Tingkat Kesembuhan Pasien Covid-19 Meningkat, Tapi Indonesia Belum Aman - Pilihan - www.indonesiana.id
x

ilustr: Search Engine Journal

Redaksi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 15 Juni 2020 15:07 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Tingkat Kesembuhan Pasien Covid-19 Meningkat, Tapi Indonesia Belum Aman

    Pakar epidemiologi dan informatika penyakit menular Dewi Nur Aisyah mengatakan tingkat kesembuhan penderita Covid-19 di Indonesia semakin meningkat. Pasien Covid-19 yang memiliki fatalitas tinggi hingga meninggal dunia biasanya karena memiliki komorbit atau penyakit penyerta. Namun demikian Indonesia hanya ada diperingkat peringkat 97 dari 100 negara teraman di dunia dari terpaan pandemi corona.

    Dibaca : 2.960 kali

    Pakar epidemiologi dan informatika penyakit menular Dewi Nur Aisyah mengatakan tingkat kesembuhan penderita Covid-19 di Indonesia semakin meningkat. "Saat ini angka kesembuhan Covid-19 di Indonesia semakin meningkat dari hari ke hari," kata dia seperti ditulis laman Tempo.co, Senin, 15 Juni. 

    Meenurut Dewi pada awal pandemi dulu angka meninggal dunia memang tinggi bila dibandingkan jumlah kasus. Tetapi hal itu disebabkan jumlah spesimen yang diperiksa masih sedikit. "Berdasarkan hasil analisis terhadap sejumlah kasus, pasien Covid-19 yang memiliki fatalitas tinggi hingga meninggal dunia biasanya karena memiliki komorbit atau penyakit penyerta," kata dia dalam bincang-bincang Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 melalui akun Youtube BNPB Indonesia di Jakarta, Senin, 15 Juni 2020.

    Saat ini jumlah spesimen yang diperiksa terus meningkat. Menurut Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19  Achmad Yurianto hingga kini total spesimen yang telah diperiksa sejak 1 April 2020 sebanyak 514.287 spesimen. Rinicannya, 503.586 pemeriksaan menggunakan PCR dan 10.701 spesimen diperiksa menggunakan TCM.

    Pada Sabtu dan Minggu kemarin, tak kurang 18.760 spesimen diperiksa terkait Covid-19. "Dari jumlah spesimen ini, konfirmasi kasus positif 857 orang, sehingga total (kasus positif) 38.227 orang," kata Yurianto saat memberikan keterangan di Graha BNPB, Jakarta, Minggu, seperti dtiulis laman Kompas.com. Spesimen yang diperiksa, kata dia, berasal dari 9.658 orang, baik menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR) maupun tes cepat molekuler (TCM). 

    Dewi mengatajan data mengenai Covid-19 sangat dinamis, berbeda dengan data penyakit lain seperti hipertensi atau diabetes melitus. "Bicara angka, misalnya pada penyakit hipertensi atau diabetes, jumlahnya akan terus bertambah yang kemudian kita sebut prevalensi ketika penyakit ada pada diri seseorang seumur hidupnya," kata Dewi

    Anggota Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 itu mengatakan terdapat beberapa penyakit yang hanya menginfeksi seseorang dalam jangka waktu yang pendek, seperti influenza dan Covid-19. Menurut dua seseorang berstatus orang dalam pemantauan bisa jadi positif Covid-19 sehingga harus dirawat atau melakukan isolasi mandiri. Dua minggu kemudian setelah dilakukan tes usap dan hasilnya negatif, kemudian dua minggu berikutnya diperiksa lagi dan hasilnya kembali negatif, maka dia telah sembuh dari Covid-19.

    Karena itu, data Covid-19 akan sangat berbeda dengan data penyakit kronis yang biasanya tidak ada data tentang pasien yang sembuh. Penyakit kronis adalah gangguan kesehatan yang berlangsung lama, biasanya lebih dari satu tahun.

    Sementara itu pakar Epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono, mengingatkan saat ini Indonesia hanya ada diperingkat peringkat 97 dari 100 negara teraman di dunia dari terpaan pandemi corona. "Laporan itu berdasarkan respon kita terhadap setiap indikator penilaian. Itu loh sebabnya saya berpendapat agar ini serius dipimpin presiden, karena ini bawa negara," ujar Pandu kepada Tempo.co, Ahad, 14 Juni 2020.

    Pemeringkatan itu dilakukan oleh Deep Knowledge Group, konsorsium perusahaan dan lembaga nirlaba yang dimiliki Deep Knowledge Venture, firma investasi dari Hong Kong. Laporan ini dibuat berdasarkan 130 parameter kuantitatif dan kualitatif. Selain tu juga memeriksa lebih dari 11.400 titik data dalam berbagai kategori seperti efektivitas karantina, pengawasan dan deteksi, kesiapan medis, serta efektivitas kebijakan yang dibuat pemerintah.

    Pandu mengingatkan bahwa aman dalam faktor kesehatan itu penting. Sedangkan saat ini, ia melihat pemerintah lebih fokus kepada faktor ekonomi. "Padahal syarat ekonomi adalah kesehatan. Bagaimana orang mau kerja kalau sakit?"



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.