#SeninCoaching: Masih Ada yang Pada Membangkang, Ya? - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Boss selalu merasa benar itu bahaya

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 16 Juni 2020 11:02 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • #SeninCoaching: Masih Ada yang Pada Membangkang, Ya?

    Pemerintah membangkang terhadap aspirasi publik, masyarakat membangkang ajakan bebuat lebih baik untuk hidup bersama, individu-individu membangkang para guru dan tuntunan agamanya. Krisis dalam interaksi antar pribadi, di arena sosial dan politik, terjadi indikasinya akibat perilaku orang-orang yang kebetulan sedang dalam posisi pimpinan memaksakan perspektif lama yang sudah tidak relevan lagi untuk melihat dan menyelesaikan persoalan sekarang. Sebaliknya, masyarakat juga cenderung tidak dapat menahan diri, mudah terpicu oleh glorifikasi isu hasil engineering media.

    Dibaca : 2.170 kali

    #Leadership Growth: Update Your Perspective

    Mohamad Cholid, Practicing Certified Executive and Leadership Coach

     

    To think clearly about the future, we need to clean up the language that we use in labelling the beliefs we had in the past,” Daniel Kahneman.

     

    Dalam salah satu coaching session Marshall Goldsmith tentang menata ulang kehidupan, peserta diperkenalkan kepada Ayse Birsel, seorang industrial designer berkantor di New York. Marshall Goldsmith, selama bertahun-tahun dikenal sebagai #1 Executive Coach di dunia, suatu hari telah mengajak 50 orang temannya mengikuti workshop Ayse Birsel tentang Design the Life You Love.

    Empat tahun lalu itu, 2016, Marshall Goldsmith berusia 67 tahun dan sudah lebih dari 20 tahun kondang pula sebagai coach para CEO dan top executive organisasi hebat kelas dunia, seperti Dr. Jim Yong Kim (President of the World Bank ke 12), Alan Mulally (CEO Ford, memimpin perubahan dari merugi belasan milyar dollar AS jadi profitable), Ian Read (CEO Pfizer) dan lainnya.

    Kalau orang seusia dan sekaliber Marshall Goldsmith bersedia mengikuti workshop Ayse Birsel, minimal ada dua penyebab. Pertama, Marshall Goldsmith dengan senioritas dan reputasi hebat di bidangnya tetap rendah hati untuk menerima perspektif berbeda dari orang lain dalam mengelola hidup – dia mengakui terinspirasi dari workshop itu. Kedua, Ayse Birsel memiliki keistimewaan.

    Perspektif unik dari Ayse Birsel, yang antara lain dia tuturkan dalam buku Design the Life You Love dan sederet workshop di pelbagai tempat di dunia, ternyata memang selalu relevan bagi semua orang yang bersedia menyadari pentingnya selalu menyusun ulang skenario hidup masing-masing. Di usia berapa pun, profesi dan fungsi apa pun. Apalagi saat menghadapi krisis, seperti sekarang.

    Memaknai dan mengelola kehidupan dari sudut pandang Ayse Birsel, seorang desainer, sungguh layak kita simak. Kata Ayse Birsel, setiap orang, termasuk Anda, bisa disebut pemberani kalau sudah menentukan sikap bahwa hidup Anda merupakan proyek paling penting di dunia ini. Lantas melakukan penggalian mendalam hidup yang Anda jalani dan melihat lebih gamblang melalui sudut pandang baru – dan berpikir seperti seorang desainer.

    Prosesnya lewat deconstruction dan reconstruction hidup kita. Interseksi antara proses deconstruction - reconstruction dengan realitas hidup, akan memicu pemikiran untuk mendesain ulang hidup yang kita cintai ini. Kenyataannya, ketika kita selesai proses dekonstruksi dan berani melihat penggalan-penggalan hidup kita dengan perspektif lebih baik, lalu siap melakukan rekonstruksi, kita akan mendapati fakta bahwa tatanan lama tidak bisa kita ulang persis seperti dulu.

    Hidup setiap orang memiliki warna, bentuk, dan keunikannya masing-masing – yang dipengaruhi oleh sentuhan saat balita, interaksi dengan lingkungan (keluarga, pendidikan, pergaulan sosial), dan proses lanjutan dalam dunia profesi di tengah masyarakat yang lebih bervariasi. Kalau semua unsur yang membentuk hidup kita seperti sekarang ini kita urai, kita preteli satu-satu, apakah saat menyusunnya kembali Anda yakin bisa seperti sebelumnya? Ini interpretasi atas Aysel Birsel.

    Nilai-nilai yang Anda yakini selama pembentukan menjadi pribadi sebagaimana Anda hari ini tentunya akan mempengaruhi proses membangun ulang, rekonstruksi, hidup selanjutnya.

    Dalam masyarakat yang terbentuk oleh ribuan unsur yang berproses dan berinteraksi secara random, bahkan di wilayah yang dikendalikan oleh pemerintahnya secara tertib sekalipun, katakanlah seperti di Singapura atau Swiss, setiap orang adalah istimewa. Bahkan setiap manusia punya kecenderungan membangkang atas tatanan yang mengepungnya. Respon positif akan melahirkan kreativitas, respon negatif mendorong penyimpangan.

    Di situ rupanya pentingnya proses dekonstruksi, lalu melihat pelbagai unsur diri kita dengan perspektif lebih baik, dan disusul rekonstruksi bangunan hidup baru. Kita perlu memacu diri lebih kreatif, agar tidak hanyut dalam arus yang tak terkendali dan bahkan bisa mendadak mampat. Disebabkan oleh tekanan politik, kesimpangsiuran kebijakan penguasa, bottleneck di Board of Director atau akibat diganjal krisis, termasuk krisis ekonomi dan wabah sekaligus seperti hari ini.

    Tradisi agama-agama besar sesungguhnya memiliki ritual yang membantu proses dekonstruksi-rekonstruksi, antara lain melalui puasa atau bentuk pengembangan pengendalian diri dan pengolahan batin lainnya.

    Selama berpuasa, katakanlah 30 hari bulan Ramadhan bagi kalangan Muslim, 10 hari pertama sejatinya dapat ditafsirkan sebagai moment yang istimewa untuk proses dekonstruksi. Pada 10 hari kedua, mulai memilah-milah mana yang perlu disingkirkan dan mana yang diperbaiki, ditingkatkan – berani melihat diri sendiri melalui perspektif baru. Kemudian, 10 hari terakhir memasuki proses rekonstruksi, mengelas kembali hasil seleksi berbagai unsur diri kita sesuai dengan hidayah atau ilham yang diterima masing-masing. Bagi yang mampu menghayatinya dengan tekun, proses ini indah.

    Selama proses tersebut sesungguhnya Pemilik Alam Semesta menebarkan ribuan peluang agar kita mampu membangun perspektif lebih jernih, yang sangat diperlukan dalam proses rekonstruksi. Setiap orang memiliki daya serap berbeda dalam menangkap peluang tersebut. Maka pada akhir Ramadhan pertanyaan untuk diri sendiri adalah: Apakah berhasil mendapati pribadi yang baru? Atau masih ngotot menjalankan kebiasaan lama yang landasan dalilnya kurang kuat – padahal sudah diberitahu pula oleh para guru (ustadz) dari pelbagai madzhab bahwa kebiasaan itu sepatutnya dihentikan?

    Proses dekonstruksi – rekonstruksi selama Ramadhan adalah salah satu peluang besar penyucian diri. “… upaya sungguh-sungguh manusia agar matahari kalbunya tidak mengalami gerhana dan bulannya pun tidak mengalami hal serupa.” (Dr. M. Quraish Shihab, mengutip Al-Biqa’i, dalam Tafsir Al Mishbah, 2009).

    Berdasarkan sharing dari para sahabat di lingkungan Nasrani, Buddha, dan Hindu, saya mengetahui bahwa proses dekonstruksi-rekonstruksi, dalam format sesuai ajaran masing-masing, juga dilaksanakan. Intensitas dan hasilnya tergantung pada level pemahaman dan kemauan setiap individu.

    Wabah covid-19 seperti kita ketahui telah menjadi lebih dari melulu persoalan public health, tapi juga memicu krisis multi-dimensi: krisis ekonomi dan politik, krisis kepercayaan, krisis sosial (jutaan orang kehilangan pekerjaan), krisis spiritual (banyak orang bingung, mana yang harus diikuti, para ulama atau ego segelintir orang yang seolah-olah lebih tahu soal agama dibanding para ulama – apalagi ditambahi agenda politik lokal).

    Maka di sana-sini terjadi pembangkangan terhadap upaya-upaya memotong jalur penularan wabah. Pemerintah membangkang saran para ahli dan aspirasi publik; masyarakat membangkang ajakan bebuat lebih baik untuk hidup bersama secara sehat; individu-individu membangkang para guru dan tuntunan agamanya.

    Krisis dalam interaksi antar pribadi, di arena sosial dan politik, terjadi indikasinya akibat perilaku orang-orang yang kebetulan sedang dalam posisi pimpinan memaksakan perspektif lama yang sudah tidak relevan lagi untuk melihat dan menyelesaikan persoalan sekarang. Sebaliknya, masyarakat juga cenderung tidak dapat menahan diri, mudah terpicu oleh glorifikasi isu hasil olahan media.

    Dalam menghadapi realitas yang berubah digoncang wabah dan sederet persoalan yang menyertainya, ternyata masing-masing pihak, publik dan penguasa, mayoritas masih menjalani hidup sebagaimana selama ini, bukan bagaimana sebaiknya.

    Memilih jalan yang lebih baik, kadang menanjak, memang sering counterintuitive, tidak nyaman. Di sini pentingnya proses dekonstruksi, lalu berpikir kreatif, melihat penggalan realitas hari ini dengan perspektif baru, dan selanjutnya rekonstruksi. Keberanian melihat penggalan-penggalan diri sendiri dengan lebih gamblang dari perspektif baru sangat diperlukan, karena ganjalan terberat sering datang dari diri sendiri.

    Tindakan selanjutnya apa?

    Pertama, bertanya secara lugas kepada diri sendiri: Kisah tentang diri seperti apa yang patut kita hadirkan pasca krisis? Lebih jauh lagi: kelak kita akan dikenang orang apanya, karena kontribusinya ke masyarakat, legacy, atau keberhasilan memimpin perubahan organisasi dan komunitas?

    Hidup dalam tatanan baru atau the new normal sepantasnya dimulai dengan tatanan baru diri sendiri. Setelah proses dekonstruksi, berpikir jernih, dan rekonstruksi, cara kita menata pikiran, mengolah batin, menghasilkan keputusan sepatutnya jadi lebih baik, kan?

    Kedua, gunakan tool atau panduan agar kita berjalan dengan kompas yang handal. Fokus. Berdasarkan cara Ayse Birsel, susun dulu semua ingredients untuk menjadi pribadi baru yang lebih baik. Ini pilihan, apa saja yang Anda anggap sangat penting dan sanggup mengolahnya. Misalnya, menyangkut kualitas kesehatan, keseimbangan hidup, inovasi, sustainability, multiplicity, kebahagiaan lahir batin, integritas, dst.nya.

    Setelah mengetahui apa yang ingin kita capai dan unsur-unsur apa yang dapat mendukung proses untuk meraihnya, berikutnya bisa menggunakan The Wheel of Change, yang selama bertahun-tahun ini dipraktikkan dalam komunitas Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching (MGSCC).

    Untuk menjalankannya, ada empat pertanyaan dasar yang mesti dijawab: Hal baru apa yang selama ini belum kita kerjakan dan kalau kita laksanakan memberikan manfaat besar bagi hidup kita? Apa saja yang harus kita eliminasi karena menghambat (seperti gossip di WhatsApp group atau nonton debat di televisi yang tidak menambah kecerdasan)? Perilaku apa yang tetap dapat kita pertahankan karena masih relevan dengan situasi sekarang? Apa yang harus kita terima dan hadapi -- misalnya nilai tukar mata uang, perubahan cuaca – utamanya hal-hal yang kita tidak dapat mengubahnya?

    Kuncinya adalah berpijak pada realitas hari ini dan mulai kerjakan. Menunda -- apalagi tidak mau memberi kesempatan --  untuk pengembangan potensi-potensi positif dalam diri sendiri bisa dianggap durhaka atas kemurahan yang dicurahkan Tuhan. Atau dinilai membangkang, seperti membiarkan “gerhana menutupi cahaya kalbu.” Maaf, nyuwun sewu, apakah Anda berani membangkang terhadap fitrah diri dan peluang hebat yang diberikan oleh Tuhan?

    Itu menurut perspektif spiritual. Wallahu a’lam.

     

    Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Coaching.

    • Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching
    • Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment

    Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

    (http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.