Menjadi Contoh Penerapan New Normal, Korea Selatan Terancam Gelombang Serangan Kedua - Pilihan - www.indonesiana.id
x

korsel

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 29 Mei 2020 06:10 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Menjadi Contoh Penerapan New Normal, Korea Selatan Terancam Gelombang Serangan Kedua

    Dibaca : 1.017 kali

    Korea Selatan dipuji karena dianggap telah sukses menangani pandemi Covid-19. Negara ini pernah mencatat nol kasus dalam satu hari, dan menjadi negara percontohan penerapan new normal di dunia. Semua aktivitas sudah dibuat dalam skema new normal seperti tempat umum mulai dari gereja hingga sekolah dibuka. Bahkan, siswa pun diizinkan bersekolah sejak Minggu lalu. 

    Ternyata, hari ini, Kamis (28/05), dalam beberapa jam yang lalu, berbagai media nasional dan internasional, antara lain Reuters, melansir ada 79 kasus baru Covid-19. Malahan, berdasarkan keterangan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC), angka ini merupakan jumlah kasus baru harian terbanyak sejak 5 April. 

    Kasus tambahan itu tercatat pada Rabu tengah malam dan menambah total menjadi 11.344 kasus dengan 269 kematian di seluruh Korsel. Dalam keterangannya, KCDC menyebut sedikitnya ada 68 kasus tambahan yang merupakan infeksi domestik dan muncul ketika otoritas kesehatan berjuang melawan wabah yang berkembang terkait fasilitas logistik perusahaan e-commerce. 

    Kluster baru, ditemukan di ibu kota Seoul yang padat penduduk. Setelah kluster Itaewon, kini Korsel dihadapkan pada kluster perusahaan e-commerce Coupang di Bucheon, Seoul Selatan. Sekitar 4.100 pekerja dan pengunjung kini melakukan isolasi mandiri. "Sebanyak 80% sudah diuji," kata Wakil Menteri Kesehatan Korsel Kim Gang-lip, pada wartawan dikutip dari AFP. 

    Kim memprediksi kasus baru akan terus meningkat seiring tes yang dilakukan. Jumlah kasus kemarin adalah peningkatan terbesar sejak pengumuman 81 pasien baru, di 5 April lalu. 

    Sebelum laporan hari ini, sejatinya meskipun penularan virus corona di Korsel masih terus terjadi, Korsel telah mengambil kebijakan melonggarkan pembatasan. Tempat usaha seperti beberapa kafe di negeri gingseng itu telah dibuka dan menggunakan jasa robot barista untuk melayani konsumen. 

    Tak ketinggalan, produsen mobil Hyundai KIA juga sudah mengoperasikan pabriknya. Lalu, beberapa pertandingan olahraga seperti bisbol sudah diizinkan berlaga namun tanpa disaksikan penonton di lapangan.

    Keberanian Korsel melonggarkan kebijakan hingga membuat kondisi new normal, adalah buah dari kerja kerasnya yang berhasil menekan jumlah kasus infeksi dan korban meninggal. Mereka didukung berbagai fasilitas teknologi informasi yang digunakan sebagai peranti menekan penyebaran Covid-19. 

    Namun, atas pujian karena keberhasilan dalam menekan virus corona dan menjadi negara percontohan new normal, dengan adanya laporan kasus hari ini, Korsel kini terancam gelombang kedua serangan Covid-19. 

    Karenanya, pada Kamis, Korsel pun memberlakukan kembali aturan jaga jarak sosial (social distancing) yang sejak awal bulan ini sempat dilonggarkan oleh pemerintah setempat. 

    Temuan kasus hari ini, memaksa para pejabat setempat memperkuat kembali aturan-aturan jarak sosial yang sebelumnya sempat diperlonggar sejak 6 Mei lalu, dengan pemberlakuan kembali pembatasan sosial. Semuanya akan ditutup kembali mulai dari Jumat (29/05 hingga selama dua pekan ke depan. 

    Sementara, perusahaan-perusahaan didesak untuk memperkenalkan kembali model kerja yang fleksibel, di antara langkah-langkah pembatasan lainnya. “Kami telah memutuskan untuk memperkuat semua tindakan karantina di wilayah metropolitan selama dua minggu mulai besok hingga 14 Juni,” kata Menteri Kesehatan Korea Selatan, Park Neung Hoo, dikutip AFP, Kamis (28/5/2020). 

    Warga juga disarankan untuk menahan diri dari pertemuan sosial atau pergi ke tempat-tempat ramai, termasuk restoran dan bar. Sementara, fasilitas keagamaan diminta untuk lebih waspada dengan tindakan karantina. 

    Dua minggu ke depan sangat penting untuk mencegah penyebaran infeksi di wilayah metropolitan (Seoul) dan harus kembali ke jaga jarak sosial karena telah gagal. 

    Sebagai catatan, sebelum informasi dari Korsel, saya juga sudah menulis kisah kasus baru Covid-19 yang menyerang kembali anak sekolah dan gurunya di Finlandia dan Prancis. 

    Artinya, siapa pun  baik warga atau negara, bahkan dunia pun, tak akan ada yang mampu menjinakkan virus corona, apalagi coba-coba mengajaknya berdamai. Mengajaknya hidup berdampingan dalam kisah kehidupan new normal. 

    Corona tak akan pernah bisa diajak damai apalagi hidup berdampingan. Satu-satunyanya cara, bila benar Covid-19 bukan dari "pekerjaan konspirasi, rekayasa", adalah menemukan vaksin angi Covid-19. Baru penjajahan corona di dunia ini dapat ditumpas dan dibumi hanguskan. 

    Andai corona adalah hasil dari sebuah konspirasi dan rekayasa, maka aktor pembuatnyalah yang tentu sudah memiliki vaksinnya. Namun, yang pasti, di luar dari pemikiran konspirasi dan rekayasa, Korsel yang sudah mencontohkan kehidupan new normal, kini malah terancam serangan gelombang kedua Covid-19. Pun Finlandia dan Prancis. 

    Kira-kira dengan fakta dan bukti yang sudah ada, negara mana lagi, yang akan coba-coba membikin new normal? 

    Ekonomi warga, ekonomi negara, ekonomi dunia memang harus diselamatkan, harus dipulihkan, terutama agar rakyat tidak kelaparan. Namun ternyata cara terampuh harus dengan adanya peraturan yang ketat. 

    Tidak ada pelonggaran dan taat pada protokol kesehatan. Itu satu-satunya cara terhindar dan memutus mata rantai corona. Bukan coba-coba hidup new normal apalagi berdamai dengan corona. Apa yang terjadi hari ini di Korsel, adalah fakta, nyata. Dapatkah kita menyikapinya untuk diri kita sendiri? 


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.