Sekolah Jangan Berhenti Meski Krisis Covid-19 - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Budi Susanto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Januari 2020

Jumat, 29 Mei 2020 15:22 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Sekolah Jangan Berhenti Meski Krisis Covid-19

    Dibaca : 913 kali

    Sekolah sudah kira-kira tiga bulan tidak memberlakukan pola belajar tatap muka. Guru dan murid tidak lagi datang ke sekolah untuk belajar. Gara-gara pandemi global wabah virus Covid-19. Yang di Indonesia kasusnya hampir mencapai 25 ribu masyarakat terjangkit --sampai sekira akhir Mei 2020.

    Selama tiga bulan metode belajar-mengajarnya beda. Pakai sistem pembelajaran jarak jauh. Supaya semua lingkungan pendidikan aman dan sehat. Itu alasan utamanya.

    Sepanjang tiga bulan pembelajaran jarak jauh sebab pandemi wabah virus Covid-19, yang harus dipahami: masuk dalam kalender tahun ajaran kapan? Sederhana jawabnya: tahun ajaran 2019/2020.

    Nah, berarti bakal ada tahun ajaran baru. Tahun ajaran 2020/2021. Begitu sistem kalender pendidikan yang dianut Indonesia. Konvensinya, tahun ajaran baru di Indonesia mulai dilakukan pada Juni atau Juli. Begitu setiap tahunnya.

    Apakah perlu ditunda masa pembukaan tahun ajaran baru 2020/2021? Sedangkan jenjang pendidikan harus tetap berlangsung reguler. Tidak mungkin kiranya menunda tahun ajaran baru 2020/2021. Meskipun Indonesia masih dilanda pandemi.

    Lha begini, bila tahun ajaran baru 2020/2021 ditunda, berarti sama saja sengaja membuat seluruh murid di Indonesia tidak naik kelas. Semua murid di Indonesia harus tertunda masa waktu belajarnya. Disamaratakan dengan sengaja semua murid tidak naik kelas. Yang 9 tahun jadi 10 tahun. Yang 3 tahun jadi 4 tahun.

    Tega begitu? Apa ingin anak-anak kita yang cerdas tapi terpaksa dibuat tidak naik kelas? Apa ingin beban biaya sekolah malah bertambah dari lazimnya? Misalnya, yang seharusnya hanya bertanggungjawab membayar uang sekolah SMA selama 3 tahun akhirnya harus 4 tahun.

    Makanya tahun ajaran baru 2020/2021 tetap harus dilaksanakan. Supaya proses sistem pendidikan tidak terhambat. Agar belajar-mengajar tetap sesuai jenjangnya.

    Tidak ada orang tua maupun murid yang merasa rugi meski sedang kondisi pandemi. Bisa disiasati caranya. Saat ini era teknologi 4.0. Membantu kemudahan aktivitas. Apalagi, Mendikbud Nadiem Makarim adalah 'orang teknologi kekinian'.

    Mustahil kalau tidak berpikir mendayagunakan kecanggihan teknologi untuk membantu keberlangsungan tahun ajaran baru 2020/2021.

    Toh, selama belajar jarak jauh selama tiga bulan saja, Nadiem memberi solusi dengan sinergi memanfaatkan teknologi internet. Dan mayoritas semua Guru serta murid menerapkannya.

    Dapat saja PPDB tahun ajaran 2020/2021 nanti melalui sistem online. Tak perlu harus datang ke sekolah. Belum ada keputusan resmi kapan masa pembukaan tahun ajaran baru 2020/2021 saja sudah banyak sekolah yang 'iklan' PPDB online.

    Spanduk PPDB online sudah banyak terpampang pada setiap gerbang pagar sekolah. Di media sosial juga berseliweran. Soal belajarnya? Juga mungkin saja masih memberlakukan pembelajaran jarak jauh. Kalau situasi pandemi belum aman.

    Nyatanya, pendidikan di Indonesia mampu melaksanakan pembelajaran jarak jauh selama tiga bulan terakhir. Yang memanfaatkan internet. Yang dibantu dengan tayangan program Belajar dari Rumah di TVRI itu.

    Rasanya tidak mungkin bakal diputuskan kebijakan keliru 'memaksa' Guru dan murid datang lagi ke sekolah --belajar tatap muka-- padahal kondisi wabah virus Covid-19 masih mencekam.

    Semua bisa disiasati metode pembelajarannya. Seperti yang sudah terlaksana selama tiga  bulan terakhir. Yang penting kurikulum tahun ajaran pendidikannya tetap berlangsung secara normal. Jenjang masa pendidikannya tetap terlaksana sesuai masa waktunya.

    Itulah sebab tahun ajaran baru 2020/2021 sudah seharusnya tidak ditunda.Soal mekanisme pelaksanaannya? Itu teknis saja Yang ribut menolak pembukaan tahun ajaran baru 2020/2021 mungkin mereka tak siap dengan kemajuan zaman.*


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.