Apa Salah Kritik Farid Gaban Kepada Menteri Teten Masduki? - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Tangkapan layar foto Farid Gaban saat diwawnacara Kompas TV.

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 28 Mei 2020 08:55 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Apa Salah Kritik Farid Gaban Kepada Menteri Teten Masduki?

    Dibaca : 1.629 kali

    Kritik Farid Gaban kepada Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM) Teten Masduki sempat menarik perhatian media lantaran Farid kemudian disomasi. Uniknya, atau anehnya, yang mengajukan somasi bukan Teten, melainkan orang lain. Seperti dikutip banyak media online mainstream, Teten kemudian memberi tanggapan. "Untuk apa disomasi? Kritik itu meskipun tidak benar, tidak akurat, tetap saja harus dilihat sebagai aspirasi masyarakat," kata Teten.

    Pada mulanya Farid Gaban mengritik kerjasama kementerian yang dipimpin Teten dengan Blibli.com, sebuah online marketplace. Farid mengungkapkan apa yang ia lihat sebagai ironi di saat pandemi: rakyat membantu rakyat, penguasa membantu pengusaha. Menanggapi kritik ini, Teten menjawab bahwa kerjasama program KUKM Hub itu ditujukan untuk membantu pengusaha kecil dan kerjasamanya bukan hanya dengan Blibli.com, tapi juga dengan Tokopedia, Shopee, Lazada, dan Bukalapak.

    Secara substansi, itulah kritik Farid Gaban dan tanggapan Teten. Namun, yang menarik ialah bagaimana Teten menanggapi kritik tersebut. Dari dulu, Farid memang tukang kritik, terutama bila melihat kebijakan publik yang dalam penilaiannya tidak tepat atau tidak berpihak kepada rakyat kecil.

    Dulu, sebelum menjadi pejabat publik, Teten Masduki juga tukang kritik. Sebagai aktivis anti-korupsi yang pernah memimpin Indonesian Corruption Watch (ICW), Teten pernah membongkar kasus korupsi yang melibatkan seorang jaksa agung sehingga ICW memperoleh penghargaan Suardi Tasrif Award tahun 1999.

    Respon Teten terhadap kritik Farid itu memang sudah selayaknya begitu. Jika dulu Teten suka mengritik pejabat, kini sebagai pejabat publik, Teten niscaya sudah paham benar risiko dikritik, walaupun kritik itu mungkin--menurut Teten--tidak akurat. Sebagai eks-aktivis antikorupsi yang lantang akan ironis jadinya jika kemudian Teten menanggapi kritik Farid itu dengan respon yang berlebihan, somasi umpamanya.

    Dulu, sebagai aktivis antikorupsi, Teten tergolong tidak lelah mengritik praktik korupsi para pejabat. Sekarang, giliran Teten yang menjadi sasaran kritik karena kebijakannya. Mestinya, Teten sudah tahu bahwa kritik tetap diperlukan, setidaknya untuk mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terpeleset seperti orang-orang yang dulu gencar ia kritik. Kritik merupakan risiko yang setiap pejabat publik mesti siap menghadapinya tanpa kemarahan dan rasa kesal, sebab tidak setiap kebijakan yang dibuat pejabat publik selalu dan pasti benar.

    Sebelum kritik Farid, Teten --sewaktu menjabat staf di Istana Presiden--malah sempat disindir habis oleh adik-adiknya yang kini mengelola institusi almamaternya, Indonesian Corruption Watch (ICW). Para aktivis ICW generasi kini sempat memasang beberapa foto pegiat HAM dan pegiat antikorupsi, di antaranya Teten, di akun instagram @sahabaticw. Foto-foto itu disertai tulisan 'Dicari' [hilang karena terlalu dekat dengan istana] sebagai sindiran atas 'tidak-berbunyinya' para aktivis yang berada di lingkungan Istana ketika Presiden Jokowi dan DPR menyusun revisi atas UU KPK.

    Ketika itu, seperti dikutip media, Teten hanya berkomentar, "Wajarlah mereka marah." Mungkin hanya Teten yang paling mengerti apa makna komentarnya itu dan bagaimana suasana hatinya ketika itu.

    Kini, beberapa bulan setelah kejadian itu, sungguh ironis seandainya Teten kemudian mensomasi Farid Gaban lantaran sebuah kritik, sebab ini akan menambah bukti betapa aktivis yang dulu lantang menentang korupsi pada akhirnya tak kuasa berhadapan dengan pesona kuasa--ia akan mereplikasi sosok yang dulu ia kritik. Lalu, jika ada yang kepanasan padahal orang lain yang dikritik, yah itulah namanya hidup... hidup memang aneh...>>


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.