Sifat Kekanak-kanakan Masyarakat Hambatan Menuju New Normal - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Egois adalah kata yang tepat menggambarkan sifat dasar anak-anak. Sifat ingin memuaskan segala keinginan sesaat dengan segar. Banyak dari kita yang terjebak dalam tubuh dewasa dengan mental anak-anak. Tua itu pasti, dewasa itu pilihan, merupakan kata bijak yang tepat menggambarkan fenomena dalam pembahasan kali ini.

Muhammad Radhi Mafazi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 15 Januari 2020

Rabu, 27 Mei 2020 05:29 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Sifat Kekanak-kanakan Masyarakat Hambatan Menuju New Normal

    Dibaca : 710 kali

    Rencana akan berakhirnya masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa wilayah yang menjadi epicentrum  penyebaran virus covid-19, menjadi angin segar bagi masyarakat Indonesia, ditambah lagi, adanya wacana relaksasi di berbagai sektor kehidupan yang selama ini “terkekang”. Rencana tersebut mulai direalisasikan pada tanggal 13 Mei 2020, salah satunya pembukaan moda transportasi umum dengan protokol kesehatan Covid-19, sebagai bentuk menormalkan kembali kehidupan dengan kebiasaan baru.

    Ternyata, rencana ini menimbulkan kegaduhan baru di tengah kehidupan masyarakat. Alhasil data kasus Covid-19 yang dipublikasikan oleh BNPB, menunjukan angka peningkatan yang signifikan, bahkan pada tanggal 21 Mei 2020 disebut sebagai pemecah rekor. Menurut data dari Kemenkes, kasus positif  bertambah sebanyak 973, dan meninggal 1.278.

    Protokol kesehatan selalu digaungkan, iklan di berbagai media selalu disiarkan, tagline di medsos selalu diviralkan. Ada sebagian dari kita melakukan penundaan mudik. Menahan rindu dengan keluarga, mencoba berdamai dengan keadaan, mengikuti cara kerja distruption era yang digadang-gadang sebagai new normal atau kebiasaan normal baru.

    Pusaran Krisis Kedewasaan

    Tua itu pasti, dewasa itu pilihan, salah satu kata bijak yang dapat menggambarkan fenomena di tengah masyarakat baru-baru ini. Itu terlihat pada perilaku berkerumun menunggu di depan pintu salah satu mall, saling berdesakan saat akan masuk pintu mall, sambil  berlarian  memilih barang. Seolah melihat harapan yang begitu berkilauan.

    Perilaku tersebut tak ubahnya seperti anak-anak, ketika diberikan hadiah setelah menjalani penderitaan berupa hukuman, lalu ia diberikan hadiah. Dia begitu gembira tanpa menghiraukan konsekuensi bagi dirinya dan orang lain.

    Tapi, apakah mereka yang berkerumun di depan pintu mall dan berlarian saat pintu mall dibuka, adalah anak-anak? Tidak, kita bisa melihat bersama, secara fisik seperti manusia dewasa, secara  usia kalkultif dewasa, tapi entah berapa dengan usia mentalnya. Penulis sengaja menghilangkan satu tahapan perkembangan manusia, yaitu tahap remaja yang pemenuhan kenikmatannya secara transaksional (memikirkan untung dan ruig bagi dirinya). Tujuan menghilangkan dalam pembahasan kali ini, agar kita dapat dengan mudah  memahami fenomena ini. Letak perbedaan mendasar secara mental pada anak dan dewasa bisa dilihat dari sisi tujuan hidup.

    Menarik, saat menghubungkan antara cara mencapai kenikmatan dengan usia mental saat ketidakpastian seperti sekarang ini. Mundur ke belakang dari pengalaman manusia di masa anak-anak, ingatkah kita, pada umumnya sewaktu kecil, ketika menginginkan mainan maka kata yang sering kita ucapkan adalah “aku ingin ini” dilanjutkan dengan sikap merajuk kepada orangtua. Ataupun selanjutnya malah menangis, atau parahnya sebagian mencuri secara diam-diam ini adalah satu-satunya jembatan mencapai kenikmatan tersebut.

    Berbeda dengan orang dewasa, umumnya mereka akan menggunakan prinsip sebagai tujuan. Prinsip adalah sebuah nilai tentang baik dan buruk, untuk kebaikan dirinya dan sekitar yang mengarah pada prinsip kebijaksanaan.

    Menurut Mark Manson (2020) dalam bukunya Everything Is F*cked, menjabarkan mengapa manusia tidak dapat berkembang, salah satunya karena kita terjebak pada fisik yang dewasa dengan mental anak-anak. Ia juga menjelaskan kedewasaan adalah kesadaran bahwa terkadang sebuah prinsip yang paling inti adalah tentang nilai baik dan buruk yang tidak bisa ditawar-tawar. Bahkan hal itu menyakitkan.

    Individu dengan usia mental yang dewasa, mempunyai nilai keluhuran, serta dalam melihat hubungan mampu menanggung resiko luka batin. Hingga saat yang lain mengeluh, karena keterasingan, manusia dengan mental dewasa, akan memiliki kesadaran yang konsisten untuk menjaga dirinya dan orang sekitar dengan bijaksana.

    Kebijaksanaan atau keluhuran yang dimiliki oleh manusia dengan usia mental yang dewasa, tidak akan mudah tergiur untuk melakukan hal-hal tidak penting. Seperti menunggu di depan pintu mall dengan cara bergerombol saat pandemi, lalu berlarian saat pintu mall dibuka, demi mendapatkan kenikmatan sesaat yang berakibat fatal dari sisi kesehatan baik untuk dirinya maupun oranglain. Inilah kenapa manusia tidak pernah berkembang, bahkan selalu merasa benar terlebih ketika kenikmatannya diambil. Bulan Ramadan sebagai bentuk penempaan dan latihan penderitaan yang melatih kita untuk mengerem kenikmatan sesaat seharusnya dapat kita tingkatkan di bulan selanjutnya.

    Sebaliknya apabila sebagian dari kita memilih untuk mengambil, sikap tidak peduli dengan ini semua, maka secara bersama akan terjebak dalam pusaran krisis kedewasaan, yang akan membahayakan semuanya. Sehingga jalan menuju New Normal , hanya angan-angan semata.

    Jalan Menuju New Normal

    Aturan dalam protokol kesehatan penanganan Covid-19 termasuk PSBB merupakan kesadaran kolektif antara rakyat dan pemimpin, sebagai upaya bersama mencegah persebaran virus tersebut. Tidak ada individu di tengah masyarakat yang menyukai hal tersebut dari sisi manapun. Walaupun demikian tidak ada satupun yang protes berlebihan layaknya negara Paman Sam atau turun ke jalan ala demonstran dari negara beruang putih, yang menolak locdown serta kebijakan di rumah saja. Hal ini bukti dari kesepakatan secara kolektif bangsa ini.

    Terbukti, pada tanggal 23 Mei 2020, angkanya mulai menunjukkan penurunan kasus yaitu  949, setidaknya sudah berhasill berkurang sekitar 24 kasus, dibanding tanggal 21 Mei 2020, pada tanggal 26 Mei 415 kasus. Sebuah bukti  dari hasil menguasai diri untuk menahan pemenuhan kenikmatan, dengan menjadikan prinsip memutuskan mata rantai penyebaranya sebagai tujuan. 

    Termasuk gerakan menunda mudik, yang sudah menjadi kultur saat hari raya Idul Fitri. Anggap saja sebagai bentuk pelatihan menderita pada diri ini. Menderita untuk sementara waktu, demi kesejahteraan umat manusia.

    Berjalannya waktu kenikmatan sementara, yang segera ingin kita wujudkan dengan egois akan kehabisan rasanya, karena sifatnya yang hanya sesaat. Sebaliknya ketika kita bisa bersama menguasai keinginan mencapai kenikmatan tersebut di masa pandemi, lalu trend dari grafik penyebaran dari kasus Covid-19  melandai, secara bersama kita bisa melakukan kegiatan seperti biasanya dengan cara yang baru. Tahan dulu, semua merasakan hal yang sama saat ini. Sehingga pada saatnya nanti kita menuju kehidupan normal baru (New Normal), dengan kebijaksaan  pada setiap diri individu. Selamat meningkatkan diri.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.