Keniscayaan New Normal - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Putu Suasta

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2019

Kamis, 4 Juni 2020 06:16 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Keniscayaan New Normal

    Dibaca : 829 kali

    *Oleh Putu Suasta, Alumnus Fisipol UGM dan Universitas Cornell

     

    Satu hal yang pasti dalam hidup adalah bahwa perubahan selalu dan akan terus terjadi. Karena itu, ungkapan klasik bahasa Latin menjadi sebuah kebenaran abadi: tempus mutatur et nos mutamur in illid (waktu berubah dan kita ikut berubahan di dalamnya). Perubahan-perubahan dalam hidup bisa berskala besar, bisa menyangkut hal-hal kecil yang sering kali bahkan terjadi tanpa kita sadari. Sebagian terjadi karena penyesuaian pada kondisi tertentu, sebagian terjadi karena disengaja manusia untuk tujuan tertentu.

    Kali ini perubahan besar dalam berbagai segi kehidupan manusia hampir di seluruh dunia, dipicu oleh pandemi global bernama Covid-19. Tak ada satupun negara di dunia yang tak terdampak oleh wabah ini sehingga semua bersiasat untuk melakukan perubahan-perubahan, baik dalam relasi sosial maupun aktivitas ekonomi. Awalnya, semua negara berkonsentrasi untuk sekedar menahan laju penyebaran wabah dengan membatasi aktivitas. Tapi kini disadari, pembatasan aktivitas sosio-ekonomi membawa dampak lain yang semakin hari semakin berat untuk ditanggung.

    Bagaimanapun, keberhasilan menahan laju penyebaran wabah tersebut tetap akan memunculkan persoalan-persoalan besar jika pembatasan aktivitas sosio-ekonomi terus menerus berlangsung. Maka konsep “new normal” kini mulai populer dan mendapat sambutan luas karena beban ekonomi semakin tak tertahankan banyak orang dalam beberapa bulan terakhir.

    Era New Normal

    Konsep new normal (kenormalan baru) mulai diperbincangkan di Indonesia sejak Presiden Jokowi dalam salah satu konferensi pers mengajak masyarakat “berdamai” dengan Covid-19. Maksudnya adalah mengajak masyarakat untuk berani melanjutkan aktivitas-aktivitas ekonomi dengan tetap menjalankan protokol kesehatan. Dengan kata lain, Presiden mengharapkan masyarakat untuk menempatkan prosedur-prosedur kesehatan sebagai bagain dari kehidupan sehari-hari, bukan sebuah beban apalagi momok, sehingga dapat terus dijalankan sambil melaksanakan aktivitas-aktivitas sosio-ekonomi. Dengan pola pikir seperti ini, masyarakat diharapkan dapat menyukseskan perang terhadap wabah sekaligus memulai langkah-langkah pemulihan ekonomi.

    Untuk lebih jelas, mari kita simak penjelasan Prof. Ir. Sudjarwadi M.Eng.Ph.D, Mantan Rektor UGM. Menurutnya, new normal adalah kebijakan membuka kembali aktivitas ekonomi, sosial dan kegiatan publik secara terbatas dengan menggunakan standar kesehatan yang sebelumnya tidak ada sebelum pandemi. Era ini adalah tahapan baru setelah kebijakan stay at home dan work from home atau pembatasan sosial yang diberlakukan untuk mencegah penyebaran wabah virus corona. Terutama sikap ini diberlakukan bagi mereka yang memerlukan aktivitas di luar rumah dapat bekerja dengan standar kesehatan yang ditetapkan. Jadi bukan sekadar bebas bergerombol atau keluyuran. 

    Pilihan sikap untuk mengambil kehidupan new normal adalah tiada lain untuk menyelamatkan hidup warga dan menjaga agar negara tetap bisa berdaya menjalankan fungsinya. Adalah tidak mungkin warga terus-menerus bersembunyi di rumah tanpa kepastian yang menyebabkan kebangkrutan total, PHK massal dan kekacauan sosial. Karena bagaimanapun, jika aktivitas ekonomi berhenti maka negara tidak punya pemasukan, akibatnya negara juga tidak bisa mengurus rakyatnya. Maka new normal adalah sebuah keniscayaan bahkan keharusan yang harus ditempuh dengan kebaikan bersama.

    Indonesia Bekerja 

    Berdasarkan riset yang dilakukan oleh LSI Denny JA dengan memanfaatkan data dari tiga sumber yang digunakan, yakni; Data Gugus Tugas, data Worldometer dan data WHO, maka pada 5 Juni 2020 Indonesia bisa kembali bekerja secara bertahap di 158 wilayah (provinsi, kota, kabupaten), dari Aceh hingga Paua. Sebagian wilayah tersebut telah siap memasuki “new normal”. Warga kembali bekerja dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan yang ketat. Sektor bisnis bersekala besarmaupun bisnis kecil menengah dapat kembali beroperasi dengan panduan kesehatan di tempat kerja masing-masing. Dengan demikian Indonesia mampu memulihkan ekonomi lebih cepat dan sekaligus menghindari melonjaknya kasus baru yang terpapar virus corona. 

    LSI Denny JA menemukan bahwa ada 5 (lima) alasan yang menjadi pertimbangan mengapa Indonesia bisa kembali bekerja pada 5 Juni 2020. Pertama, wilayah yang dibuka adalah wilayah yang penyebaran virus coronanya relatif terkontrol. Dari riset yang dilakukan LSI Denny JA, ada 158 wilayah di Indonesia yang siap untuk bekerja kembali. 158 wilayah tersebut terdiri dari tiga gabungan kategori wilayah. Yaitu pertama, 124 wilayah Indonesia yang sejak awal pandemi virus corona masuk ke Indonesia hingga saat ini belum ada laporan warganya terpapar virus corona. 124 daerah ini tersebar di sejumlah provinsi di Indonesia. 

    Kedua, 33 wilayah Indonesia yang tercatat punya kasus Covid-19 dan telah memberlakukan PSBB. Grafik tambahan kasus harian di wilayah tersebut menunjukkan bahwa masih terjadi fluktuasi (naik turun)tanbahan kasus harian yang berbeda-bedadi setiap wilayah tersebut. namun secara umum, pasca memberlakukan PSBB, penyebaran virus di wilayah tersebut relatif terkontrol. Hal ini diperkuat dengan keputusan wilayah-wilayah tersebut untuk tidak lagi memperpanjang periode PSBB. 33 wialayh yang telah siap untuk masuk era new normal adalah wilayah yang masa PSBB-nya berakhir sebelum 5 Juni 2020. 

    Ketiga, Provinsi Bali, wilayah ini mampu mengontrol penyebaran virus corona meskipun tanpa memberlakukan PSBB. Bali merupakan model strategi berbasis grass-root. Bali melibatkan komunitas adat dan perangkat organisasi paling bawah untuk mengawasi penyebaran virus. Sehingga walaupun tanpa memberlakukan PSBB, data harian di Bali sejak awal Mei 2020 hingga saat ini menunjukkan trend menurun. Oleh karena itu, Bali melengkapi wilayah lain sehingga menjadi total 158 wilayah yang siap bekerja kembali pada 5 Juni 2020. 

    Keempat, ekonomi harus ditumbuhkan kembali. Indonesia perlu menjaga keseimbangan antara kesehatan tubuh dan kesehatan ekonomi. Para ekonom telah menunjukkan bahwa pandemi virus corona juga ikut memperburuk kondisi ekonomi. Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) merilis data bahwa per April 2020 sekitar 2 juta orang telah di-PHK. Namun KADIN menyampaikan bahwa data riil PHK bisa mencapai 15 juta orang. Karena mayoritas pelaku usaha kecil-menengah yang terdampak biasanya tidak melaporkan data mereka ke pemerintah. 

    APINDO bahkan memprediksi bahwa terdapat 30 juta orang yang berpotensi di-PHK dari sektor properti akibat pandemi corona. Data-data tersbut menunjukkan bahwa dampak negatif keterpurukan ekonomi sama bahayanya dengan dampak kesehatan virus corona. Karena itu, jika Indonesia tak segera kembali bekerja, jika ekonomi tak segera dibuka, maka dampak buruknya akan lebih mematikan. 

    Tak mungkin ekonomi dibuka menunggu vaksin ditemukan. Oleh karena itu, warga harus “berdamai” –istilah Presiden Jokowi—dengan virus ini. hidup di era new normal, yaitu bekerja kembali, beraktivitas kembali dengan cara yang paling aman. Karena kita “hidup berdampingan” dengan bersama virus corona yang setiap saat bisa mengancam. Itulah mengapa Kementerian Kesehatan telah menyusun protokol kesehatan di tempat kerja. Panduan tersebut harus menjadi panduan bagi semua sektor bisnis. 

    Sikap untuk berani mengambil keputusan memasuki era new normal adalah pilihan untuk ‘melanjutkan kehidupan ini’ dengan kesadaran bahwa umat manusia harus tetap bertahan di bumi ini; tetap menjadi bagian yang survival dengan penghuni bumi yang lain. Pada akhirnya, beberapa negara di dunia ini juga mengambil keputusan yang sama, mengambil sikap untuk memasuki era new normal di tengah Covid-19 yang ketika artikel ini ditulis masih memperlihatkan sejumlah negara yang masih ada yang terinfeksi virus corona. 

    Termasuk negara-negara tetangga Indonesia di Asia Tenggara. Pemerintah Malaysia telah mengizinkan berbagai sektor bisnis untuk kembali membuka usahanya pada 4 Mei 2020 lalu. thailand bahkan telah memperbolehkan pasar tradisional, restoran dan bisnis kecil menengah lainnya untuk bertahap membuka usahanya pada 3 Mei 2020 lalu. di Filipina, pemerintah telah mengizinkan pusat-pusat perbelanjaan (mal) dan sejumlah sektor bisnis lainnya dibuka di Manila, membuka kembali usahanya pada 16 Mei 2020 lalu. 

    Italia, negara yang terinfeksi terbanyak keenam di dunia, bahkan mulai membuka diri untuk kembali kepada kehidupan new normal. Menurut BBC.com Indonesia, Italia sedang mengambil “risiko dengan perhitungan” seiring diberlakukannya serangkaian pelonggaran karantina wilayah atau lockdown. Menurut Perdana Menteria Italia Giuseppe Conte, perjalanan dari dan ke Italia serta antarwilayah di dalam Italia akan diperbolehkan mulai 3 Juni mendatang. Langkah-langkah ini merupakan keputusan besar bagi negara yang sempat mencatat jumlah kasus positif virus corona terbanyak keenam di dunia. Kini tingkat penularan di Italia merosot drastis. Begitu pula dengan angka kematian.

    HIDUP harus terus berlangsung. Umat manusia harus melanjutkan pencapaian-pencapaian akal budinya di masa mendatang. Corona adalah cobaan yang bukan sekali ini saja terjadi. Di masa lalu, sejumlah wabah yang lebih dahsyat dari corona telah dialami umat manusia, dan sejauh ini umat manusia dapat mengatasinya. Kini, mari kita memasuki era new normal dengan tingkat keawasan dan kewaspadaan yang sewajarnya demi keberlangsungan hidup umat manusia selanjutnya.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.