Antara Pemimpin dan Rakyat Menjelang Idul Fitri - Analisa - www.indonesiana.id
x

rakyat dan pemimpin

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 23 Mei 2020 09:55 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Antara Pemimpin dan Rakyat Menjelang Idul Fitri

    Dibaca : 369 kali

    Corona memang wabah dan musibah, namun di baliknya tersembunyi hikmah dan berkah.

    (Supartono JW.24052020

    Untuk pertama kalinya, sejarah dunia mencatatkan, Hari Raya Umat Muslim, Lebaran Idul Fitri 1441 Hijriah dalam situasi wabah dan musibah pandemi corona. 

    Hingga hari kemenangan tiba, setelah umat muslim melewati ibadah Ramadan di tengah pandemi, namun tercatat, betapa banyak kisah di negeri ini yang tak patut ditiru dan diteladani. 

    Tengoklah betapa bertebaran kebijakan pemimpin negeri ini, yang ujungnya terkesan hanya mementingkan diri sendiri, tak peduli jerit dan derita rakyat, sebab semua dilakukan dengan seenak hati, pura-pura atau memang benar buta dan tuli, karena terus mencipta kontroversi dan kontradiksi. 

    Akibatnya, berserakan deskripsi laku langkah masyarakat yang tak cerdas intelegensi dan personaliti, hingga mendampak pada sikap antipati, skeptis, mudah marah dan emosi, tak mampu mengendalikan diri. 

    Apakah sikap dan perilaku rakyat yang demikian, salah? Bila ya, siapa yang membuat rakyat menjadi demikian? Memang, sangat disayangkan, di tengah pandemi corona, pemerintahan di bawah kendali Presiden Jokowi, bukan mengambil momentum untuk unjuk gigi, mencipta prestasi untuk rakyat dan bangsa ini, terutama yang sangat merindukan keadilan dan kesejahteraan dan membuat rakyat bangga, hormat, dan segan. 

    Sebaliknya, Jokowi dan pemerintahannya hanya unjuk kedigdayaan dan arogansi kekuasaan, tak memihak wong cilik, dan membekap kebebasan demokrasi hasil reformasi, kembali jauh ke masa silam, masa penjajahan. 

    Sulit rasanya sekarang menyembuhkan luka hati rakyat dengan semudah membalik telapak tangan. Sebab, rakyat terlanjur terluka teramat dalam. Tak ada yang berpikir bahwa Presiden yang berhasil duduk di singgasana hasil dari pilihan rakyat "yang memilih" ini, akan mendapat hadiah menjelang hari kemenangan dengan diksi dari para netizen "turunkan Jokowi". 

    Semua itu, bukan terlahir begitu saja, namun akibat dari berbagai peristiwa, terutama di saat pandemi corona, sebab Jokowi dan pemerintahannya abai dari "suara rakyat". 

    Bahkan, yang di luar dugaan, melihat beberapa sosok menteri, staf khusus, staf ahli dll, dari pemerintahan Jokowi baik secara langsung atau saat tersorot kamera televisi, rakyat sudah antipati. Hal ini, menurut catatan saya, baru terjadi dalam sejarah pemerintahan Indonesia. 

    Untuk itu, menjelang datang di gerbang Hari Kemenangan Idul Fitri 1441 Hijriyah, apakah Presiden dan pemerintahan Jokowi cukup sekadar meminta maaf kepada rakyat yang sudah luka hati? Tidak. 

    Permintaan maaf saja tidak cukup. Namun, pemerintahan Kabinet Indonesia Maju, memang harus menunjukkan kerja nyata sebagai pemimpin bangsa yang amanah, memihak kepada semua rakyat, menjadi panutan, teladan, dan berupaya membuat rakyat Indonesia benar-benar adil dan makmur, serta menjadi bangsa yang cerdas. Mampu mengatasi situasi sulit corona dan lainnya. 

    Semoga seusai Idul Fitri, harapan ini dapat terkabul, luka hati rakyat dapat terobati. Namun, bila tetap abai, seenak hati sendiri, dan terus "ngeyel", maka Kabinet Indonesia Maju, akan menentukan nasibnya sendiri, sesuai dari hasil "kinerjanya". Ingat, pemimpin di negeri demokrasi ini, dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Bukan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk diri sendiri. 


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Admin

    3 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 678 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).