Gimana Kalau Sekarang Giliran Dokter yang WFH? - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Indonesia terserah

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 27 Mei 2020 09:11 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Gimana Kalau Sekarang Giliran Dokter yang WFH?

    Dibaca : 1.761 kali


    Tagar #TerserahIndonesia, yang baru-baru ini viral, boleh dikata adalah ekspresi kekecewaan dan kegeraman, mungkin juga kegusaran para dokter, perawat, maupun tenaga kesehatan lainnya melihat gaya pemerintah yang 'demikian dinamis' dalam menangani pandemi Covid-19. Mereka juga kecewa, geram, dan gusar melihat perilaku sebagian masyarakat yang terkesan meremehkan ancaman corona. Misalnya, massa yang gagah berani berkumpul di halaman Gedung Sarina untuk menjadi saksi sejarah penutupan gerai pertama McD di Indonesia, berkerumun tanpa jarak fisik di Bandara Soekarno-Hatta, atau ngumpet di bagasi kolong bis agar bisa mudik.

    Kecewa, gusar, dan geram merupakan sikap yang dapat dipahami mengingat banyak orang, khususnya tenaga medis, yang telah bekerja keras mengurus para positifer Covid maupun yang diduga terpapar. Mereka bukan hanya mengorbankan banyak waktu lebih dari biasanya, tapi juga mempertaruhkan nyawa. Bahkan di saat alat pelindung diri masih sangat terbatas persediaannya, tenaga medis tetap berada di baris depan.

    Di saat para tenaga medis maupun tenaga pendukung lainnya bekerja keras, sebagian masyarakat malah terlihat cuek bebek. Ketika sebagian masyarakat patuh pada seruan tinggal di rumah, tidak shalat berjamaah di masjid, tidak mudik, tidak berboncengan sepeda motor, sebagian lainnya masih nongkrong di warung. Setelah ikhtiar berpekan-pekan berjalan, pembatasan moda transportasi bahkan sudah dilonggarkan. Dengan syarat tertentu, sebagian warga diperbolehkan terbang untuk alasan bisnis, dinas, kerabat meninggal, dan sebagainya. Sebentar lagi, orang-orang didorong untuk mulai masuk kantor.

    Hingga kini belum jelas benar apakah situasi memang sudah benar-benar kondusif bagi masyarakat untuk beraktivitas secara masif? Kendatipun telah disusun protokol kesehatan yang mengatur jarak karyawan bekerja di kantor, apakah protokol itu akan 100% dipatuhi? Sebagian perusahaan mungkin patuh menegakkan disiplin protokol, tapi yang lain? Seberapa besar risiko yang harus ditanggung dengan adanya keputusan untuk mengaktifikan kembali roda-roda ekonomi walaupun belum 100%?

    Karena sebagian warga boleh bepergian dengan alasan dan syarat tertentu, dan sebagian masyarakat lainnya acuh tak acuh saja berkumpul di berbagai tempat, para tenaga medis merasa usaha mereka tidak dihargai selayaknya. Para tenaga medis, relawan, maupun petugas-petugas lain di Gugus Tugas niscaya pusing tujuh keliling menyaksikan dinamika perubahan yang begitu cepat. Tagar #TerserahIndonesia boleh dikata merupakan peringatan para dokter bahwa belum waktunya kewaspadaan dikendorkan atas alasan apapun. Tagar ini juga peringatan bahwa langkah-langkah yang serba tanggung justru akan memperpanjang masa pandemi di Indonesia.

    Kegusaran terhadap situasi ini membuat sebagian orang berpikir, jika kemudian makin banyak orang keluar rumah untuk bekerja maupun urusan lain, bagaimana jika sekarang giliran para dokter dan perawat yang bekerja dari rumah? Setelah berpekan-pekan bekerja di luar rumah dengan penuh ketegangan dan terpaksa tidak bisa leluasa bertemu istri dan anak, bagaimana jika kini para tenaga medis yang mendapat kesempatan 'work from home'?

    Jika selama ini banyak orang bekerja di rumah, sedangkan para tenaga medis terus-menerus bekerja di luar rumah, bagaimana kalau aturan ini dibalik? Toh, orang-orang sudah boleh bepergian dan sebentar lagi mulai masuk kerja ke kantor atau pabrik. Gantian, dong! >>


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.