Catatan Kecil Tentang Duterte: Eksistensi Tuhan dan HAM (oleh Kemala Atmojo) - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Presiden Filipina Rodrigo Duterte melakukan kunjunan kenegaraan kepada Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta. Tempo/Subekti

Indonesiana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 3 Juni 2020 10:39 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Catatan Kecil Tentang Duterte: Eksistensi Tuhan dan HAM (oleh Kemala Atmojo)

    Dibaca : 1.233 kali

    Ada  tiga  presiden  yang  menurut saya menarik  diperhatikan  dalam  menghadapi pandemic Covid-19  ini.  Pertama, Presiden Amerika  Serikat  Donald Trump  yang “pagi tempe  sore kedelai” alias berubah-ubah ucapannya. Maka selalu terjadi polemik di media sehabis Trump membuat konferensi pers atau wawancara.

    Kedua, Presiden Brazil Jair Bolsonaro yang “cuek bebek” alias yang menganggap Covid-10 seperti virus flu biasa saja. Akibatnya, jumlah orang yang  terinfeksi  dan  jumlah  yang  meninggal  meningkat  tajam  setiap  harinya di  Brazil. Ia menuai banyak protes baik dari dalam maupun luar negeri.

    Ketiga, Presiden Filipina Rodrigo Duterte dengan ucapannya yang keras, sensitif, dan sikapnya yang tegas. Beberapa  bulan  setelah  diangkat menjadi presiden  pada  30  Juni  2016, ditemukan  ribuan mayat yang diduga drug dealer mati bergelimpangan di mana-mana di Filipina. Kabarnya ini atas perintah  langsung  Presiden  Duterte,  dan  ternyata  hal  itu memang tidak dibantahnya.

    Dalam sebuah siaran pers Duterte berkata: “We will elominate the drug lords once and for all,” katanya “I will be  a dictotar, no doubt about it. But only  against the forces of evil, crimanality,  drugs  and  corruption  in  government.” Rupanya  ia sudah  tidak  tahan  lagi mendengar  data  bahwa  ada  empat  juta  orang  kecanduan  narkoba  di  Filipina  saat  itu. Ia berkeras agar hukuman mati yang selama ini tidak efektif itu dihidupkan kembali di Filipina.

    Para  aktivis  dan  sebagian  masyarakat  protes,  tapi  ia  tidak  peduli.  Masalah  itu  kemudian menjadi  isu  internasional  dan  konon beberapa  pemimpin  dunia mengancam  akan mengeluarkan Filipina dari keanggotaan PBB. Apa respon Duterte? “Maybe we’ll just have to

    decide to separte from the United Nations,” katanya.

    Dalam  sebuah  wawancara,  seorang  wartawan berkata  kepada  Duterte  bahwa  presiden sebelum-sebelumnya menyerah  pada  tekanan para  pemimpin  agama  yang  menentang hukuman mati. Sebab “hanya Tuhan yang dapat mengambil nyawa” seseorang. Bagaimana dengan  Anda? Duterte menjawab:  “Masalahnya  adalah,  saya  bertanya  kepada  Anda, bagaimana  jika Tuhan tidak  ada?" Lalu, sambungnya, "Ketika  seorang  anak  berusia  satu tahun, seorang bayi berusia 18 bulan, diambil dari lengan ibunya, dibawa ke kolong Jeep dan diperkosa dan dibunuh, di mana Tuhan?"

    Secara pribadi, katanya, dia mengakui adanya Tuhan. Tapi, keberadaan “Sesuatu yang Lebih Tinggi” itu adalah "pertanyaan abadi" baginya  ketika ia melihat masih adanya "sakit hati, kesedihan dan penderitaan" di sekitarnya. “Karena itu saya ingin hukuman mati dihidupkan,” katanya. Duterte juga mempertanyakan kisah Adam dan Hawa yang diusir dari Taman Eden karena mereka memakan buah apel, dan karenanya ia juga menolak konsep dosa asal yang ditanggung oleh manusia sejak lahir.

    Mengenai eksistensi Tuhan, apa yang dikatakan Duterte sebenarnya adalah salah satu gugatan klasik  yang  sudah  lama  diucapkan,  yakni  selama  ada  pendertiaan,  kemiskinan,  kejahatan, selama itu pula mereka meragukan keberadaan Tuhan. Kini aliran ateisme sudah berkembang jauh  dengan  aneka  varian  dan  argumennya.  Tokoh-tokohnya  pun  sudah  seabreg  dengan segala persamaan dan perbedaannya.

    Untuk  mengenal  dasar-dasar  ateisme  ini,  ada  baiknya diingat Ludwid  Feuerbach.  Dengan begitu  kita akan  lebih  mudah  memahami tokoh-tokoh  ateis  berikutnya  seperti Karl  Marx, Friedrich Nietzche, dan seterusnya. Bagi Feurbach, alam material adalah dasar dan kenyataan terakhir.  Bahkan  alam  merupakan  dasar  dari  kesadaran  manusia.  Ini merupakan  kritik Feurbach atas idealisme Hegel yang mengagungkan “Idea”, “Roh”, dan “Logos”.

    Menurut Feuerbach, manusia  menjadi  sadar  diri dengan cara membedakan  dirinya  dengan alam.  Selain  mampu  membedakan  dengan  alam,  manusia  juga  mampu  merefleksikan hakekatnya  sendiri.  Tetapi  dasar  bagi  refleksi  itu  tetaplah  alam.  Menurut  dia,  hakekat manusia adalah rasio, kehendak, dan hatinya. Dengan kemampuan itu, ia mengidialisasikan sesuatu di luar dirinya yang serba sempurna, yang kemudian kita sebuat sebagai Tuhan. Maka hakekat Tuhan tak lain adalah hakekat manusia yang diabsolutkan dan diobyektifkan.

    Katanya, agama  timbul  karena  adanya  aspirasi  atau cita-cita. Sebagai  individu,  manusia memang terbatas dan tidak sempurna, karena itu ia membayangkan adanya kenyataan yang sempurna. Jadi di dalam diri (umat) manusia sebenarnya terdapat cita-cita kesempurnaan dan kebahagiaan. Pendeknya cita-cita tentang suatu kebijaksanaan, cintah kasih tanpa pamrih, dan perasaan keadilan.

    Agama merupakan perwujudan cita-cita itu. Singkatnya, segala hal yang baik,  yang  pada  dasarnya  merupakan  hakekat  manusia  itu  sendiri,  diproyeksikan  di  luardirinya. Manusia mengobyektifkan hakekat itu dalam sebuah subyek fantastis, yang disebut sebagai Tuhan. Dengan demikian, teologi tak lain hanyalah antropologi belaka. Dan Tuhanyang sebenarnya tak lain adalah “proyeksi diri” itu merupakan wujud alienasi manusia dari dirinya sendiri.

    Saya  tidak  tahu, apakah Duterte  memiliki  pandangan teoritis semacam  itu sehingga ia mempertanyakan eksistensi Tuhan. Atau sebenarnya ia sekadar ateis praktis saja, yakni orang  yang percaya  pada  Tuhan  dan  agama  tapi tidak  mempraktekannya  dalam kehidupan sehari-hari.

    Lalu, pada awal Mei 2019, ketika ditemukan ada berpuluh-puluh kontainer berisi  sampah plastik yang dilabeli “sampah daur ulang”, Duterte marah besar dan meminta agar Kanada mengambil balik sampah itu secepatnya. Duterte memberi waktu seminggu, yakni 15 Mei.

    Canada berjanji akan mengambilnya pada akhir Juni, tapi Duterte menolak. Harus minggu depan. Jika tidak,  dia  akan  kirim  sampah  itu  balik  dan  membuangnya  di  pantai  Kanada.

    “Kalau mau dimakan ya silakan,” katamya. Pihak Kanada pun pontang-panting. Meskipun pengiriman  sampah  itu  dilakukan  oleh perusahaan  swasta Kanada,  akhirnya pemerintah Kanada menghabiskan lebih dari satu juta dolar untuk membawa puluhan kontainer sampah yang sudah membusuk itu kembali ke Kanada.

    Kegarangan Duterte juga terlihat di masa pandemik Covid-19 ini. Ia menyaksikan beberapa petugas polisi ribut dengan masyarakat yang berdemo. Duterte pun tak segan-segan memberi perintah kepada  polisi bahwa  apabila kerumunan  massa  itu  membahayakan  diri  petugas, “Shoot them dead!” katanya. Ia meminta masyarakat Filipina patuh pada aturan yang sudah ditetapkan pemerintah dan tidak melawan petugas.

    Para aktivis hak asasi manusia boleh panas dingin atau marah mendengar ucapan Duterte. Tapi berdebat  soal  hak  asasi  manusia  dengan  Duterte bisa  tak  ada  ujungnya. Ia  punya pengalaman  cukup  banyak  dengan  masalah  hak  asasi  ini. Apalagi  sekarang  juga  mulai muncul  beberapa  pemikir baru  yang  punya  pandangan  berbeda soal  asal-usul  hak  asasi manusia.

    Para aktivis dan ahli hukum hak asasi manusia tampaknya harus mempersiapkan jawaban serius atas  pertanyaan-pertanyaan  seperti  ini:  Apakah  paham  hak  asasi  itu  Cuma konsep yang  ditemukan atau  benar-benar  ada sebelum  dirumuskan? Ia  fakta  atau  fiksi? Apakah benar ia pemberian Tuhan? Kenapa ia baru berkembang pada abad 17? Apakah itu berarti abad-abad sebelumnya tidak ada hak itu? Apakah sebelum Magna Charta Libertatum;

    Habeas Corpus, Bill of Rights, dan Bill of Rights of Virgina,  hak itu tidak ada? Di mana letaknya hak itu dalam diri manusia? Bagaimana jika John Locke tidak banyak menulis dan merumuskan pemikirannya  soal  martabat  manusia? Bahwa  dalam  kenyataan sekarang hak asasi  manusia  sudah  diakui  dan  menjadi  produk  hukum,  gugatan  semacam  itu  tetap  sah adanya.

    Sejak  menjabat  sebagai  presiden,  ia  mengubah strategi politik  luar  negerinya.  Ia  memilih mendekat kepada Rusia dan China ketimbang Amerika atau Eropa. Mengapa? “Karena Dunia Barat, Uni Eropa, Amerika, itu double talk.  Hanya Rusia dan China yang bisa diandalkan kata-kata mereka,” jawabnya pada wartawan TV RT America yang mewawancarinya.

    Duterte memang kontroversial. Kita belum tahu bagaimana nanti kondisi Filipina ketika dia tidak lagi menjabat sebagai presiden. Juga bagaimana nasib dirinya sendiri. Yang jelas, saat ini,  dengan  segala  keterbatasan  yang  dimiliki  Filipina,  dia  tampak  sebagai  presiden  yang berkarakter dan pemberani.

    Saya tidak bisa membayangkan jika sekarang Duterte menjadi Presiden China dengan segala kekuatan sumber dayanya dalam menghadapi Amerika Serikat. Atau  bagaimana  jika  Duterte sekarang yang memimpin  Amerika  Serikat  menghadapi demonstrasi besar-besaran --terutama banyaknya penjarahan toko-- akibat kematian George Floyd baru-baru ini.

    Dengan segala kelemahan dan kelebihannya, Duterte, menurut saya, layak untuk dicatat dan dikenang.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.