Tangan-tangan Tuhan di Tengah Wabah Covid-19  (oleh Dr Jannus TH Siahaan) - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Sejumlah paket bahan makanan serta masker dicantelkan di pintu pagar seorangw arga di Bandung, Jawa Barat, Mei 2020. Warga yang membutuhkan dipersilakan untuk mengambil secara cuma-cuma. Tempo/Prima Mulia

Indonesiana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 28 Mei 2020 14:57 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Tangan-tangan Tuhan di Tengah Wabah Covid-19  (oleh Dr Jannus TH Siahaan)

    Dibaca : 2.898 kali

    Oleh Dr Jannus TH Siahaan, pengamat sosial tinggal di pinggiran Bogor
     
     
    Sungguh! Baru kali ini kita benar-benar bisa menyaksikan dengan mata telanjang, "tangan" Tuhan ada di mana-mana. Dari satu pagar rumah ke pagar rumah lain. Dari gang sini ke gang sebelah. Dari RT ke RW. Dari desa hingga kota. Kota kecil di daerah terpencil hingga kota-kota besar di belantara Indonesia. Uluran tangan itu menjuntai, dari bentangan langit, menyaput semua. Semua, tanpa simbol. Tanpa identitas.
     
    Hanya satu yang terasa: identitas ketuhanan. Di sini, dengan nyata, tangan-tangan itu menjelma perwakilan Tuhan di atas tangan-tangan anak cucu Adam. Lewat tangan-tangan itu, Tuhan menyambung hidup mereka yang sekarat. Melalui tangan-tangan itu, yang miskin terbantu, yang fakir diperhatikan. Yang teraniaya merasa terlindungi. Yang terpapar menikmati ketenangan dalam derita.
     
    Tangan-tangan itu, entah tangan siapa. Tiada identitas dan nirsimbol. Hanya kebajikan yang mengalir, saling berkejaran dengan pasukan wabah Covid-19 yang membuat manusia tiada berdaya. Di mana itu negara adidaya? Ke mana para penguasa dan pengusaha yang biasanya jarang memohon? Kali ini, Tuhan memaksa semua duduk, bersimpuh dan bersujud : "Tuhan ! Sayangilah hamba-hamba-Mu yang sudah terlanjur angkuh dan sombong !"
     
    Menghalau Virus
     
    Tangan-tangan itu ada di mana-mana. Menyebar dan mengejar gelombang virus yang telah menelan ratusan ribu lembar nyawa manusia. Tangan-tangan itu ada di semua negara, di tengah-tengah bangsa yang memohon. Di mana ada isyarat invasi Corona, tangan-tangan itu datang menghalau, memberi rasa tenang, tiada peduli siapa korban sang virus. Setiap kali menolong, dia tak perlu tahu data dan riwayat korban.
     
    Tangan-tangan itu adalah tangan-tangan para filantropis, sukarelawan, pejuang kemanusiaan, pengusaha, penguasa, rakyat jelata, dari segala level dan strata masyarakat. Itulah hebatnya "tangan" Tuhan. Bisa berada di atas semua jenis tangan makhluk hidup. Hanya "tangan" Tuhan yang tak butuh persetujuan siapapun untuk bisa memberi. Hanya "tangan" Tuhan yang mustahil ditahan bila sudah berkehendak menyantuni.
     
    Memberi adalah kegiatan dominan Tuhan dalam hubungannya dengan makhluk, terlebih manusia. Sebab, hidup manusia bergantung sepenuhnya kepada pemberian Tuhan. Ketika pemberian terhenti, maka terhenti pula kehidupan. Maka sepanjang hidupnya, setiap makhluk pasti membutuhkan program pemberian. Bagaimana Tuhan memberi ? Dia menggunakan tangan-tangan makhluk-Nya.
     
    Bagi Tuhan, memberi adalah sifat-Nya dan Firman-Nya. Dengan memberi, Tuhan menunjukkan kepada makhluk bahwa Diri-Nya Maha Ada. Mau tahu sosok Tuhan yang sebenarnya, kenalilah salah satu sifat-Nya : Maha Pemberi alias Maha Pengasih. Ia memberi dan mengasihi siapa saja tanpa embel-embel. Embel-embel agama atau etnis atau status sosial. Dan, embel-embel lain yang biasa jadi identitas makhluk hidup.
     
    Persis corona saat memastikan korbannya. Di hadapan corona, semua embel-embel hilang. Semua identitas sumir. Semua dia bidik. Terlebih yang terang-terangan melanggar atau bermain-main dengan protokol kesehatan. Kalau ada orang sulit diajak hidup bersih, malas olah raga, pola makan tidak teratur, kekebalan tubuh diabaikan, antibodi tidak memadai, maka bersiaplah corona datang menyerang.
     
    Konsensus Bersama 
     
    Semua item dalam protokol kesehatan adalah konsensus bersama. Dibuat untuk perlindungan diri dan masyarakat. Melanggar konsensus berakibat fatal. Nyawa dan kehidupan taruhannya. Mengabaikan komitmen hidup bersama, berarti memanggil corona. Virus ini memang tercipta sebagai konsekuensi logis dari pola hidup, pola pikir, pola makan dan gaya hidup manusia yang tidak sehat.
     
    Kehidupan yang cenderung materialistis, hedonis dan serta instan, telah membuat manusia kian jauh dari jalan-jalan ketuhanan. Pilihan-pilihan hidup monoton. Tujuannya cuma satu: kepuasan sensual. Ketergantungan pada materi membuat manusia melebarkan disparitas antara dunia materi dengan immateri. Demi kelangsungan hidup yang sejati, dua aspek ini mesti berdampingan secara seimbang.
     
    Corona tidak serta merta muncul. Ia hanyalah akibat. Sebabnya adalah manusia. Manusia yang sudah mulai abai menjadual pertemuan dengan Tuhan. Menganggap Tuhan hanya bersemayam di rumah-rumah ibadah. Tuhan menetap di ruang tertutup di alam bawah sadar kita. Ketika cara berpikir dan praktek ber-Tuhan kita stereotyped seperti ini, maka virus dengan segala jenis akan mudah datang. Kini, giliran Corona.
     
    Dunia pun berguncang. Invasi corona telah mengguncang hati nurani terdalam semua orang dan semua bangsa. Sifat Maha Pemberi Tuhan, menetes ke taman-taman-Nya. Di mana gerangan taman-taman itu berada ? Di hati para pejuang cinta kasih. Di sanubari para pejuang kehidupan. Di relung suci para jihadis yang menghidupkan. Sifat Tuhan itu beremanasi, menyinari sudut-sudut gelap, dan memancarkan energi ilahiah bagi manusia.
     
    Dari Tuhan semua berasal, dan kepada Tuhan semua akan kembali. Virus-virus itu berasal dari Tuhan sebagai tesa atas hubungan timbal balik antara perlakuan manusia terhadap dirinya, lingkungannya dan Tuhannya. Lalu Tuhan mengirim tangan-tangan para relawan dan sukarelawan sebagai antitesa atas ancaman varus-virus ini. Sintesanya adalah kesadaran akan mutlaknya kehadiran Tuhan di tengah-tengah kehidupan manusia.
     
     
    Ikhtisar
     
    Demikianlah Tuhan berkehendak. Tidak ada kehidupan di alam semesta yang berada di luar kehendak-Nya. Gelombang simpati, empati, rasa keterpanggilan untuk hadir, rasa memiliki akan hidup yang aman dan damai, telah menggedor kesadaran manusia. Mereka bergerak dalam senyap atau dengan gemuruh, melangkah sigap, untuk menjadi perantara charity Tuhan bagi proses pulihnya kehidupan di atas bumi.
     
    Selamat datang tangan-tangan Tuhan! Selamat tinggal virus-virus dalam segala jenisnya. Virus yang kasat mata atau virus yang tidak terdeteksi alat-alat produk teknologi mutakhir. Virus-virus telah mengembalikan sisi-sisi terdalam manusia untuk bertegur sapa dengan Tuhan. Kembali sebagai parantara kasih dan sayang Tuhan untuk semesta. Jadilah tangan-tangan Tuhan yang menghidupkan !
     
     
     
     
    * *Dr Jannus TH Siahaan* adalah pengamat sosial tinggal di pinggiran  Bogor,-


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.