Penyesuaian Lifting Migas Wajar Saat Keadaan Tidak Jelas - Analisis - www.indonesiana.id
x

Budi Susanto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Januari 2020

Rabu, 17 Juni 2020 10:56 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Penyesuaian Lifting Migas Wajar Saat Keadaan Tidak Jelas


    Dibaca : 693 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kalau terjadi penyesuian target lifting dan realisasi investasi hulu migas tahun 2020, ya wajar saja. Bahkan semua lembaga juga bisa dimaklumi jika dalam kinerjanya tetiba melakukan penyesuaian.

    Apalagi khususnya tahun 2020 yang sedang pagebluk wabah virus Covid-19 melanda seliuruh negara di duni--pun Indonesia, yang menghantam kesehatan masyarakat dan ekonomi nasional.

    Tidak ada yang aneh dan terpaksa berpikir melantur gara-gara target lifting dan investasi migas tahun 2020 harus direvisi. Lha, contoh kasus sederhana, skripsi saja mengalami revisi alias penyesuaian dari dosen pembimbing. Bila misalnya sumber pustakanya kurang, catatan kakinya salah penulisan, ada informasi terbaru dari penelitian dan lainnya.

    Jadi situasional revisinya. Bagaimana konteks terjadi

    Apalagi migas yang menyangkut hajat kesejahteraan bangsa Indonesia, yang terkait kontribusi untuk kebaikan ekonomi nasional, yang konteksnya tidak seperti sedang mengerjakan skripsi lalu direvisi. Perlu kehati-hatian. Harus cermat dan mendalam menghitung potensi dan risikonya.

    Situasinya jelas. Pagebluk membuat keadaan jadi sulit.

    Tak semua pekerjaan terlaksana efektif seperti keadaan normal. Berarti bakal terjadi minimalisir pekerjaan. Tak semua KKKS berani ambil risiko tetap ingin melakukan eksplorasi lapangan migas ditawarkan SKK Migas di tengah ancaman pagebluk.

    Maka mempertahankan target lifting awal sebab sebelumnya semua baik-baik saja dan dianggap bakal mampu memenuhinya, lalu mendadak jadi tidak baik-baik saja karena pagebluk, adalah kewajaran.

    Kondisinya sudah tidak sama lagi. Harus realistis dengan keadaan dan pekerjaan dllakukan. Jadi, wajar saja terjadi penyesaian target minyak bumi dari 750 ribu BOPD menjadi 705 ribu BOPD. Pun demikian dengan gas alam yang 'direvisi' turun 15 persen.

    Di investasi hulu migas? Sama saja konteksnya. Lihat bagaimana kasusnya.

    Gara-gara pagebluk, rendahnya harga jual minyak bumi dan gas alam tentu membuat investor atau KKKS  bakal berpikir cermat apakah bakal mau mengerjakan lapangan migas ditawarkan?

    Jangan sampai terjadi kerugian bagi KKKS bersangkutan. Ongkos dari eksplorasi lapangan migas hingga produksi jangan sampai lebih besar ketimbang penjualan.

    Untung tidak ada, modal pun tak kembali.

    Maka wajar saja kalai terget realisasi investasi hulu migas dilakukan. Dari USD 13,8 miliar ke USD 11,8 miliar.

    Di situlah semua wajar saja mengapa target llifting dan investasi hulu migas dilakukan penyesuaian tahun 2020. Ada alasan kuat karena kondisi pagebluk.

    Yang tidak wajar itu, mencari-cari alasan tidak logis untuk menyalahkan kenapa target lifting dan investasi hulu mgas berubah.*

    Ikuti tulisan menarik Budi Susanto lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.