Membaca PSSI dan "Nyanyian" Shin Tae-yong - Analisa - www.indonesiana.id
x

Drs. Supartono, M.Pd.

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 20 Juni 2020 11:27 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Membaca PSSI dan "Nyanyian" Shin Tae-yong

    Dibaca : 542 kali

    Tiba-tiba Shin Tae-yong menjadi berita besar bagi sepak bola nasional, namun bukan berita baik. Beritanya adalah dia berseteru dengan PSSI yang mengontraknya.

    Masalah PSSI dengan Shin Tae-yong (STY) yang hingga detik ini masih bergulir, karena STY telah membongkar fakta-fakta yang menyudutkan PSSI, masih bawa-bawa nama Ratu Tisha dan Indra Sjafri. Hingga muncul berita bahwa STY hanyalah pekerja yang harus patuh, mungkin STY akan dipecat dan disiapkan Indra Sjafri sebagai pengganti, Ini memang terus digoreng oleh media massa nasional.

    Masalah STY jadi "momentum"

    Kondisi ini memang menjadi hal negatif bagi persepak bolaan tanah air di tengah persiapan timnas menuju berbagai event, dan di tengah krisis internal dalam tubuh PSSI.

    Tentu publik sepak bola nasional, dan gerbong-gerbong yang berseberangan dengan ketua umum PSSI menjadi senang dan berharap sang ketua terpuruk.

    Sementara publik sepak bola nasional yang rindu akan prestasi sepak bola nasional, tentu situasi ini menjadi hal yang akan kembali menimbulkan rasa traumatis hingga rasa skeptis dan antipati publik atas keberadaan PSSI yang tidak pernah "duduk" di tempatnya, sesuai fungsi dan kedudukan federasi sepak bola di setiap negara.

    Karenanya, publik harus memahami, terlebih media massa, yang sekarang lebih terlihat malah sebagai sarana "adu domba". Sungguh sikap-sikap dan pemberitaan media menyoal STY malah seperti ada yang menyutradarai, dan dijadikan momentum. Atau jangan-jangan memang benar ada "pemodal" yang mengerahkan media untuk membuat suasana menjadi begini karena tidak ingin melihat PSSI bangkit atau jengah PSSI di tangan ketua sekarang, yang bisa jadi juga sudah terbaca bahwa sang ketua juga jangan-jangan duduk di PSSI sebagai batu loncatan meniru Edy Rahmayadi.

    Untuk itu, kita harus cerdas memilah-milah masalah, sebab bisa jadi semua yang "muncul" sekarang adalah lebih dari sekadar STY yang kemudian dibumbui dan sengaja diangkat ke panggung dari sebuah skenario besar yang tidak dipahami publik.

    Semisal bila saya analisis, mengapa sikap STY menjadi menyerang PSSI melalui media Korea Selatan. Pasti, memang sebelumnya ada masalah yang terpendam dan belum terselesaikan. Bila, PSSI benar ada membentuk tim satgas, maka hal ini yang harusnya diklarifikasi dan dituntaskan.

    Lalu, target timnas U-20 yang harus masuk fase empat besar misalnya. Dan, persoalan sensitif yang tidak selesai sebelumnya, karena Indra yang awalnya asisten, dan dianggap STY indisipliner, malah naik jabatan menjadi Dirtek PSSI. Itu juga hal yang wajib diluruskan.

    Bisa jadi juga, ada skenario dari pihak dan gerbong mantan Sekjen yang tentunya juga masih belum "paripurna" atas persoalan yang membuatnya mundur.

    Jadi, mustahil bila hanya karena pemicu pindah tempat latihan dan corona STY jadi "bernyanyi-nya" di media Korea Selatan.

    Apa yang dinyanyikan oleh STY, di Korea Selatan tentang PSSI dan sepak bola Indonesia, tentu akan menjadi nilai negatif Indonesia di mata FIFA dan dunia, terlebih akan menjadi tuan rumah Piala Dunia.

    Bila pada akhirnya PSSI memecat STY, PSSI juga pasti akan kembali menciptakan "blunder" sendiri.

    Corona, internal dan PR

    Saya mengatakan, beruntung ada pandemi corona, sehingga sepak bola nasional yang selama ini memang tidak dikelola dengan benar oleh PSSI dan turunannya, menjadi benderang permasalahannya ketika Ketua Umum dijabat M. Iriawan alias Iwan Bule (Ibul).

    Di tangan Ibul, saya melihat ada upaya mewujudkan mimpi sepak bola nasional berprestasi. Sehingga, federasi yang dia pimpin pun coba dijalankan sesuai visi-misi dan tujuan demi tergapainya mimpi prestasi itu.

    Memang, dengan waktu yang terbatas, sementara sepak bola nasional sudah tertinggal selama 90 tahun, maka pekerjaan mengusung mimpi itu menjadi hal yang bisa jadi mustahil, sebab begitu banyak pekerjaan rumah (PR) PSSI yang secara internal organisasi wajib di perbaiki, meski dalam upaya perbaikan itu, siapa pun ketua umumnya, pasti akan terbelenggu oleh Statuta yang setiap saat dapat menjerat dan "menggulingkannya".

    Meski demikian, tidak ada organisasi sepak bola di dunia ini yang akan dapat memujudkan mimpi prestasi sepak bola bagi publik dan negaranya, bila di dalam organisasi itu sendiri penuh dengan sengkarut.

    Kemudian, organisasi tersebut juga tak memiliki meja lengkap yang dapat menggaransi lahirnya prestasi. Sebab, prestasi sepak bola di negara mana pun, tidak ada yang tanpa proses, tidak ada yang instan.

    Permasalahan yang ada di PSSI sekarang, di tangan nakoda Ibul, secara internal, terbaca oleh publik bahwa PSSI belum lengkap memiliki semua meja yang dibutuhkan untuk mengantar menuju prestasi. Sebab, berbicara prestasi, maka PSSI tidak boleh hanya memiliki meja-meja secara parsial dan meja-meja yang diharapkan jadi kran uang saja, tetapi harus secara kolektif memiliki meja-meja yang dapat membangun tim nasional dari pondasi (akar rumput) melalui pembinaan, pelatihan, dan kompetisi yang berjenjang dan berkesinambungan.

    Saya dapat mengatakan bahwa sampai saat ini, Ibul belum tergerak berpikir ke arah meja-meja menyeluruh yang dapat membangkitkan PSSI bangun dari tidur.

    Bagaimana mau bangkit dan berprestasi, bila selama ini PSSI hanya sibuk mengurus kompetisi sepak bola dewasa yang di dalamnya ada uangnya, namun para pemain dewasa ini pun gagap ketika bergabung dengan timnas dan selalu memberikan prestasi buruk bagi sepak bola nasional.

    Bila benar-benar mau berbenah, mau bersih-bersih, maka secara organisasi, federasi PSSI harus benar-benar diisi meja yang lengkap namun simpel dan efektif.

    Tetapi, saya tetap pesimis, mau dibikin seperti apa organisasi dan internal PSSI, bila di dalamnya hanya sebagai tempat "berpolitik" dan kendaraan "politik", serta ruang bagi kepentingan dan kepentingan yang dibentengi oleh Statuta bikinan "mereka" juga, mustahil sepak bola nasional akan "bergerak".

    Kendati kini timnas U-16 dan U-19 lolos ke babak final Piala Asia, kemungkinan dua timnas muda ini akan menjadi ajang bulan-bulanan lawan. Kecuali timnas U-19 yang digadang-gadang menjadi cikal bakal timnas U-20 Indonesia di Piala Dunia. Bila tim ini digarap oleh pelatih yang tepat, maka minimal dapat mengimbangi lawan dan nantinya publik sepak bola nasional hanya menjadi penonton laga timnas negara lain.

    Bahkan terburuknya, Piala Dunia U-20 di Indonesia akan menjadi turnamen yang sepi penonton, karena publik sepak bola nasional enggan ke stadion karena timnas Garuda sudah kandas lebih awal.

    Sementara, melihat stok pemain yang ada, dengan kompetisi yang terkendala, maka meski masih menyisakan tiga laga di Kualifikasi Piala Dunia, timnas senior juga akan menjadi lumbung gol bagi lawan.

    Lalu, apa sejatinya tujuan kompetisi Liga 1 dan turunannya di Indonesia? Yang alan kembali digelar? Karena sulit nyambung dengan kebutuhan PSSI, pelatih klub Liga 1 pun didominasi orang asing yang tidak mengakar dengan sepak bola nasional.

    Di sepak bola akar rumput anak-anak di bina dan dilatih apa, begitu masuk klub latihannya juga apa?

    Memang begitu berat PR PSSI. Ibarat tubuh manusia, maka tidak akan ada bagian tubuh yang dapat bergerak bila otak tidak memimpin dan memberikan arahan dan petunjuk serta perintah.

    Namun, PSSI di NKRI, bagian tubuh saja dapat menggerakkan bagian tubuh yang lain, dapat memimpin, mengarahkan, dan memerintahkan. Tahu di mana benang kusutnya? Publik pasti tahu dan paham. Itulah mengapa PSSI terpuruk sepanjang 90 tahun.

    Bagaimana akhir kisah STY? Bagaimana kelanjutan Sekjen dll? Bagaimana kompetisi? Bagaimana timnas-timnas? Bagaimana Piala Dunia? Bagaimana meja-meja di PSSI? Bagaimana PT LIB? Dan, bagaimana-bagaimana lainnya? Kita tunggu...

     

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.