Efek Kupu-kupu Corona dan Kematian Floyd - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Corona membuat rakyat menderita

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 4 Juni 2020 16:35 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Efek Kupu-kupu Corona dan Kematian Floyd

    Dibaca : 1.492 kali


    Sebuah pasar di Wuhan, Cina, mendadak populer setelah dunia digemparkan oleh penyebaran virus Corona yang menyebabkan kematian ribuan jiwa. Siapa mengenal pasar Wuhan itu sebelumnya? [Terlepas teori lain tentang asal-usul virus tersebut] Perilaku sebagian orang di Wuhan telah menciptakan kekacauan di New York, London, Jakarta, maupun Roma. 

    Kita telah mengenal banyak virus, namun dunia terkejut dan tidak siap ketika virus penyebab Covid-19 itu dengan cepat berpindah dan menyebar ke berbagai tempat di muka bumi seiring pergerakan manusia. Mobilitas dan perjumpaan antar manusia, kuncinya. Penularan berlangsung cepat di tengah kegagapan manusia menghadapi perubahan keadaan yang demikian tiba-tiba.

    Ketiadaan vaksin dan cepatnya penularan membuat isolasi diri jadi pilihan untuk memulihkan kesehatan dan menahan laju penyebaran virus. Hidup manusia berubah drastis: harus lebih banyak tinggal di rumah, aktivitas kehidupan dikurangi, tak terkecuali ekonomi yang menyebabkan banyak orag kehilangan nafkah dan penghasilan. Manusia dipaksa mengubah perilakunya: memakai masker, sering membersihkan tangan dengan sabun, dan tidak berjabat tangan. Kematian terus terjadi saban hari. Dan setelah kelak vaksin ditemukan, kehidupan tidak akan lagi sama dengan sebelum virus dari Wuhan itu terbawa ke seantero bumi. Manusia perlu merumuskan kembali bagaimana hidup di masa mendatang.

    Di Minneapolis, AS, seandainya polisi Derek Chauvin lebih mampu menguasai diri dari hasratnya untuk memperlakukan George Floyd secara buruk, mungkin aksi protes dan kerusuhan tidak akan terjadi di kota-kota lain Amerika Serikat. Seandainya Chauvin tidak menindih tengkuk Floyd serta memperlakukan pria berkulit hitam yang telah diborgol itu, kematian barangkali tidak akan terjadi. Gelombang protes tidak akan terjadi hingga menjalar ke seluruh AS, bahkan hingga mencapai Yunani, Prancis, Inggris.

    Sebagai isu, perlakuan terhadap Floyd bermula dari prasangka bahwa ia menggunakan uang palsu untuk transaksi jual-beli. Prasangka berujung pada kematian, disusul protes, kerusuhan, keamanan, politik. Protes di berbagai kota yang berlangsung siang dan malam itu berkembang ke arah isu rasisme dan diskriminasi, perlakuan buruk polisi kulit putih AS kepada warga berkulit hitam dan berwarna lainnya, hingga independensi militer dari masalah sipil dalam negeri AS. Isu itu membesar dan merambah wilayah yang semakin besar.

    Kedua peristiwa itu mengingatkan pada apa yang dengan terkejut dilihat dan dipahami oleh Edward Lorenz, seorang matematikawan dan ahli meteorologi, tatkala melakukan percobaan di laboratoriumnya. Saat melakukan eksperimen mengenai perubahan cuaca, Lorenz kaget ketika mengetahui bahwa kondisi awal sangat sensitif dalam memengaruhi keadaan berikutnya.

    Perubahan kecil pada suatu tempat atau momen dalam sistem tidak linier dapat menimbulkan perubahan besar di kemudian hari--itulah yang disimpulkan Lorenz, yang dalam bahasa lebih puitis ia gambarkan seperti ini: "Kepak sayap kupu-kupu di rimba Brazil dapat menciptakan tornado di Texas." Orang kemudian mengenal teori Lorenz itu lewat publikasinya pada tahun 1963 sebagai 'efek kupu-kupu'.

    Orang dapat membayangkan, kepak sayap kupu-kupu menyebabkan perubahan-perubahan sangat kecil di atmosfer bumi hingga kemudian mendorong terjadinya tornado di tempat lain yang jauh dari kupu-kupu itu. Sebagai manusia, inilah yang sering kita lupakan bahwa perubahan sekecil apapun di suatu tempat di suatu waktu berpotensi menimbulkan perubahan besar di tempat lain dan di waktu lain--segera ataupun perlahan. >>


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.