Mau Jadi Rakyat Istimewa di Mata Presiden Jokowi? Ikuti Cara Rakyat Ini - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Adian Jokowi Erick

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 15 Juni 2020 13:11 WIB
  • Peristiwa
  • Berita Utama
  • Mau Jadi Rakyat Istimewa di Mata Presiden Jokowi? Ikuti Cara Rakyat Ini

    Dibaca : 545 kali

    Tidak semua rakyat seberuntung Adian Napitupulu. Mengritik keras pemerintah, bahkan kritikannya diviralkan di berbagai media massa, bukannya dijemput polisi, malah dapat durian runtuh, diundang oleh Presiden Jokowi ke Istana Negara. Betapa beruntungnya, sebab bila rakyat lain yang melakukannya, tentu nasibnya akan berbeda.

    Yah, betapa beruntungnya rakyat bernama Adian Napitupulu, yang kini menjadi anggota DPR RI dan menjabat juga sebagai Sekjen Perhimpunan Nasional Aktivis (PENA) 98, sebab merupakan politikus dari gerbong yang sama dengan Presiden Jokowi.

    Kendati sebagai anggota DPR RI Komisi VII yang fungsi dan tugasnya apa? Namun, Adian justru mengritik kinerja Menteri BUMN Erick Thohir. 

    Bahkan kritikan yang cukup panjang dan tersebar viral di berbagai media massa dan media sosial di Indonesia, lantas membuat warganet dan berbagai pihak berandai-andai. Bila saja kritikan itu bukan keluar dari pikiran dan ditulis tangan oleh Adian, kira-kira apa yang akan terjadi?

    Warganet pun ramai membincang dan banyak yang menulis di kolom komentar di setiap artikel yang terkait berita Adian ini. Bila satu contoh saya kutip, semisal ada warganet yang berujar "Rakyat yang mengritik dijemput aparat," ujar @jhonamerah. "Demokrasi hanya di bibir," ujar @dahutabarat1, dll kritikan yang senada.

    Bahkan, atas kritikan Adian yang mengatasnamakan dirinya sebagai Sekjen PENA 98, lalu tersebar kabar bahwa Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan segera mempolisikan Adian, namun itu ternyata hanya hoaks. Sebaliknya, atas kritikannya, politikus PDIP itu, justru dipanggil Presiden Jokowi ke Istana Negara, Jakarta, pada Jumat (12/6/2020) siang.

    Kira-kira apa yang terjadi di Istana Negara? Lalu apa sebarnya kritikan Adian Napitupulu yang justru mengatasnamakan Sekjen PENA 98 bukan sebagai anggota DPR yang mewakili rakyat? Apa Adian sedang mencari panggung lagi untuk dirinya sendiri dan para aktivis 98?

    Bagi warganet yang belum menyimak atau membaca kritik Adian terhadap BUMN pimpan Erick Thohir, dapat membukanya di berbagai media, sebab kriitkan tersebut memang sengaja disebar ke ranah publik melalui media massa.

    Atas kritikan tersebut, bukannya Adian mendapat masalah seperti rakyat atau pihak lain yang bukan pemuja Jokowi, dan biasanya langsung dijemput polisi. Di luar dugaan warganet dan rakyat Indonesia, Adian Napitupulu justru bak mendapat durian runtuh dan mendapatkan kehormatan diundang langsung oleh Jokowi ke Istana Negara. Luar biasa.

    Terang saja, berbagai media pun akhirnya menulis berita dengan judul-judul seperti Presiden Jokowi sangat mengistimewakan Adian Napitupulu. Lalu, dalam pemberitaan, pada hari Jumat (12/6/2020) eks Gubernur DKI Jakarta mengundang Adian ke Istana. Mereka ngobrol empat mata selama satu jam soal BUMN.

    Bahkan narasi dan deskripsi dari berita yang diapungkan berbagai media pun sangat sejuk. Adian tiba di Kompleks Istana sekitar pukul 14.00 WIB. Mantan aktivis 98 itu datang sendiri dengan setelan rapi. Bawahan hitam dengan kemeja warna putih. Berikutnya, digambarkan kemunculan Adian di kompleks Istana ini memang bikin penasaran. Bukannya ditangkap dan digiring ke kantor polisi, tetapi malah dapat jalan melenggang masuk Istana Negara, karena dipanggil langsung oleh Presiden.

    Berbagai media pun mengungkap bahwa, setelah dua jam berselang, Adian mengirimkan rilis kepada teman-teman wartawan soal pertemuannya dengan Jokowi. Adian mengatakan bahwa, selama satu jam lebih bicara empat mata dengan Jokowi. Ada dua hal yang dibicarakan dalam pertemuan itu.

    Pertama, soal situasi nasional pasca-pembatasan sosial. Kedua, membahas soal adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi di BUMN akhir akhir ini. Selain itu, Adian juga mengungkapkan bahwa apa yang disampaikan antara lain soal skema aliran dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) ke BUMN. Dia berharap, skema pemberian dana tidak menyalahi Peraturan Pemerintah (PP) No 23/2020. Dalam PP tersebut tidak dikenal istilah pinjaman negara. Yang ada adalah PMN atau Penyertaan Modal Negara.

    Hal lain yang diungkap adalah, Adian gembira dapat menyampaikan berbagai masukan secara langsung kepada Jokowi. Apalagi Jokowi menanggapi dengan terbuka. Bahkan, ia mengaku tak perlu mengubah gaya bicaranya. Bahkan, semua masukan dicatat sendiri oleh beliau Jokowi. Selain itu, Adian juga mengundang Jokowi untuk meresmikan rumah sakit PENA 98 di Gunung Sindur, Bogor, dalam waktu dekat.

    Luar biasa bukan kisah Adian ini? Setelah sebelumnya melontarkan kritikan pedas kepada Kementerian BUMN. Dan, kritikan tersebut dirangkai dalam artikel berjudul BUMN dan UMKM dalam Angka, Siapa Pahlawan Sesungguhnya? Eh, malah dapat durian runtuh, diistimewakan oleh Presiden Jokowi, diundang ke Istana Negara segala.

    Tak pelak, atas istimewanya Adian di mata Jokowi, hal ini pun menjadi pembicaraan warganet. Sebagian mengungkapkan pujian kepada Adian yang dianggap sebagai salah satu orang yang diistimewakan Jokowi, seperti berikut:

    "Cocok nih jadi menteri," kata @firmandamopoli. Sebagian pengguna Twitter menebak-nebak deal di balik pertemuan tersebut. "Kayaknya dapat jatah komisaris," ujar @wadinug.

    "Komisaris PLN cocok. Kalau ada yang protes tagihan PLN biar dia yang jawab," ujar @sukamtoato. "Calon direktur PLN pastinya," ujar @koelikabel.

    Selain itu, ada juga yang mengungkapkan rasa heran. Orang seperti Adian saat mengkritik langsung dipanggil ke Istana. Tapi orang yang bukan lingkaran penguasa saat mengkritik malah dipanggil ke kantor polisi. "Rakyat yang mengritik dijemput aparat," ujar @jhonamerah. "Demokrasi hanya di bibir," ujar @dahutabarat1.

    Selamat Adian, Anda memang bukan rakyat biasa. Sebab, rakyat biasa tentu tak akan seistimewa Anda di mata dan hati Presiden yang dipilih oleh rakyat juga. Polisi pun bahkan tak berkutik dan tak pernah berpikir menjemput Anda.

    Pertanyaannya, apakah untuk mengkritik pemerintah dan lalu Presiden menganggap lalu menanggapi kritikan dan malah mengundang si pengkritik ke Istana Negara, harus rakyat yang satu partai/gerbong dan mantan aktivis 98 dulu? Padahal apa bedanya kritikan-kritikan rakyat dan pihak yang mencintai NKRI selama ini?


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.