Mengutuk Aksi Teror di Markas Polisi Kalsel - Analisa - www.indonesiana.id
x

Alfin Riki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Rabu, 3 Juni 2020 15:36 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Mengutuk Aksi Teror di Markas Polisi Kalsel

    Dibaca : 693 kali

    Daerah Daha Selatan, Kalimantan Selatan, geger karena ada peristiwa penyerangan di kantor polisi. Sebanyak 5 orang teroris menyerang Mapolsek Daha Selatan dan menyebabkan seorang polisi meninggal dunia. Masyarakat mengutuk aksi mereka yang tega menyerang kantor polisi sehingga ada yang sampai kehilangan nyawa.


    Daha Selatan adalah daerah di Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Di pulau Borneo ternyata juga ada teroris yang mengancam kedamaian dan keamanan masyarakat. Mereka tega menyerang Mapolsek Daha Selatan dan menyebabkan seorang petugas gugur saat berjaga. Sontak seluruh lapisan masyarakat mengecam aksi teroris ini yang berani menyerang kantor polisi sampai menyebabkan korban jiwa.


    Peristiwa penyerangan ini terjadi tanggal 1 juni 2020. Para teroris yang terdiri dari 5 orang sengaja memilih untuk menyerang pada dini hari, karena keadaan masih sepi. Diperkirakan juga petugas yang berjaga hanya sedikit. Awal dari penyerangan ini adalah ketika mereka membakar sebuah mobil patroli di depan Mapolsek Daha Selatan.
    Belum puas dengan membakar mobil, mereka menyerang ke dalam Mapolsek. Brigadir Leonardo yang sedang berjaga di dalam jadi korban, tubuhnya terkena sabetan pedang katana dan tidak terselamatkan. Ketika rekannya datang, tubuhnya sudah bersimbah darah dan sayangnya ia gugur dalam tugas mulia.


    Petugas lain pun menelepon untuk meminta bantuan untuk menyerang balik para teroris. Akhirnya teroris itu lari dan ada yang malah bersembunyi di dalam Mapolsek. Ketika ada tembakan peringatan, mereka malah tidak mau menyerahkan diri. Aksi baku tembak pun tak dapat dihindarkan. Seorang teroris jadi korban jiwa dalam peristiwa tersebut.


    Masyarakat mengecam keras aksi teroris itu. Mengapa harus kantor polisi yang diserang? Sedangkan mereka adalah penjaga dan pengayom masyarakat. Teroris benar-benar tidak punya hati dan malah menganggap polisi adalah halangan mereka untuk merdeka. Petugas dianggap sebagai representasi pemerintah, dan kaum radikal memang terang-terangan membenci pemerintahan yang sekarang dan ingin mengganti azas pancasila.


    Banyak orang juga menyesalkan mengapa harus ada aksi teror di dalam kantor polisi? Para teroris juga tidak takut resiko tertembak dan bisa jadi mereka malah bahagia ketika tewas dalam peristiwa penyerangan. Karena dianggap mati syahid, padahal definisi syahid bukanlah seperti itu.
    Teroris itu melakukan penyerangan dan menghebohkan masyarakat, padahal kita masih ada di bulan Syawal. Bukankah masih dalam suasana Idul Fitri dan seharusnya saling memaafkan? Namun yang ada malah kerusuhan yang membuat geger. Para teroris tidak peduli akan bulan yang dijadikan waktu penyerangan, karena kebencian mereka pada pemerintah dan petugas sudah membabi-buta.


    Analis intelijen Ridlwan Habib menerangkan bahwa teroris yang menyerang Mapolsek Daha selatan, Kalsel, adalah orang-orang yang sudah terlatih. Mereka bukanlah anak kemarin sore, karena sudah tahu strategi penyerangan. Para teroris sengaja memilih untuk menyerang di pagi buta karena susasananya masih sunyi senyap. Lagipula, biasanya petugas yang berjaga bisa kurang konsentrasi karena mengantuk setelah melek semalaman. Terlebih, ketika pagi buta keadaan masih gelap, sehingga mudah untuk melarikan diri.
    Diduga, teroris itu adalah jaringan dari ISIS. Mereka menganggap polisi adalah representasi dari toghut yang jahat, sehingga harus diberantas. Sayangnya teroris itu menggunakan strategi dan kecerdasannya untuk membunuh orang lain.

    Bisa jadi mereka sudah dicuci otaknya sehingga membenci pemerintah dan menganggap polisi adalah penjahat.
    Peristiwa penyerangan Mapolsek Daha Selatan menyebabkan gugurnya seorang petugas. Seorang teroris juga tewas ketika diserang balik. Aksi teror ini dikecam keras oleh masyarakat, karena kaum radikal berani menyerang kantor polisi dan tega membunuh petugas yang tidak bersalah.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.








    Oleh: Napitupulu Na07

    1 hari lalu

    Keadilan Agraria dan Peningkatan Produksi Pangan Melalui Konsesi Lahan Pertanian Luasan 10 –80 ha, kepada Badan Usaha Perorangan.

    Dibaca : 94 kali

    Salah satu dari 9 masalah fundamental multi dimensi bangsa Indonesia adalah “masih rendah, terbatas dan timpang pembangunan dan kesejahteraan baik antar lapisan / strata masyarakat maupun antar daerah dan pulau”. Perwujudan sila ke 5 dari Pancasila yang tertera dalam pembukaan UUD 1945 yakni “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” masih jauh dari harapan. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9, bertajuk ‘Apa kabar Reforma Perhutanan Sosial’ Selasa 3/4/2018, Dalam paparan berjudul ‘Evolusi Kawasan Hutan, Tora dan Perhutanan Sosial, mengungkapkan: Ketimpangan pemberian lahan dan akses dari sektor kehutanan ini terdata sampai tahun 2017. Perbandingan ketimpangannya? Luas lahan di Indonesia yang yang sudah keluar ijin pengelolaanya adalah 42.253234 ha dari total 125.922.474 KH Indonesia. Dari 42.253.234 ha lahan yang diberikan ke swasta-masyarakat-kepentingan umum, 95,76 %-nya dilelola oleh swasta luas totalnya 40.463.103 ha. Perkembangan Luas Areal Kelapa Sawit, dari data peta RePPProT, pada tahun 1990 luasnya 7.662.100 ha, dari data baru tahun 2015 menjadi 11.260.277 ha, berarti kenaikan rata-rata 142.000 ha/tahun. Tahun 2016 menurun sedikit menjadi 11.201.465 ha. Tahun 2017 terhadap angka 2016 meningkat drastis 25 % lebih, menjadi sebesar 14.048.722 ha. Tahun 2018 naik menjadi 14.327.093 ha, Tahun 2019 naik menjadi 14.677.560 ha. Areal usaha perkebunan kelapa sawit tersebut didominasi oleh hanya puluhan pengusaha besar swasta. Ke depan apa yang bisa dilakukan? untuk mengurangi ketimpangan penguasaan / hak kelola Pengusaha Besar Swasta (PBS) atas tanah kawasan hutan (40.463.103 ha) dan Perkebunan kelapa sawit (14.677.560 ha), totalnya 55.140.663 ha setara 29,5 % luas daratan Idonesia 187.000.000 ha. Penulis menyarankan Solusi pengurangan ketimpangan secara bertahap, namun sekaligus bisa menangani permasalahan besar lain yaitu kemandirian pangan Indonesia yang sangat lemah / rapuh karena terkendala terbatasnya ketersediaan lahan garapan. Pada kesempatan ini diusulkan untuk Ekstensifikasi Pertanian pangan dengan membuka daerah irigasi (DI) Baru dengan Pola Pertanian Pangan UKM. Strateginya membangun Lima Pilar Pertanian Beririgasi Modern di luar P. Jawa meliputi: P1: Penyediaan air irigasi; P2: Pembangunan infrastruktur irigasi baru; P3: Pencetakan sawah baru petakan besar yang sesuai mekanisasi pertanian untuk para UKM dengan konsesi lahan 30-80 ha; P4: Mempersiapkan sistem pengelolaan irigasi; P5: Membangun sistem konsesi UKM pertanian mekanisasi padi komersial terpadu, mulai tanam, panen, sampai siap dipasarkan. Untuk keadilan agraria dan sekaligus penyediaan lahan garapan daerah irigasi baru, juga untuk lahan peternakan dan perikanan terlihat 2 kemungkinan yakni: (i) Mengatur pemberian puluhan ribu konsesi lahan luasan kecil 10 ha untuk peternakan, perikanan, hortikultur (mix farming), serta luas 30 - 80 ha untuk irigasi baru. Sebagai tahap pertama memanfaatkan cadangan areal untuk Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) seluas 4,1 juta ha, diberikan konsesi 30 tahun kepada badan usaha perorangan; dan (ii) Mengubah konsesi sawit lama yang habis masa konsesinya menjadi konsesi 30 tahun UKM sawah beririgasi 30 ha - 80 ha.