“Digitalisasi Pertanian" Siapkah Kita?" - Analisa - www.indonesiana.id
x

Amar Sanis

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 14 Mei 2020

Kamis, 4 Juni 2020 06:17 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • “Digitalisasi Pertanian" Siapkah Kita?"

    Dibaca : 215 kali

    REVOLUSI industri 4.0 merubah kapabilitas produksi semua industri, termasuk pertanian.

    Eropa sangat menggaungkan revolusi industri 4.0 di bidang pertanian karena mereka menghadapi bencana demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif yang lebih sedikit dibandingkan usia non-produktif.

    Walaupun Indonesia akan mendapatkan bonus demografi dimana usia produktif lebih banyak dibandingkan usia non-produktif, bukan berarti Indonesia tidak ikut berpacu. Tuntutan kemandirian pangan yang harus dipenuhi setiap saat membuat tiap negara berpacu meningkatkan produktivitas pangan, termasuk Indonesia. Sebab, jumlah penduduk terus meningkat yang menyebabkan kebutuhan pangan juga terus meningkat.

    Dari data World Government Summit, pada dekade yang akan datang jumlah penduduk dunia diprediksi meningkat sekitar 33%, dan pada 2050 diperkirakan penduduk bumi mencapai 10 miliar orang. Tingginya laju urbanisasi turut menjadi faktor serius yang menghambat peningkatan produksi pertanian. Orang-orang lebih memilih meninggalkan desa untuk mencari penghidupan di kota.

    Diprediksi tahun 2035 mendatang, jumlah penduduk Indonesia yang tinggal di kawasan urban mencapai 68 persen. Bahkan angka urbanisasi di Indonesia saat ini lebih tinggi dibandingkan Cina dan India. Walaupun di sisi lain tingginya angka urbanisasi dapat mendorong aktivitas perekonomian. Namun, bagi sektor pertanian yang mayoritas lahannya bukan berada di kawasan urban akan mengalami penurunan jumlah petani atau orang-orang yang bekerja di sektor pertanian.

    Selain itu, faktor sumber daya alam yang semakin terbatas akibat tergerusnya kualitas lahan dan perubahan iklim global membuat perlu adanya upaya-upaya untuk meningkatkan produktivitas pertanian, salah satunya dengan revolusi industri 4.0.  Beragam teknologi digital untuk mendukung kebutuhan aktivitas budidaya pertanian, pengolahan, hingga pemasaran terus diciptakan.

    Arus inovasi digitalisasi pertanian semakin cepat berjalan. Konektivitas adalah bagian terpenting dari transformasi teknologi tersebut, dan konsep Internet of Things (IOT) sebagai kunci untuk meningkatkan daya guna teknologi digitalisasi pertanian.

    Digitalisasi di sektor pertanian sebenarnya sudah dimulai sejak beberapa dekade lalu, hanya saja belum berbasis konektivitas. Misalnya pada penggunaan alat-alat analisis penelitian seperti mesin Polymerase Chain Reaction (PCR), DNA Sequencer, Photosynthesis Analyzer, dan High Performance Liquid Chromatography (HPLC).

    Teknologi drone dinilai sangat aplikatif untuk digitalisasi pertanian. Setidaknya ada enam fungsi yang bisa dilakukan dengan menggunakan teknologi ini, yaitu: analisis tanah dan iklim, penanaman, penyemprotan tanaman, monitoring tanaman, pengairan atau irigasi, dan analisis kesehatan tanaman. Contoh teknologi lainnya adalah traktor terkoneksi, yang memanfaatkan teknologi konektivitas dan Global Positioning System (GPS) untuk penggunaannya.

    Hope merupakan drone pertanian yang dikembangkan anak Indonesia, lebih tepatnya di Temanggung, Jawa Tengah. Kegunaan drone keluaran Temanggung Aeormodelling Club (TMGAC) ini adalah untuk menyemprotkan pestisida. Drone ini menggunakan teknologi sonar yang bisa mengukur ketinggian dari tanah dan pohon, dilengkapi GPS dan auto pilot.

    Tidak ketinggalan juga inovasi teknologi start up untuk kebutuhan kegiatan pertanian. Beberapa start up pertanian yang ada di Indonesia antara lain: SiKumis, iGrow, Crowde, Limakilo, Ci-Agriculture, 8Villages, Eragano, dan eTanee. Beberapa start up tersebut memiliki fungsi mulai dari solusi pemodalan, pembelian alat dan mesin pertanian, petunjuk teknis budidaya tanaman, kontrol dan pemeliharaan tanaman menggunakan drone, hingga pemasaran produk pertanian.

    Dari inovasi yang ada, tampaknya kita sudah siap untuk secara menyeluruh melakukan digitalisasi pertanian karena teknologi sudah ada di Indonesia. Namun yang jadi pertanyaan, apakah teknologi tersebut bisa diakses oleh sebagian besar petani? Karena dalam menghadapi revolusi industry 4.0 bukan sekedar mampu mengadopsi dan menciptakan teknologi namun juga harus bisa menyebarkannya hingga dapat diakses sebagian besar petani.

    Penyebaran teknologi masih menjadi pekerjaan rumah yang besar untuk sektor pertanian di Indonesia. Karena ketimpangan kelas sosial masyarakat yang masih terlalu tinggi. Walaupun sudah ada para penyuluh pertanian, namun masih banyak faktor kendala, misalnya faktor usia petani, di mana petani di Indonesia didominasi oleh usia 45 tahun ke atas.

    Begitu juga usia para petugas penyuluh lapangan, yaitu 70 % berusia di atas 50 tahun. Selain itu daya saing dan kemampuan menyerap teknologi sebagian besar petani juga masih rendah. Data BPS tahun 2013 menunjukkan lebih 70 persen petani di Indonesia berpendidikan hanya sampai sekolah dasar.

    Citra pertanian di Indonesia juga menjadi sorotan. Karena di benak orang Indonesia, relasi kata “petani” dengan kata “miskin” masih terlampau kuat. Sebagian orang Indonesia belum mampu memandang bahwa pertanian merupakan sektor penting yang dalam pengelolaannya menggunakan teknologi-teknologi modern. Oleh karena itu pemerintah maupun stakeholder yang berhubungan dengan pertanian mesti meningkatkan program-program yang bertujuan menaikkan citra pertanian seperti dengan mengadakan pameran teknologi pertanian modern bergilir di tiap kota besar di Indonesia.

    Pendidikan petani adalah hal sangat penting dalam digitalisasi pertanian. Selain upaya memberikan pendidikan ke petani, juga harus ada langkah strategis mengarahkan anak-anak muda usia produktif maupun berlatar pendidikan yang baik untuk menjadi petani atau pengusaha bidang pertanian. Selain itu juga perlu meningkatkan upaya dalam mengefektifkan alur distribusi pengetahuan dari para ahli ke petani.

    Amar Ma’ruf (Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Asahan. Kandidat Doktor Fakultas Pertanian, Akdeniz University, Turki)


    Artikel ini telah tayang di Rmol.id dengan judul "“Digitalisasi Pertanian" Siapkah Kita?", https://rmol.id/read/2019/03/27/383665/digitalisasi-pertanian-siapkah-kita.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Salsabila Zulfani

    1 hari lalu

    Covid-19, Membuat Tugas Auditor Menjadi Sulit?

    Dibaca : 95 kali

    Covid 19 adalah virus yang menyerang sisem pernapasan. Virus corona dapat menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru berat hingga kematian. Pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Hampir setiap hari ribuan bahkan ratusan korban infeksi virus corona meregang nyawa. Perekonomian negara terganggu bahkan banyak perusahaan yang harus mengurangi pegawai supaya tidak bangkrut. Dampak Covid 19 ini memang cukup banyak bagi negara terdampak. Lalu bagaimana dengan negara Indonesia?. Indonesia sudah berusaha sedemikian rupa untuk mencegah penularan virus Covid 19 ini,hingga pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ). Bekerja dan belajar dari rumah, hal ini mungkin tidak terlalu sulit sebab teknologi yang semakin canggih di masa sekarang ini. Lalu bagaimana dengan profesi yang harus bekerja turun lapang atau outdoor? Auditor misalnya?. Auditor harus menyambangi perusahaan klien sehingga dapat dengan mudah mengamati sistem pada perusahaan klien. Mengamati bagaimana SOP atau bagan alur setiap kegiatan perusahaan, seperti penjualan, pembelian dan aliran kasnya. Bagaimana auditor harus bekerja dari jarak jauh?. Strategi bagi auditor yang harus bekerja jarak jauh meliputi perencanaan audit, pemeriksaan/pengkajian dokumen, kerja lapangan/melakukan pengamatan, wawancara terhadap pihak yang terkait, dan pertemuan penutupan. Berikut penjelasan singkatnya. Perencanaan Perencanaan audit merupakan hal yang sangat penting di setiap pengauditan. Namun hal ini akan sulit jika pihak klien ada di lokasi yang jauh ataupun sulit terjangkau ( terpencil ). Sementara tahap perencanaan audit ini harus dibahas dengan klien. Informasi yang dapat dibahas dalam tahap ini adalah ruang lingkup perusahaan serta perncanaan jadwal kapan kegiatan audit akan di mulai, tak lupa memberi informasi kepada klien mengenai keterbatasan perihal proses kegiatan audit jarak jauh ini. Serta info apa saja yang akan dibagikan dan dengan tunjangan media atau teknologi apa yang digunakan. Berdasarkan kebutuhan diatas, auditor dapat menghabiskan waktu dua kali lebih banyak guna membahas perencanaan ini. Teknologi yang dapat digunakan dalam hal ini seperti vidio conference dan powerPoint untuk menyampaikan informasi/materi atau dapat menggunakan panduan visual lainnya. Pemeriksaan/Pengkajian Dokumen Pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh akan memakan waktu cukup banyak serta tak luput dari keterbatasan. Dalam hal ini auditor harus mampu menerima dokumen dalam bentuk/format apapun yang paling mudah diperoleh oleh klien sehingga dapat meminimalisir beban yang ada. Pertimbangan terkait aksesibilitas sistem file digital yang digunakan klien untuk menyimpan rekaman catatan tersebut harus diberikan. Pertimbangan strategi audit yang baik dan tepat juga harus dipikirkan oleh auditor untuk pemeriksaan ataupun pengkajian dokumen, pengambilan sampel dapat menjadi alternatif terbaik. Tergantung pada jumlah rekaman catatan yang ada. Terlepas apakah auditor memeriksa semua atau sebagian dari data yang tersedia. Tidak seperti pemeriksaan/pengkajian rekaman catatan di lokasi, pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh biasanya tidak memungkinkan untuk memberikan pertanyaan langsung pada saat yang sama. Auditor harus mencatat ataupun menulis hal-hal yang patut dipertanyakan pada klien saat melakukan proses pemeriksaan/pengkajian dokumen, dan dapat ditanyakan saat wawancara jarak jauh. Kerja Lapangan/Pengamatan Hal ini mungkin akan menjadi hal yang cukup sulit bagi audit jarak jauh, pasalnya hal ini biasanya dilakukan dengan menyambangi perusahaan klien. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan vidio conference ataupun livestreaming. Walaupun tidak terlepas dari kendala-kendala yang ada seperti ketersediaan Wi-Fi, lokasi kerja klien yang berada di tempat terpencil dan kebisingan yang mungkin akan mengganggu proses audit ini. Tidak banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan observasi jarak jauh. Sebab penayangan vidio hanya pada satu titik dan auditor akan kesulitan untuk melakukan pengamatan. Alternatif lain yang dapat diambil adalah dengan foto digital yang dapat diambil dari smartphone milik klien ataupun milik perusahaan. Hal ini dapat menimalisir kendala jaringan yang tidak memungkinkan melakukan vidio conference. Dari hasil pengamatan, audit dapat membuat catatan dan menyiapkan pertanyaan. Wawancara Terhadap Pihak yang Terkait Dalam hal ini mungkin tidak jauh beda dengan wawancara langsung, hanya perlu media penghubung seperti panggilan vidio ataupun semacamnya misalnya Google Meet, Skype dan Zoom. Auditor perlu melakukan perencanaan wawancara seperti berapa lama waktu yang diperlukan dan kepada siapa saja pihak yang perlu diwawancarai. Misalnya dengan penanggung jawab kegiatan, pemegang keluar dan masuknya kas ( kasir ), bagian gudang, penerimaan barang, dan personil lain yang bertanggung jawab dalam mendukung fokus audit. Persiapan wawancara jarak jauh membutuhkan waktu tambahan bagi auditor, serta auditor harus siap dengan daftar pertanyaan dan hal-hal terkait informasi tambahan apa saja yang dibutuhkan berdasarkan pengamatan yang dilakukan sebelumnya. Keterbatasan wawancara jarak jauh ini juga dapat terjadi ketika personil yang diwawancarai merasa canggung, gugup atau tidak nyaman dengan panggilan vidio oleh sebab itu, pemilihan kata dan penempatan intonasi yang bagus dan tepat akan dapat membuat wawancara menjadi tidak tegang. Pertemuan Penutupan Pertemuan penutupan audit jarak jauh memiliki konsep yang sama dengan pertemuan penutupan secara langsung, mungkin memang memerlukan media penghubung. Penjadwalan penutupan ini harus dipertimbangkan oleh auditor, minimal dua hari setelah melakukan wawancara. Sehingga auditor dapat mengkaji kembali catatannya dan menyusun rancangan awal hasil audit. Pertemuan penutupan ini dimaksudkan untuk mrmpresentasikan rancangan awal hasil audit kepada klien, menyelesaikan pertanyaan/permasalahan serta melakukan pembahasan lebih lanjut untuk hasil final audit, yaitu opini dari auditor. Kesimpulan yang dapat di ambil ialah penggunaan teknologi secara praktis. Inovasi dan transformasi teknologi menjadi fokus bisnis serta progam audit di seluruh dunia. Saat ini adalah saat yang tepat untuk mengkomunikasikan lebih lanjut mengenai proses audit jarak jauh. Terdapat beberapa teknologi berkembang yang dapat menunjang kegiatan tersebut antara lain vidio livestreaming, Virtual Reality ( VR ), pesawat tak berawak ( drone ) dan lainnya. Namun semua teknologi pastilah diperlukan biaya tambahan yang mungkin malah mengakibatkan auditor merugi. Jadi pilihlah teknologi yang sesuai dengan bayaran yang diterima. Proses audit jarak jauh bukanlah satu-satunya solusi yang tepat untuk semua masalah. Hal ini bukan pula sebagai pengganti pelaksanaan audit secara langsung. Namun sebagai bagian dari alternatif yang dapat dilakukan di masa pandemi ini.