Analisis Kebijakan AS di Masa Trump: Pemegang Kasus Covid-19 Tertinggi di Dunia

Senin, 8 Juni 2020 16:05 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Salah satu hal yang bisa dicermati dari gagalnya penanganan virus, dapat dilihat dari kebijakan AS akhir-akhir ini terhadap pengembangan sains. William Head dalam artikelnya pada 2018 mengatakan bahwa dalam kepemimpinan Donald Trump, Kebijakan AS sangat kontradiktif terhadap Ilmu pengetahuan. Bahkan lembaga penelitian yang disiapkan Obama pada tahun 2009 seketika dihapus Trump.

Menurut laporan The Guardian, pada 04 Juni 2020 AS masih menduduki posisi pertama sebagai negara pemegang kasus positif Covid-19 tertinggi di dunia dengan angka 1.851.097 (Niko Kommenda, 2020). Besarnya kasus menimbulkan spekulasi, terlebih AS merupakan negara super power dimana seharusnya bisa menekan angka penyebaran. Di samping merebaknya virus, Donald Trump alih-alih menganggap bahwa virus ini bukan merupakan ancaman dan apa yang dikatakan WHO sebagai pandemi merupakan sebuah tipuan.

Salah satu hal yang bisa dicermati dari gagalnya penanganan virus, dapat dilihat dari kebijakan AS akhir-akhir ini terhadap pengembangan sains. William Head dalam artikelnya pada 2018 mengatakan bahwa di kepemimpinan Trump, Kebijakan AS sangat kontradiktif terhadap Ilmu pengetahuan.

Bahkan lembaga penelitian yang sebelumnya telah disiapkan Obama pada tahun 2009 di 2101 Constitution Ave dengan nama PCAST seketika ditariknya ketika Trump berhasil terpilih menjadi Presiden AS di tahun 2017 (Jason Karlwaish, 2020). Laporan publikasi PCAST yang sudah tersebar pun, termasuk pada web resminya dihilangkan dari penyebaran.

Pembahasan

Kebijakan AS yang kurang perhatian terhadap penelitian saintifik berdampak pada tidak adanya persiapan atas virus yang merebak dari Wuhan. Akibatnya AS harus menerima lonjakan virus dengan peningkatan drastis tanpa perencanaan (Yamey & Gonsalves, 2020). Konsekuensi pun diperparah oleh tidak adanya infrastuktur penunjang yang mendukung terhadap kewaspadaan virus. Oleh karena itu kemungkinan tersebut menjadi salah satu penyebab mengapa AS sampai saat ini menjadi negara dengan tinggat kasus positif Covi- 19 terbesar di dunia.

Kebijakan yang kontradiktif pada saintifik ini pun berakibat buruk pada proses penanganan virus dimasa depan. Pada penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh PCAST, mereka telah mengembangkan bagaimana persiapan vaksin terhadap DNA Influenza yang dapat meregenerasi. Tentu jika kita mengacu pada Covid-19 sendiri, dia merupakan salah satu famili dari influenza, sehingga jika saja Trump melanjutkan proyek sains tersebut mungkin lonjak virus ini tidak akan besar sedemikian rupa karena ilustrasi perkembangannya akan terpetakan.

Hal lain yang penulis mengasumsikan, dapat pula terjadi karena mobilitas perpindahan yang semakin padat dimana menyebabkan sulitnya menentukan bagaimana perkembangan virus, sehingga kebijakan AS terhadap kelonggaran masuk dan keluarnya imigran ini perlu dipertimbangkan.

Jika melihat data UN Population Division, AS menduduki peringkat pertama sebagai negara penerima imigran dengan angka 50 Juta orang, diatas Arab Saudi dengan angka kurang lebih 15 Juta orang. Pesatnya perpindahan penduduk, menurut penulis dapat menjadi penyebab pula, sehingga virus ini tumbuh dengan cepat.

Analisis menggunakan teori

Pendekatan Poliheuristik melihat peran seseorang merupakan perwujudan dari apa yang menjadi kebiasaan atau cara pandang seseorang tersebut. Dari pendekatan ini, subjek yang menjadi pemfokusan akan memandang secara selektif terhadap keputusan yang sangat familiar dengannya. Pendekatan ini pun menyatakan bahwa ada prioritas dari seseorang, sehingga kebijakan yang dilakukannya cenderung bersifar selektif.

Jika melihat kasus Trump ini menggunakan analisis Poliheuristik maka, kebijakan Trump tersebut cenderung dikarenakan rasionalisasi dan selektifitas Trump terhadap masa depan AS. Penarikan pengembangan sains oleh Trump menurut Poliheuristik dikarenakan ada kepentingan lain yang menjadi prioritas bagi Trump yang lebih penting daripada mengembangkan penelitian sainstis.

Dampak dari selektifitas tersebut menyebabkan hilangnya jangkauan terhadap pengadaan sains walaupun hal tersebut sudah dilakukan di masa presiden AS sebelumnya. Dari asumsi pendekatan ini, bisa saja Trump lebih memfokuskan terhadap perkembangan ekonomi misalnya dengan banyaknya privatisasi atau mungkin terhadap pendanaan militer sehingga sains dianggap tidak penting.

Kesimpulan

Dapat disimpulkan kemungkinan tingginya kasus COVID 19 di AS ini bisa disebabkan oleh 2 faktor. Pertama, karena kebijakan AS dimasa Trump yang sangat kontradiktif terhadap sains, tidak seperti kebijakan AS dimasa presiden sebelumnya sehingga faktor pendukung untuk kewaspadaan terhadap virus sangat minim.

Kedua, karena AS dalam kebijakannya masih memperlonggar terhadap mobilisasi keluar dan masuk imigran, sehingga faktor itu memungkinkan pula virus menyebar secara cepat, terlebih imigran tersebut berasal dari negara zona merah Covid-19.

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler