Sunyinya Suara Cendekiawan di Kala Pandemi - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Kekuasaan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 27 Mei 2020 20:09 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Sunyinya Suara Cendekiawan di Kala Pandemi

    Dibaca : 1.535 kali

    Dalam perubahan sosial, kaum intelektual lazimnya mengambil peranan yang signifikan dalam arti memengaruhi arah perjalanan masyarakatnya. Catatan sejarah memperlihatkan hal ini, walaupun upaya-upaya yang dilakukan kaum intelektual pada kurun masa masing-masing tidak selalu membuahkan hasil seperti yang dicita-citakan. Namun, yang penting, mereka terlibat di dalamnya dengan semangat juang yang tinggi, bukan bersembunyi di ruang-ruang sepi untuk memandangi perubahan yang sedang berlangsung.

    Perubahan sosial yang diakibatkan oleh apapun, termasuk oleh wabah penyakit, semestinya merupakan momen penting bagi berperannya kaum intelektual publik. Catatan sejarah juga menunjukkan bagaimana kaum intelektual tidak tinggal diam menyaksikan masyarakatnya terombang-ambing oleh pergerakan yang belum diketahui arahnya. Kemampuan nalar dan keberpihakan moral mendorong kaum intelektual untuk memberi sumbangsih yang tidak sebarang orang mampu melakukannya.

    Di masa-masa perubahan, baik yang sengaja dirancang maupun yang didorong oleh kekuatan di luar masyarakat--seperti wabah penyakit, intelektual telah dicatat dalam kitab-kitab sejarah sebagai kaum pemberi pencerahan. Ketika para pemimpin politik sukar melepaskan kepentingan politik pribadi maupun kelompok dan sponsornya, kaum intelektual bebas yang sungguh-sungguh mengedepankan kebaikan masyarakatnya akan berperan sebagai mercu suar. Mereka menunjukkan ke mana kapal perubahan sebaiknya berlabuh.

    Sepanjang tidak mengusung kepentingan terbatas kelompok politik dan ekonomi tertentu, kaum intelektual dapat leluasa menyuarakan kebenaran demi kebaikan masyarakatnya. Sebagian intelektual tidak membawa serta pamrih pribadi untuk ikut menikmati previlese kekuasaan, yang bagi sebagian intelektual lainnya begitu memukau sehingga mereka rela untuk bergabung walaupun menemui kenyataan bahwa kekuasaan ternyata tidak seindah yang mereka bayangkan.

    Di masa Orde Baru, meskipun situasinya lebih sukar ketimbag sekarang, namun banyak intelektual yang tetap menyuarakan kebenaran, menunjukkan jalan, dan memberi pencerahan kepada masyarakat mengenai apa yang sedang terjadi dan kemungkin apa yang akan terjadi. Kita pernah memiliki intelektual publik yang berdiri bebas di atas kakinya sendiri tanpa terpengaruh oleh bujukan kekuatan politik manapun, sebab mereka mengutamakan kebaikan bagi seluruh masyarakatnya. Kita pernah punya sosok seperti Sudjatmoko, Deliar Noer, Kuntowijoyo, dan Arief Budiman untuk menyebut beberapa nama.

    Di masa sekarang, ketertarikan para intelektual pada pusat-pusat kekuasaan demikian besar. Dengan berbekal angan-angan berjuang melalui kursi kekuasaan, sebagian intelektual ini terjun ke dunia politik praktis, seperti dilakukan Amien Rais, ada pula yang tertarik untuk duduk sebagai hakim, atau menjadi tokoh di dalam institusi negara, atau yang kerap dibanggakan ialah masuk ke dalam lingkaran dalam Istana.

    Terbukti bahwa ruang gerak menjadi terbatas. Sangkar-sangkar kekuasaan menjadikan suara sebagian intelektual ini tidak lagi nyaring dalam membela kepentingan masyarakat. Mereka tidak lagi menyalakan lampu suar untuk memandu masyarakat berjalan ke arah yang menurut mereka benar dan baik. Lampu suar mereka padam atau nyaris padam. Sungguh getir bahwa mereka terlihat kesulitan mewujudkan apa yang sebelumnya mereka suarakan dengan lantang ketika masih berdiri bebas.

    Saat pandemi Corona mencekam dan mendorong perubahan di masyarakat, suara kaum intelektual nyaris sunyi. Sejak wabah mulai menyebar hingga hari ini, ketika wacana tentang new normal demikian viral, tak terdengar suara kaum intelektual publik yang menanggapi kejadian-kejadian dan perubahan-perubahan yang sedang berlangsung. Apa sesungguhnya yang sedang mereka pikir dan kerjakan, masyarakat luas tidak pernah tahu.

    Ketika pemerintah dan DPR, yang secara normatif adalah wakil rakyat, berjalan seiring setujuan dengan agenda mereka sendiri, para intelektual publik tidak menawarkan rasionalitas pembanding agar masyarakat mampu memberi penilaian secara objektif. Di tengah pandemi ini, suara intelektual publik nyaris tak terdengar. Entah mereka sedang berada di mana, atau tengah me-lockdown diri? Wallahu 'alam. >>


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.