Selingkuh, Bermain Api Tanpa Menyebarkan Hawa Panas - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Cover novel.

Oky Nugraha Putra

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 18 Juni 2020 14:42 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Selingkuh, Bermain Api Tanpa Menyebarkan Hawa Panas

    Dibaca : 564 kali

    Judul               : Selingkuh

    Penulis             : Paulo Coelho

    Tahun Terbit    : 2014

    Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

    Ketebalan        : 320 halaman

     

                “Oh Bunda Maria yang dikandung tanpa dosa, doakan orang-orang yang berpaling kepadamu. Amin”.

     

                Linda, seorang ibu, perempuan karir, jurnalis ambisius dari Swiss. Memiliki seorang suami yang bisa dikatakan sempurna. “Dia tidak minum minuman keras atau keluar di malam hari, dan dia tidak pernah nongkrong seharian bersama teman-temannya. Keluarga adalah seluruh kehidupannya” (hal. 25). Namun kenyatannya Linda memiliki “penyakit” yang serius. Penyakit dari dalam jiwanya. Kebahagiaannya hanyalah suatu kumpulan perasaan semu yang membawanya menuju kepada suatu petualangan berbahaya bagi dirinya maupun keluarganya.

                Berawal dari tugasnya sebagai jurnalis yang harus mewawancarai seorang politikus Swiss yang juga mantan kekasih semasa SMA-nya bernama Jacob Konig. Linda menemui Jacob di kantornya. “Dia melangkah ke pintu, menguncinya, lalu kembali dan menciumku. Aku membalas ciumannya, karena sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Jacob, yang dulu mungkin pernah kucintai, sekarang sudah berkeluarga, menikah dengan seorang profesor. Dan aku juga sudah menikah, dengan laki-laki yang, meskipun mewarisi kekayaannya, amat sangat suka bekerja keras”. (hal. 37). Ironis memang. Di satu sisi, Linda terlihat sebagai seorang perempuan sempurna. Mapan, memiliki seorang suami yang sangat familiable, dua anak yang menjadi penyempurna. Namun, di sisi lain, ada kebutuhan privatnya yang seakan tidak terpenuhi oleh suaminya. “Kebutuhan privat” tersebut seakan terpenuhi oleh hadirnya sosok mantan kekasih SMA-nya, Jacob. Dosa diikuti perasaan takut dan ketahuan.

                Setelah pertemuan pertama itu Linda diminta atasannya untuk menemui Jacob lagi. Atasannya meminta Linda untuk lebih dalam menggali informasi tentang kegiatan politik Jacob. Apakah ada intervensi atas dirinya ? Apakah ada kelompok yang sengaja menyerangnya ? Apakah sedang ada intervensi politis yang dijalankan terhadapnya ? Kalau benar ada, koran Linda akan mendukung posisi Jacob. Ada desas-desus yang diterima Linda bahwa Jacob bermain api dengan seorang istri politikus lainnya. “Aku merasakan tusukan rasa sakit di sudut jiwaku, tempat depresi itu terus mengetuk namun aku menolak menyahutinya” (hal. 54).

                Pada dua titik. Pertama, Linda mengajak suaminya untuk makan di suatu restoran. Pada kesempatan itu dia berniat untuk menceritakan keluh-kesahnya kepada sang suami. Titik-titik, momen-momen yang tidak dirasakan oleh sang suami. Terkadang kita pun harus menyadari bahwa laki-laki itu kurang peka, atau perempuannya yang pandai menyembunyikan rahasia ? Berceritalah Linda pada sang suami tentang kekhawatirannya, depresinya. Tekanan batin yang dirasakannya. Sang suami menanggapi dengan menyarankan Linda pergi ke konsultan kejiwaan. Linda tidak langsung mengiyakan, namun akan mempertimbangkan hal tersebut. Kedua, di kala Linda bertemu dengan istri Jacob dalam suatu pesta. “Belum lagi lima menit kami bercakap-cakap, sudah hadir sikap permusuhan yang nyata di antara kami. Merasa malu, aku setuju untuk menyikapi pernyataannya sebagai off the record” (hal. 106-107).

                Linda mencari tahu lebih banyak tentang Madame Konig atau Marianne Konig. “Dia wanita sempurna. Dia mempunyai dua esai yang diterbitkan pada dua jurnal bergengsi Les Rescontres, yang juga menampilkan Adorno dan Piaget. Dia pasti memiliki pemahaman tentang penderitaan dan kegembiraan menjadi manusia. Makanya dia tidak begitu kaget dengan ‘hubungan seks konsensual’ yang dilakukan suaminya. Dia memiliki pandangan jauh ke depan, cukup cerdas untuk menunggu sebelum memiliki anak. Dia masih punya waktu. Dia memiliki insting luar biasa, dan tidak menganggapku sebagai ancaman. Dia jenis wanita yang ingin kuhancurkan tanpa belas kasihan” (hal. 113-115).

                “Ketika kita mencintai seseorang, kita tidak puas hanya dengan mengenal jiwa orang itu—kita juga ingin memahami tubuhnya. Apakah itu perlu ? Aku tidak tahu, tetapi instinglah yang mendorong kami. Tidak ada waktu yang pasti kapan hal itu terjadi, tidak ada peraturan yang harus diikuti. Tak ada yang mengalahkan saat-saat pengungkapan ketika rasa malu kalah dari keberanian, dan erangan-erangan pelan berubah menjadi pekikan dan umpatan. Ya, umpatan—aku memiliki kebutuhan luar biasa untuk mendengar hal-hal tabu dan ‘mesum’ ketika seorang laki-laki memasuki tubuhku. Pada saat-saat seperti ini, pertanyaan-pertanyaan lama yang sama muncul, ‘Apakah aku meremas terlalu keras ?’, ‘Apakah aku harus lebih cepat atau lebih perlahan ?’, Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin kelihatannya tidak pada tempatnya atau menjemukan, tetapi mereka adalah bagian dari tindakan inisiasi ini, pemahaman, perasaan saling menghormati. Sangat penting untuk berbicara sambil membangun keintiman yang sempurna. Kebalikannya berarti keheningan dan perasaan frustrasi yang tidak jujur” (hal. 150).

                Linda dan Jacob. Seorang Jurnalis, seorang lagi Politisi. Linda menginginkan cintanya yang hilang, Jacob berniat memburu. Linda mencari kekasih masa remajanya, Jacob menginginkan wanita pemberani dan menarik, Linda berpikir kehidupannya mengambil arah lain, Jacob berpikir saat itu suatu kegiatan selingan selain diskusi membosankan dan berlarut-larut di Dewan Negara. Bagi Jacob itu hanya pengalih perhatian yang sederhana namun berbahaya, untuk Linda itu sesuatu yang tak termaafkan dan kejam, pertunjukkan narsisme bercampur keegoisan.

                Menariknya, Coelho disini menampilkan sosok Linda sebagai seorang perempuan sempurna di mata sang suami. Tidak pernah sang suami curiga sedikitpun mengapa Linda terlambat pulang ke rumah sehabis kerja, tidak menunjukkan rasa cemburu. Linda tidak pernah menunjukkan kegugupan maupun membangkitkan kecurigaan sang suami. Linda bermain api dengan tidak menyebarkan hawa panasnya ke lingkungan sekitar.

                Meskipun bermain api, Linda juga memiliki perasaan khawatir apabila sang suami juga ternyata berselingkuh. “Bagaimana aku akan bereaksi ? Pasti bakal ekstrem. Aku akan mengatakan hidup tidak adil, bahwa aku tidak berharga, dan aku mulai tua. Aku akan menjerit dan mengamuk. Aku akan menangis tak henti karena cemburu, yang sebenarnya adalah perasaan iri—dia bisa melakukannya, sedangkan aku tidak. Aku akan pergi, membanting pintu di belakangku, dan membawa anak-anak ke rumah orang tuaku. Setelah lima bulan, aku akan menemukan cara untuk memintanya kembali ‘demi anak-anak’, tetapi saat itu sudah terlambat: dia sudah tinggal bersama kekasih gelapnya, wanita yang jauh lebih muda, cantik, dan penuh energi, yang sudah mulai membuat hidup suamiku kembali menyenangkan” (hal. 255).

                Menurut penulis, Paulo Coelho melalui novel Selingkuh ini ingin menunjukkan bahwa aktor utama perselingkuhan tidak hanya laki-laki. Asumsi yang sangat bias gender bahwa laki-laki itu tukang selingkuh dicoba dibalik dengan menampilkan sosok Linda. Seorang wanita karir, memiliki kehidupan nyaris sempurna, seorang suami yang mapan dan sangat mencintai keluarganya, anak-anak yang menyenangkan. Menarik, bukan ? Akhir dari novel ini saya serahkan kepada pembaca untuk membacanya sendiri.

     

     

    -Oky Nugraha Putra, Alumnus Program Studi Sejarah Universitas Padjadjaran


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.