Amerika Terbakar Amarah, Rasisme Belum Padam - Pilihan - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 1 Juni 2020 06:13 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Amerika Terbakar Amarah, Rasisme Belum Padam

    Dibaca : 1.579 kali


    Sembilan menit setelah lutut polisi bernama Derek Chauvin menindih tengkuk George Floyd, lelaki berkulit hitam itu meninggal. Floyd sempat berkata kepada polisi itu, "Aku tak bisa bernapas!", tapi polisi berkulit putih itu tak melonggarkan tekanannya. Floyd sempat memanggil ibunya, "Mama! Mama!" Itulah kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Floyd menjelang tarikan napas pamungkasnya dengan wajah menempel di aspal jalan.

    Peristiwa itu, yang terekam oleh seorang warga, segera viral dan menjadi pemantik kemarahan. Minneapolis pun terbakar. Ada aroma racism profiling dalam peristiwa tragis yang menimpa Floyd. Setelah satu setengah abad perang saudara antara Utara dan Selatan berakhir, jejak-jejak rasisme belum juga sirna dari tanah Amerika. Sejak dua abad lebih setelah Thomas Jefferson mengajak bangsanya untuk hidup di atas prinsip kemajemukan, aroma rasisme masih menguar.

    Prinsip demokrasi yang diagung-agungkan tidak mampu melenyapkan sepenuhnya jejak-jejak rasisme, bahkan mungkin menemukan tempat persemaian baru pada generasi yang hidup di zaman digital. Rasisme, hingga kini, tidak mampu dihapus dari wajah negeri yang selalu menyebut diri sebagai kampiun demokrasi. Bahkan, sepertinya, rasisme menjadi bagian karakter yang tak bisa ditanggalkan oleh masyarakat Amerika.

    Entah sekedar terpikat oleh ceritanya atau termotivasi oleh semangat antirasisme atau ingin mencatatkan kisah historis semata, sebagian sineas Hollywood melahirkan film seperti To Kill Mockingbird (1962), Mississippi Burning (1998), hingga 12 Years a Slave (2013). Film tersebut terakhir ini, yang disutradarai Steve McQueen, dinominasikan untuk memperoleh sembilan Academy Award dan meraih tiga penghargaan, di antaranya film terbaik. Dari sisi finansial, film ini juga mendatangkan pemasukan lebih dari delapan kali lipat biaya produksinya (22 juta dolar AS).

    Tapi film-film itu mungkin hanya menjadi catatan sinematis atas sejarah hitam yang mewarnai masyarakat Amerika di masa lampau. Film-film itu dipuji sebagai kritik atas sejarah masa lalu. Namun, film-film tidak mampu menghentikan rasisme di masyarakat yang melahirkannya, bahkan mungkinkah film-film itu justru ikut berkontribusi dalam mengilhami sebagian warga yang masih memuja keunggulan ras putih di atas ras berwarna?

    Reaksi keras dan terbuka terhadap rasisme hanya memerlukan pemantik berupa sebuah peristiwa yang bisa terjadi di manapun di sudut Amerika, tak mesti dari Gedung Putih. Media menyebutkan, sebagian pemrotes yang turun ke jalan-jalan di berbagai kota Amerika berkulit putih. Barangkali mereka telah berikhtiar untuk menjaga keragaman warga, tapi kerusuhan kapan saja mungkin pecah hanya oleh laku satu orang berkulit putih.

    Rasisme bagaikan api di dalam sekam, yang dengan sedikit sentuhan jahat akan mengobarkan api ke mana-mana. Protes berlangsung di berbagai kota di AS, yang sayangnya disertai juga oleh orang-orang yang memang ingin melampiaskan hasrat merusak dan berbuat onar. Ditelan oleh gelombang massa, sebagian warga kehilangan tujuan protes dan meninggalkan jejak-jejak vandalisme di mana-mana.

    Perilaku polisi Derek Chauvin yang menindih tengkuk George Floyd adalah manifestasi relasi kuasa yang tak seimbang. Secara sadar atau tidak, Chauvin memanfaatkan kuasanya sebagai penegak hukum untuk mengekspresikan warisan rasisme yang mungkin melekat dalam ingatannya. Sebagian orang agaknya masih saja percaya bahwa kaum berkulit putih lebih unggul dibanding ras-ras lain--kepercayaan yang sungguh menggelikan, namun kerap menimbulkan petaka tanpa mereka menyadarinya.

    Jam malam berlaku kini di berbagai kota Amerika, saat pandemi belum terhenti. Apakah bagi semua masyarakat berlaku hukum tak tertulis ini: untuk membaik mesti memburuk terlebih dulu? Ataukah Floyd bukan kurban terakhir rasisme dan kesewenangan? >>


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.