Shin Tae-yong dengan Indra Sjafri; Ada Apa? - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Shin Tae-yong

Yopi Ilhamsyah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 19 Juli 2019

Jumat, 26 Juni 2020 12:54 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Shin Tae-yong dengan Indra Sjafri; Ada Apa?

    Dibaca : 437 kali

    Kala Indra Sjafri mengklarifikasi tuduhan indisipliner dari Shin Tae-yong dengan menyebut bahwa beliau (Indra Sjafri) segera pulang dari Bandara Udara Soekarno-Hatta karena harus bergegas memenuhi undangan resepsi pernikahan putri Rahmad Darmawan, saya jadi teringat momen melihat beliau di acara tersebut. 

    Malam minggu tanggal 1 Februari, saya diajak oleh paman (Tias Tano Taufik) yang juga mantan pemain tim nasional (timnas) kala meraih medali emas SEA Games 1987 untuk menghadiri resepsi putri RD, sapaan akrab Rahmad Darmawan. Resepsi berlangsung di sebuah Gedung di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan. Kala itu RD telah melatih Madura United yang akan segera memulai kompetisi Shopee Liga 1 2020 pada akhir Februari.

    Di tengah acara sekitar jam 19.30 WIB, saya melihat coach Indra masuk ke auditorium dan dihampiri oleh para kolega sepakbola. Sempat ingin berswafoto, namun niat itu saya urungkan kala mendapati beliau yang terus dikelilingi oleh tamu. Melihat kehadiran beliau, saya berpikir Timnas U-19 telah kembali selepas berlatih di Thailand. “Cepat juga pesawat tiba dari Thailand”, pikir saya sembari bertanya kepada diri sendiri kala itu.

    Ternyata perlahan-lahan saya mendapatkan jawabannya kala coach Shin mulai mengeluh terhadap coach Indra. Tercatat (menurut hemat saya), ada dua keluhan coach Shin yang mengarah ke Indra. Pertama, selepas timnas senior dibantai Persita Tangerang dengan skor 1-4. Di Stadion Madya Senayan, Shin mengeluh kepada media bahwa para pemain timnas senior yang bergabung dalam training center (TC) bukan pemain pilihannya melainkan pilihan pelatih lokal. Siapa yang dimaksud? Coach Indra? Pernyataan Shin itu masih abu-abu kendati telah diklarifikasi oleh Indra. Jawabannya hanya Coach Shin yang tahu.

    Keluhan kedua langsung menohok. Baru-baru ini, Shin dalam wawancara dengan media Korea menyebut ada pelatih lokal yang telah bertindak indisipliner tapi malah diangkat menjadi Direktur Teknik. Jabatan ini bertujuan mengawasi kinerja pelatih sekaligus manajer timnas, yaitu coach Shin dan kolega. Sontak Shin menjadi tidak nyaman, bagaimana mungkin orang yang telah dia keluarkan dari staf pelatih kemudian malah menjadi pejabat yang mengevaluasi performanya. Siapa orangnya? Kali ini tepat di sasaran yaitu coach Indra.

    Sebenarnya ada apa ya di antara mereka? Saya mencoba menyelisiknya. Coach Indra telah malang melintang di timnas sejak masih menjadi talent scouting. Di timnas, beliau telah menjadi pelatih di hampir semua level usia kecuali senior. Sebelum dilantik sebagai salah satu staf pelatih coach Shin, beliau baru saja membawa timnas U-23 menjadi runner-up SEA Games 2019 di Filipina. Permainan timnas dari babak penyisihan hingga final cukup memikat kendati kalah dari Vietnam di laga pamungkas perebutan medali emas.

    Selepas turnamen, beliau sempat mengutarakan keinginannya menjadi pelatih kepala timnas senior. Saya pikir wajar mengingat prestasi beliau di kelompok umur junior dengan permainan apik bola-bola pendek dari kaki ke kaki yang menjadi ciri khas Garuda Muda besutan beliau.

    Kala beliau ditunjuk sebagai asisten coach Shin, saya langsung berpikir ini kombinasi yang tepat menuju timnas berprestasi. Coach Indra telah mengenal karakter pemain Indonesia, Coach Shin tinggal meramunya. Boleh jadi dari sinilah pangkal masalahnya. Merasa telah mengenal karakter pemain dan sepakbola Indonesia, boleh jadi ada masukan dari Indra yang kurang diterima oleh Shin. Hal ini terlihat saat Shin berkilah bahwa pemain timnas yang direkrut mengikuti TC merupakan pilihan pelatih lokal.

    Karena pernah meraih juara kala menangani Timnas U-19 dibarengi permainan apik dan sempat pula juara AFF U-22 di Kamboja, ego Indra naik ketika mendapati masukan dan argumennya ditolak. Saya pikir lumrah, seorang yang tadinya pemimpin di mana suaranya selalu didengar oleh para bawahannya, kini malah dimentahkan. Kala mendapati pemberitaan bahwa Indra tidak lagi berada di timnas kala timnas senior memulai TC medio Februari, dugaan saya benar bahwa tidak boleh ada dua ayam jago dalam satu kandang, nanti bisa ribut dan ini yang terjadi.

    Kembali ke klarifikasi coach Indra tentang kejadian di bandara. Bagi saya sedikit aneh saat Indra mengatakan beliau telah mencoba menunggu coach Shin yang sedang mengurus imigrasi. Karena tidak kunjung keluar, beliau meninggalkan pesan ke staf timnas dan bergegas meninggalkan bandara menuju resepsi di Cilandak. Nah, ini staf yang mana? Apakah pesannya beliau harus pergi ke kondangan diteruskan ke Shin?

    Saya berpikir kenapa tidak disampaikan perihal undangan resepsi malam itu kala pesawat telah mendarat dan rombongan sedang berjalan menuju ruang kedatangan. Banyak momen staf pelatih berkumpul bersama. Saya berpikir Shin pasti mengerti, yang terpenting coach Shin telah diberitahukan. Karena pergi tanpa kabar ini yang dipermasalahkan hingga muncul istilah indisipliner. Lagipula dengan rentetan hasil minor di Thailand, coach Indra harusnya fokus dengan pekerjaannya.

    Tapi mengapa Shin bisa sangat marah mendapati Indra tidak ada ketika ia keluar dari imigrasi? Saya dapat memahami kalau diklaim indisipliner. Namun, saya berasumsi, sepertinya sudah ada masalah sejak dari Thailand. Mungkin ada argumen dari Indra terkait timnas usia remaja di mana beliau sangat memahaminya atau tindakan beliau yang mendahului sehingga kurang berkenan dan menyinggung Shin, bagaimana?

    Selanjutnya disampaikan Indra bahwa dalam rapat pada Senin tanggal 3 Februari beliau diusir keluar. Beliau baru bercerita setelah sebelumnya kerap mengabaikan keluhan Shin. Untuk ini, saya menaruh respek kepada Indra, beliau tetap berpandangan positif dan mendukung penuh Shin demi kemajuan timnas. Kalau saya mengalami apa yang dialami Indra, telah dipermalukan di hadapan para staf timnas, mungkin lebih baik saya mundur sekalian dari PSSI dan memilih berkarir di klub.

    Terlepas dari kontroversi tersebut, ada baiknya kedua pihak menahan diri untuk tidak memperkeruh suasana. Boleh jadi kisruh dua tokoh ini ekses dari coach Shin yang tidak memperoleh izin dari PSSI guna membawa timnas berlatih di Korea. Argumentasi Shin logis, selain Covid-19 yang telah mereda di Korea, timnas dapat berlatih tanding dengan lawan sepadan. PSSI jangan gegabah. Ambil sisi positifnya saja.

    Dalam pemberitaan terakhir coach Shin mengatakan tidak masalah berlatih di mana saja. Untuk ini biarkan Shin bekerja dan menerapkan filosofi permainannya. Saya yakin dengan kedisiplinan tinggi, mental bertanding timnas akan baik dan prestasi akan diraih. Pernyataan Coach Shin seperti dilansir dari media-media nasional “Saya tak ingin mengecewakan rakyat Indonesia di Piala Dunia U-20, kita bisa membuat momen bahagia bersama”, tentu menyejukkan. Semoga dapat terwujud. Ayo terbang Garuda.

    Yopi Ilhamsyah, Pemerhati Sepakbola Nasional


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.