Menyambut New Normal di Bumi Nyiur Melambai dengan Semangat Gotong Royong - Analisa - www.indonesiana.id
x

Matthew\ Liling

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 Juni 2020

Sabtu, 6 Juni 2020 06:46 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Menyambut New Normal di Bumi Nyiur Melambai dengan Semangat Gotong Royong

    Dibaca : 405 kali

    Penulis: Matthew T. Liling

    Sars Cov-2 atau yang lazim kita kenal dengan Covid-19 saat ini menjadi momok menakutkan di seluruh belahan dunia. Wabah yang diketahui dimulai dari kota Wuhan, China ini menyebar ke seantero jagat membuat, WHO ( World Health Organization ) sebagai organisasi kesehatan dunia pada tanggal 11 Maret 2020 lalu menetapkan status Covid-19 sebagai pandemi global. Artinya penyebaran virus ini sangat cepat dan sudah meluas jauh dari pusat awal wabah. Tercatat oleh Worldometers sampai sejauh ini 213 negara terjangkit dan total 6,662,608 kasus positif corona dengan angka kematian 391,011 dan sembuh total 3,214,343

    Berbagai negara baik yang maju maupun berkembang, adidaya dan pinggiran, negara dunia ke 1 maupun ke 2 dan 3 semuanya merasakan ganasnya virus ini. Keadaan semakin nampak tak terkendalikan ketika para ilmuwan mengakui mengalami kesulitan meneliti virus ini sehingga belum menemukan formulasi tepat untuk pembuatan vaksin Covid-19.

    Senada dengan pernyataan WHO yang menegaskan vaksin Covid-19 sepertinya belum bisa ditemukan dalam waktu dekat dan kemungkinan akan menjadi endemi baru. Di tengah kondisi yang tidak menentu ini rasa pesismis dan skeptis tumbuh di tengah masyarakat. Tak pelak dunia mayapun semakin penuh dengan kabar-kabar burung yang isinya tak jauh-jauh dari yang namanya teori konspirasi.

    Sebagai suatu negara yang berdiri diantara berbagai negara-negara lainnya di dunia, Indonesia pun merasakan dampaknya secara langsung. Pada tanggal 2 Maret 2020 Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo mengumumkan dari istana kepresidenan kasus virus corona pertama di Indonesia. Seorang Ibu dan anaknya teridentifikasi positif corona. Keduanya disinyalir mengadakan kontak langsung dengan seorang WNA Jepang yang datang ke Indonesia.

    WNA ini baru terdeteksi corona ketika tiba di Malaysia sehabis dari Indonesia. Segala upaya dilakukan untuk men’tracing’ kontak-kontak yang dilakukan oleh dua pasien ini termasuk si WNA Jepang. Tetapi seperti yang kita lihat kenyataan hari ini dimana Indonesia menjadi salah satu negara ASEAN atau negara di wilayah Asia Tenggara yang menyumbang jumlah kasus virus corona terbanyak. Berdasarkan data dari Worldometer per 4 juni 2020 total kasus yang terkonfirmasi di Indonesia adalah 28,818 ( 18,205 dirawat 1,721 meninggal 8.892 sembuh ) terbanyak kedua setelah Singapura dimana kasus yang terkonfirmasi disana 36.922.

    Angka-angka diatas tentu memprihatinkan apalagi Indonesia sebagai negara yang secara letak geografis adalah negara kepulauan. Karena terdiri dari gugusan pulau, secara logika akal sehat sebenarnya akan sangat muda untuk memutus rantai penyebaran keluar daerah atau pulau dengan cara menutup sementara akses masuk pulau-pulau. Atau setidaknya memperketat jalan masuk keluar daerah yang pertama kali terdeteksi ada kasus positif corona virus. Tetapi mengenai skenario-skenario ini dan kegagalan dalam melakukan hal ini akan saya bahas di tulisan-tulisan selanjutnya.

    Manado, kota yang dikenal dengan sebutan kota Nyiur Melambai terletak di bagian ujung utara Indonesia tepatnya di provinsi Sulawesi utara. Kota yang penuh bising di kala terik dan gemerlap ramai di malam hari, dianggap salah satu surga bidadari-bidadari cantik di negeri ini. Ditambah dengan rasa toleransi dari masyarakatnya yang tinggi membuat kota ini menjadi salah satu destinasi wisata bagi turis-turis domestik maupun mancanegara.

    Sejak dipublikasikannya pasien pertama Covid-19 di kota Manado terjadi suatu kegemparan dan tentunya memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Bagaimana tidak, pasien ini diduga memiliki riwayat perjalanan di pusat-pusat kota Manado setelah sebelumnya tiba dari perjalanan luar kota dan baru beberapa hari kemudian masuk ke rumah sakit.

    Kota yang tadinya riuh dan gemerlap seakan-akan mulai padam. Pola hidup masyarakat mulai berubah secara perlahan, aktivitas masyarakat diluar rumah semakin menurun intensitasnya. Pusat-pusat perbelanjaan mulai ditutup, sekolah dan perguruan tinggi mulai menerapkan study from home. Ditambah dengan adanya instruksi physical and social distancing dengan harapan dapat memutus mata rantai peyebaran Covid-19.

    Data terakhir yang dihimpun dari website https://covid19.manadokota.go.id/ per 3 juni 2020, total kasus di kota Manado berjumlah 236 kasus dengan jumlah pasien sembuh 24 orang, meninggal 27 orang dirawat 185 orang, PDP 77 orang dan ODP 40 orang.  Angka tersebutpun berkemungkinan besar untuk terus meningkat, mengingat angka reproduksi Covid-19 (Ro) Sulawesi utara masih tinggi yaitu 2,5 yang mana Manado adalah ibu kota provinsinya dan penyumbang kasus positif terbanyak dibandingkan kota/kabupaten lain di provinsi ini.

    Beberapa minggu terakhir ramai di media massa mengenai istilah ‘New Normal’ singkatnya istilah ini bertolak dari statement presiden Jokowi mengenai berdamai dengan corona. Makna new normal itu sendiri terkesan masih asing atau sekurangnya masih menimbulkan multitafsir. Ada yang berpikiran new normal sebagai the survival for the fittest ada juga yang berpendapat lain. Isu yang santer beredar terkait new normal adalah Herd Immunity’.

    Herd immunity kurang lebih berarti metode atau usaha menekan laju penyebaran dengan mengandalkan imunitas tubuh alami manusia. Ini berarti orang-orang dengan range umur 55 tahun keatas sangat rentan dikarenakan imun tubuh yang sudah menurun termakan usia. Sedangkan umur 45 tahun kebawah resiko mengalami gejala mematikan dari virus ini sangat kecil karena imun tubuh masih kuat. Data yang dirangkum dari https://manadokota.bps.go.id/ jumlah orang berumuran 55 tahun ke atas di manado ada sekitar 61,685 jiwa dari total 433,635 jiwa penduduk.

    Dibagian lain, new normal ditafsirkan sebagai jalan keluar bagi dunia perekonomian yang kian lesu akibat pandemi dan kebijakan physical and social distancing. Jelas saja dengan dihimbaunya orang-orang untuk berdiam diri dirumah maka dampak terhadap dunia ekonomi khususnya di kota manado sangat terasa. Tanyakan saja pada para pekerja informal dan pedagang ataupun buruh harian, belum lagi mereka yang dihantui bayangan akan PHK. Toh bahkan pengusaha kelas menangah maupun kelas atas pun merasakan dampak akibat pandemi Covid-19.

    Tersendatnya roda perekonomian menjadi suatu pukulan tersendiri bagi pemerintah daerah khususnya. Di satu sisi harus memikirkan kondisi kesehatan masyarakat dan kebutuhan hidup sehari-hari dimasa sulit ini, di sisi lain sumber pendapatan dan dana yang berpotensi semakin menipis tiap harinya disebabkan perputaran uang yang terganggu akibat pandemi ini.

    Sementara itu, Menkopolhukam Mahfud MD menegaskan bahwa pendekatan ekonomi bukanlah satu-satunya yang mendasari pemberlakuan new normal, tetapi yang di dahulukan adalah kesehatan melalui protokol-protokol kesehatan yang sesuai dengan standar WHO. Tujuan negara adalah membangun kesejahteraan dan kesejahteraan itu ada 3 indikatornya, kesehatan yang baik, ekonomi yang baik, dan pendidikan yang baik. Terlepas dari apapun dasar pertimbangannya, apakah waktunya sudah tepat atau belum, New Normal sudah menjadi suatu keniscayaan yang tak bisa dihindari.

    Bulan Juni sendiri di Indonesia identik dengan yang namanya Pancasila karena tepat tanggal 1 juni sejak dikeluarkan KEPPRES No. 24 Tahun 2016 diperingati sebagai hari kelahiran Pancasila. Philosophische grondslag begitulah bung karno mendudukan Pancasila di persada Nusantara. Sebagai the way of life bangsa Indonesia yang harus dibumikan serta diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Falsafah ini tepat sekali kita terapkan di tengah masa-masa penuh ketidakpastian ini dengan nilai gotong royong yang menjadi salah satu rohnya Pancasila itu sendiri.

    Semangat gotong royong yang intinya kita saling bahu membahu, topang menopang dan keinginan untuk berkerja sama bisa diejahwantahkan di kota Manado. Syaratnya, ada kemauan (penulis sendiri memiliki keyakinan akan adanya hal ini) dari pihak-pihak terkait, yaitu pemerintah dan tentunya seluruh masyarakat kota Manado.

    Pemerintah kota sebagai proksi yang diberikan amanat untuk memimpin kota ini mempunyai kewajiban untuk proaktif dalam proses penanganan kasus corona. Hal itu sudah dilaksanakan dan juga pastinya mengenai sosialisasi akan New Normal itu sendiri, terlepas dari apakah akan segera diterapkan di Manado atau menunggu scientific calculation indeks penularan dan indikator penentu lainnya.

    Beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika nantinya pelaksanaan tatanan hidup baru ini dijalankan, salah satunya ketersediaan alat-alat kesehatan untuk khalayak umum semisal masker, sarung tangan, hand sanitizer yang akan menjadi benda materiil pertama dan terdepan dalam pencegahan penularan covid-19.

    Rapid test diharapkan untuk bisa secara intens dijalankan agar semakin mudah melacak pola penyebaran-penyebaran dan harapannya bisa memutus rantai penyebaran di kota tercinta ini.  Perlu juga difokuskan mengenai bantuan-bantuan sosial pada masyarakat agar bisa dijalankan secara efisien dan tepat sasaran.

    Tong untuk cuci tangan di tempat-tempat umum pun perlu diperhatikan ketersediaannya, baik volume air dan sabun cuci tangan sebisa mungkin selalu tersedia. Ada fenomena unik baru-baru ini di kota Manado, yang mungkin penulis sebut ‘Portalisasi’ dimana sepengamatan penulis ketika mengitari beberapa tempat, banyak lorong-lorong mulai dipasangi portal yang lumayan bagus mendekati standard-standard (sekalipun belum otomatis) portal pada umumnya. Ada juga yang secara konvensional memakai peralatan yang bisa digunakan seperti kayu dll.

    Pada tataran tertentu mungkin bisa dipahami oleh sebagian orang tetapi ada juga yang mempertanyakan motivasi dibalik pemasangan portal tersebut, karena kebanyakan kondisi ‘portalisasi’ ini didorong akan rasa takut, was-was dan kecemasan yang mungkin sedikit kelebihan dosis. Di sinilah peran pemerintah sebagai penyalur informasi melalui sosialisasi pada masyarakat sampai pada elemen paling bawah. Alangkah lebih baiknya jika yang dibangun bukan portal melainkan tong penampungan air untuk mencuci tangan dan membuat spanduk-spanduk kecil mengenai pentingnya menggunakan masker dan mencuci tangan, tentunya dengan konten atau design yang menarik dan kreatif.

    Hal-hal kecil seperti itu yang mestinya jadi perhatian kita bersama. Di sinilah peran masyarakat sebagai bagian integral dari kota Manado bergotong royong bersama pemerintah, dalam menghadapi virus Covid-19. Masyarakat juga dituntut untuk tidak apatis dan diharapkan memberikan atensi penuh terhadap langkah-langkah pencegahan serta perawatan yang dilakukan pemerintah.

    Kesadaran masyarakat sangat diperlukan sebagai respon atas kerja-kerja pemerintah dan tenaga-tenaga medis. Penerapan pola hidup bersih dan sehat serta mengikuti protokol-protokol kesehatan seperti wajib menggunakan masker ketika keluar rumah, menjaga jarak, berusaha untuk tidak menciptakan atau ikut dalam kerumunan dan juga mengurangi kontak fisik dengan orang lain. Jika semua rutin dilakukan pastinya akan sangat mengurangi resiko terkena virus.

    Selain itu sebagai sesama anggota masyarakat marilah kita bersama-sama saling menguatkan secara mental dan psikis. Hal itu bisa dilakukan melalui hal-hal kecil, seperti membagikan berita (media sosial) yang positif pula bersifat menyemangati satu sama lain. Dan hal penting lainnya adalah bagaimana paradigma kita terhadap tetangga maupun keluarga kita atau orang-orang disekitar kita yang mungkin terkena virus baik dalam tahap ODP, PDP, maupun terkonfirmasi positif, harus diluruskan jangan sampai membentuk suatu stigma negatif yang berakibat terganggunya psikis orang-orang terdekat dari korban.

    Bahayanya lagi pembangunan opini dimasyarakat ini akan bermuara pada timbulnya stereotip bahwa orang yang ‘baru’ dalam tahap ODP sudah dianggap positif, jadi harus dijauhi, jangan didekati seakan-akan mereka bukan lagi manusia. Ini akan membuat orang-orang menjadi lebih takut terhadap penilaian masyarakat positif Covid daripada hasil pemeriksaan medis positif Covid.

    Akibat terburuknya harapan untuk menciptakan usaha bersama dan gotong royong melawan Covid-19 kelihatan semakin kabur. Masyarakat mulai enggan untuk pergi memeriksakan kondisi dirinya hanya karena takut di cap negatif buruk oleh lingkungan sekitarnya. Padahal jika dilakukan bisa sangat membantu dalam memutus rantai penyebaran Covid-19.

    Bentuk konkrit yang bisa diliat bagaimana sangat dibutuhkannya peran aktif dari masyarakat adalah berita yang bulan lalu keluar, dimana ada seseorang yang lari mengilang setelah selesai di tes oleh gugus tugas di salah satu pasar tradisional di kota Manado, tak perlu dijelaskan lagi bagaimana berbahanya hal ini. Langkah awal yang dilakukan pihak pemerintah dengan niat baik untuk memutus penyebaran Covid-19 malah berujung petaka. Seorang pasien (yg hasil rapid tesnya reaktif) melarikan diri usai di tes dan  menjadi sangat membahayakan bagi keselamatan orang lain terutama bagi dirinya sendiri.

    Pada intinya marilah kita menumbuhkan kesadaran dalam diri kita masing-masing bahwa virus ini hanya dapat kita kalahkan jika kita bersatu dan bergotong royong baik antar masyarakat maupun dengan pemerintah kita sendiri. Mari kita jadikan bulan Pancasila ini sebagai turning point serta momentum untuk bangkit dan membakar semangat kita dengan keyakinan bahwa sebagai bangsa yang besar kita tidak akan runtuh dan kalah dari virus ini. Kita jadikan ini sebagai pelajaran agar kedepan kita bisa lebih siap lagi menghadapi segala ancaman dan bahaya. Sekian. Merdeka!!!


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Salsabila Zulfani

    1 hari lalu

    Covid-19, Membuat Tugas Auditor Menjadi Sulit?

    Dibaca : 94 kali

    Covid 19 adalah virus yang menyerang sisem pernapasan. Virus corona dapat menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru berat hingga kematian. Pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Hampir setiap hari ribuan bahkan ratusan korban infeksi virus corona meregang nyawa. Perekonomian negara terganggu bahkan banyak perusahaan yang harus mengurangi pegawai supaya tidak bangkrut. Dampak Covid 19 ini memang cukup banyak bagi negara terdampak. Lalu bagaimana dengan negara Indonesia?. Indonesia sudah berusaha sedemikian rupa untuk mencegah penularan virus Covid 19 ini,hingga pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ). Bekerja dan belajar dari rumah, hal ini mungkin tidak terlalu sulit sebab teknologi yang semakin canggih di masa sekarang ini. Lalu bagaimana dengan profesi yang harus bekerja turun lapang atau outdoor? Auditor misalnya?. Auditor harus menyambangi perusahaan klien sehingga dapat dengan mudah mengamati sistem pada perusahaan klien. Mengamati bagaimana SOP atau bagan alur setiap kegiatan perusahaan, seperti penjualan, pembelian dan aliran kasnya. Bagaimana auditor harus bekerja dari jarak jauh?. Strategi bagi auditor yang harus bekerja jarak jauh meliputi perencanaan audit, pemeriksaan/pengkajian dokumen, kerja lapangan/melakukan pengamatan, wawancara terhadap pihak yang terkait, dan pertemuan penutupan. Berikut penjelasan singkatnya. Perencanaan Perencanaan audit merupakan hal yang sangat penting di setiap pengauditan. Namun hal ini akan sulit jika pihak klien ada di lokasi yang jauh ataupun sulit terjangkau ( terpencil ). Sementara tahap perencanaan audit ini harus dibahas dengan klien. Informasi yang dapat dibahas dalam tahap ini adalah ruang lingkup perusahaan serta perncanaan jadwal kapan kegiatan audit akan di mulai, tak lupa memberi informasi kepada klien mengenai keterbatasan perihal proses kegiatan audit jarak jauh ini. Serta info apa saja yang akan dibagikan dan dengan tunjangan media atau teknologi apa yang digunakan. Berdasarkan kebutuhan diatas, auditor dapat menghabiskan waktu dua kali lebih banyak guna membahas perencanaan ini. Teknologi yang dapat digunakan dalam hal ini seperti vidio conference dan powerPoint untuk menyampaikan informasi/materi atau dapat menggunakan panduan visual lainnya. Pemeriksaan/Pengkajian Dokumen Pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh akan memakan waktu cukup banyak serta tak luput dari keterbatasan. Dalam hal ini auditor harus mampu menerima dokumen dalam bentuk/format apapun yang paling mudah diperoleh oleh klien sehingga dapat meminimalisir beban yang ada. Pertimbangan terkait aksesibilitas sistem file digital yang digunakan klien untuk menyimpan rekaman catatan tersebut harus diberikan. Pertimbangan strategi audit yang baik dan tepat juga harus dipikirkan oleh auditor untuk pemeriksaan ataupun pengkajian dokumen, pengambilan sampel dapat menjadi alternatif terbaik. Tergantung pada jumlah rekaman catatan yang ada. Terlepas apakah auditor memeriksa semua atau sebagian dari data yang tersedia. Tidak seperti pemeriksaan/pengkajian rekaman catatan di lokasi, pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh biasanya tidak memungkinkan untuk memberikan pertanyaan langsung pada saat yang sama. Auditor harus mencatat ataupun menulis hal-hal yang patut dipertanyakan pada klien saat melakukan proses pemeriksaan/pengkajian dokumen, dan dapat ditanyakan saat wawancara jarak jauh. Kerja Lapangan/Pengamatan Hal ini mungkin akan menjadi hal yang cukup sulit bagi audit jarak jauh, pasalnya hal ini biasanya dilakukan dengan menyambangi perusahaan klien. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan vidio conference ataupun livestreaming. Walaupun tidak terlepas dari kendala-kendala yang ada seperti ketersediaan Wi-Fi, lokasi kerja klien yang berada di tempat terpencil dan kebisingan yang mungkin akan mengganggu proses audit ini. Tidak banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan observasi jarak jauh. Sebab penayangan vidio hanya pada satu titik dan auditor akan kesulitan untuk melakukan pengamatan. Alternatif lain yang dapat diambil adalah dengan foto digital yang dapat diambil dari smartphone milik klien ataupun milik perusahaan. Hal ini dapat menimalisir kendala jaringan yang tidak memungkinkan melakukan vidio conference. Dari hasil pengamatan, audit dapat membuat catatan dan menyiapkan pertanyaan. Wawancara Terhadap Pihak yang Terkait Dalam hal ini mungkin tidak jauh beda dengan wawancara langsung, hanya perlu media penghubung seperti panggilan vidio ataupun semacamnya misalnya Google Meet, Skype dan Zoom. Auditor perlu melakukan perencanaan wawancara seperti berapa lama waktu yang diperlukan dan kepada siapa saja pihak yang perlu diwawancarai. Misalnya dengan penanggung jawab kegiatan, pemegang keluar dan masuknya kas ( kasir ), bagian gudang, penerimaan barang, dan personil lain yang bertanggung jawab dalam mendukung fokus audit. Persiapan wawancara jarak jauh membutuhkan waktu tambahan bagi auditor, serta auditor harus siap dengan daftar pertanyaan dan hal-hal terkait informasi tambahan apa saja yang dibutuhkan berdasarkan pengamatan yang dilakukan sebelumnya. Keterbatasan wawancara jarak jauh ini juga dapat terjadi ketika personil yang diwawancarai merasa canggung, gugup atau tidak nyaman dengan panggilan vidio oleh sebab itu, pemilihan kata dan penempatan intonasi yang bagus dan tepat akan dapat membuat wawancara menjadi tidak tegang. Pertemuan Penutupan Pertemuan penutupan audit jarak jauh memiliki konsep yang sama dengan pertemuan penutupan secara langsung, mungkin memang memerlukan media penghubung. Penjadwalan penutupan ini harus dipertimbangkan oleh auditor, minimal dua hari setelah melakukan wawancara. Sehingga auditor dapat mengkaji kembali catatannya dan menyusun rancangan awal hasil audit. Pertemuan penutupan ini dimaksudkan untuk mrmpresentasikan rancangan awal hasil audit kepada klien, menyelesaikan pertanyaan/permasalahan serta melakukan pembahasan lebih lanjut untuk hasil final audit, yaitu opini dari auditor. Kesimpulan yang dapat di ambil ialah penggunaan teknologi secara praktis. Inovasi dan transformasi teknologi menjadi fokus bisnis serta progam audit di seluruh dunia. Saat ini adalah saat yang tepat untuk mengkomunikasikan lebih lanjut mengenai proses audit jarak jauh. Terdapat beberapa teknologi berkembang yang dapat menunjang kegiatan tersebut antara lain vidio livestreaming, Virtual Reality ( VR ), pesawat tak berawak ( drone ) dan lainnya. Namun semua teknologi pastilah diperlukan biaya tambahan yang mungkin malah mengakibatkan auditor merugi. Jadi pilihlah teknologi yang sesuai dengan bayaran yang diterima. Proses audit jarak jauh bukanlah satu-satunya solusi yang tepat untuk semua masalah. Hal ini bukan pula sebagai pengganti pelaksanaan audit secara langsung. Namun sebagai bagian dari alternatif yang dapat dilakukan di masa pandemi ini.