hal tersebut sesuai dengan salah satu strategi dasar Deeper Learning yaitu wire - make technology the servant, not the master.

    Sadar tidak sadar, kondisi pandemi juga telah menuntun pendidikan Indonesia menjadi semakin penuh inovasi dan menumbuhkan kreativitas diri. Hal tersebut merupakan hal penting dalam transformasi pendidikan abad 21 ini, deeper learning. Dalam advanced.org, deeper learning membantu mentransformasi pendidikan dengan menekankan pada pemberdayaan hal-hal yang ada dalam kehidupan nyata sebagai bahan pembelajaran utama.

    Ilustrasi siswa belajar di rumah. Foto: Tulus Wijanarko

    Sehingga proses belajar bukan lagi hanya sekadar penguasaan teori, namun lebih kepada real world contexts. Ada enam strategi dasar dari deeper learning, yaitu empower: activate students to lead their own learning; keep it real: provide meaning to students learning experiences; contextualize: connect experiences and subjects; reach: extend learning beyond the school; inspire: customize learning to each student; dan wire: make technology the servant, not the master.

    Semasa pandemi, pembelajaran menjadi sangat bervariatif dan lebih memanfaatkan apa yang ada di sekitar untuk dijadikan alternatif pembelajaran. Justru positifnya, peserta didik dapat langsung mempraktikkan teori yang telah dipelajarinya ke dalam kehidupan nyata. Itu yang akan dibawa dan menjadi habitual baru dalam dunia pendidikan nantinya selepas dari pandemi ini.

    Applied learning telah menjadi santapan baru bagi para pemberi dan penuntut ilmu. Esensi pendidikan juga perlahan menunjukkan jati dirinya yaitu memanusiakan manusia. Banyak nilai yang tertanam ke dalam diri peserta didik semasa pembelajaran pada masa pandemi. Bukan hanya dari penguasaan materi baru, namun juga melatih kemampuan problem solving dan critical thinking mereka. Hal itu terkandung dalam berbagai tugas yang diberikan oleh pendidik.

    Keingintahuan yang tinggi juga terpancing dalam diri peserta didik karena mereka selalu ingin update akan hal baru sehingga ketika berdiskusi dengan teman ataupun handai taulan mereka sudah punya bahan dan tidak tertinggal pengetahuan. Jiwa solidaritas pun terpupuk sebab mereka sudah diajarkan untuk berbagi kepada yang membutuhkan dan saling menyemangati. Selain itu masih banyak ragam lainnya yang mampu membantu menginternalisasi anak untuk memiliki jiwa solidaritas atau empati yang tinggi.

    Faktanya memang Indonesia telah menduduki posisi teratas sebagai negara paling dermawan di dunia versi CAF World Giving Index 2018. Dan berkat pandemi ini semoga semakin banyak manusia yang penuh empati untuk terus berbagi dalam setiap kondisi.

    Selain itu, hal positif lainnya yang akan menjadi new normal dalam dunia pendidikan adalah ekosistem pendidikan lebih kental terasa semenjak pandemi ini hingga nanti setelahnya. Orang tua membantu proses didik anak, pendidik menuntun anak untuk terus belajar dan menemukan jati dirinya, anak semangat mempelajari banyak hal baru karena mendapat dukungan dari orang tua dan pendidik, dan sistem pendidikan juga semakin menunjukkan support system yang baik guna meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia.

    We do need something "new" to progress: "New Normal."

     

    Penulis: Nurul Fauziyyah/ Edukator Milenial



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.