Bertahan dengan Separuh Ekonomi - Pilihan - www.indonesiana.id
x

uang koin

Boldan Angga

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Mei 2020

Senin, 29 Juni 2020 15:13 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Bertahan dengan Separuh Ekonomi

    Selama masa pandemi, Indonesia bergerak dan bertahan dengan separuh dari kemampuan ekonomi yang dimiliki. Kebijakan pemerintah membatasi aktivitas masyarakat secara sosial maupun ekonomi secara langsung mempengaruhi sektor-sektor ekonomi. Saat ini, bertahan dengan pertumbuhan positif meski dengan persentase yang kecil adalah preferensi yang tepat dibandingkan ngebet mengejar pertumbuhan yang tinggi.

    Dibaca : 487 kali

    Oleh: Boy Angga
    Mahasiswa Ekonomi Pembangunan Undana

    Kebijakan pemerintah untuk kembali membuka akses ke ruang publik menjadi asa bagi kembali berdenyutnya jantung perekonomian nasional. Pemerintah dengan desain kebijakan yang dikemas dengan konsep normal baru (new normal) menjadi momentum bagi kembali membaiknya performa ekonomi.

    Tatanan kelaziman baru ini dalam kacamata ekonomi adalah sebentuk upaya untuk kembali menggiatkan pasar, dimana permintaan dan penawaran kembali berinteraksi secara mutualis. Skema kebijakan normal baru secara langsung memberikan akses bagi tataran individual pelaku ekonomi (mikro ekonomi).

    Geliat ekonomi mikro menjadi faktor determinan bagi performa makro ekonomi. Memburuk atau membaiknya kinerja makro ekonomi merupakan cerminan dari kondisi mikro ekonomi. Skema normal baru yang diberlakukan sekarang ini pada sebagian besar wilayah di Indonesia adalah jalan bagi kembali merekatnya kohesivitas mikro dan makro ekonomi.

    Pertumbuhan ekonomi positif di kuartal I tahun 2020 merupakan angin segar bagi Indonesia. Ekonomi Indonesia yang tumbuh di level 2,97 persen merupakan suatu gejala yang baik disaat semua aktivitas sosial dan ekonomi mengalami pembatasan sebagai upaya preventif terhadap penyebaran virus.

    Persentase pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan I masih lebih baik apabila disandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara. Beberapa negara di Asia Tenggara mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dari Indonesia. Misalnya Malaysia yang realisasi pertumbuhan ekonomi di triwulan I hanya 0, 7 persen, ekonomi Filipina yang tumbuh negatif di level 1,8 persen, Singapura dengan pertumbuhan negatif 2,2 persen. Di kawasan Asia Tenggara, hanya Vietnam yang dapat mengungguli Indonesia dengan nilai pertumbuhan ekonomi sebesar 3,8 persen di kuartal I 2020.

    Kondisi yang serupa terjadi di negara-negara besar dunia. Pertumbuhan ekonomi Cina pada triwulan I 2020 minus 6,8 persen, Amerika Serikat turun menjadi 0,3 persen, Korea Selatan 1,3 persen, dan Uni Eropa minus 2,7 persen (Tempo.co,5/05/2020).

    Realisasi pertumbuhan ekonomi saat ini di masing-masing negara temasuk Indonesia bila dibandingkan dengan periode sebelumnya, secara umum menunjukkan perlambatan bahkan cenderung mengarah menuju resesi ekonomi. Resesi ekonomi inilah yang menjadi ketakutan setiap negara. Dalam konteks perekonomian terbuka seperti sekarang ini, resesi ekonomi di satu negara akan berdampak pada negara lain.

    Kondisi akan semakin parah apabila negara yang mengalami resesi adalah negara maju. Dapat dipastikan bahwa negara lain yang menjadi mitra dagangnya akan terkena imbas atas resesi ekonomi yang dialami negara tersebut. Pada perekonomian terbuka, resesi memiliki contagion effect terhadap perekonomian negara lain. Terintegrasinya suatu negara pada perekonomian global secara otomatis mengharuskannya siap untuk menerima risiko-risiko eksternal.

    Itu pula yang dialami oleh Indonesia saat ini. Melambatnya ekonomi di negara-negara mitra dagang Indonesia akibat pandemi Covid-19 seperti China dan Amerika Serikat mengakibatkan menurunnya ekspor Indonesia. Ekspor yang terus menurun pada tataran mikro dirasakan oleh industri-industri dengan orientasi ekspor.

    Pada tataran makro, menurunnya ekspor akan menurunkan pendapatan negara. Di samping itu, menurunnya ekspor berdampak linier terhadap cadangan devisa negara. Kantong devisa yang jarang diisi akan berpengaruh terhadap nilai tukar, pembayaran bunga utang, dan sulitnya melakukan intervensi di pasar keuangan apabila nilai tukar mengalami penurunan.

    Selain itu rantai pasokan (supply chain) bahan baku impor bagi industri dalam negeri terhambat. Industri dalam negeri yang sangat bergantung pada bahan baku impor mutlak tidak dapat beroperasi.

    Separuh Ekonomi

    Selama masa pandemi, Indonesia bergerak dan bertahan dengan separuh dari kemampuan ekonomi yang dimiliki. Kebijakan pemerintah membatasi aktivitas masyarakat secara sosial maupun ekonomi secara langsung mempengaruhi sektor-sektor ekonomi.

    Interaksi antara sektor permintaan dan penawaran pun dilakukan dalam skala yang terbatas. Industri-industri baik skala besar maupun UMKM tidak dapat menjalankan fungsi operasionalnya secara leluasa. Dampaknya adalah “kesehatan” perusahaan dan UMKM semakin menurun, sehingga terdapat banyak industri yang memutus kontrak kerja para karyawannya.

    Sebagai akibatnya, sisi permintaan mengalami kontraksi. Hal ini menjadikan semakin banyak orang dengan daya beli yang rendah. Alhasil, kinerja makro ekonomi Indonesia menukik tajam dibandingkan masa sebelum pandemi. Namun, kita patut bersyukur karena masih menikmati pertumbuhan positif di kuartal I 2020.

    Terminologi separuh ekonomi saat ini dari sudut pandang perekonomian nasional merujuk kepada dua kondisi. Pertama, separuh ekonomi dapat dilihat sebagai akibat dari terbatasnya aktivitas ekonomi di Pulau Jawa. Pulau Jawa sebagai penggerak utama ekonomi Indonesia bergerak dengan separuh kemampuannya.

    Keberadaanya sebagai pusat ekonomi digoncang oleh statusnya sebagai pusat penyebaran virus. Sebagai penggerak utama perekonomian nasional, instabilitas ekonomi di wilayah Jawa sangat berdampak terhadap perekonomian nasional.

    Kedua, separuh ekonomi dapat dipandang sebagai kemampuan ekonomi yang dimiliki oleh wilayah-wilayah diluar Jawa. Secara kumulatif, wilayah-wilayah di luar Pulau Jawa memiliki kontribusi sebesar separuh dari pertumbuhan ekonomi nasional. Ketika Pulau Jawa dan wilayah-wilayah diluar Jawa masing-masing bergerak dengan separuh kemampuannya, niscaya Indonesia masih dapat menikmati pertumbuhan positif meski dengan persentase yang kecil.

    Bertahan dengan separuh ekonomi adalah alternatif yang paling tepat untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi positif. Saat ini, DKI Jakarta mendesain skema PSBB Transisi sekaligus mempersiapkan kembali geliat bisnis di Ibukota. Hingga akhir Juni, DKI akan membuka seluruh kegiatan ekonomi hingga paling pol 50 persen kapasitas (Wahayana, dalam Kontan.co.id,5/06/2020).

    Beberapa daerah lain di wilayah Jawa juga mulai memberlakukan normal baru. Kembali bergeliatnya aktivitas sosial dan ekonomi di Pulau Jawa menjaga asa bagi meningkatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selain itu, wilayah-wilayah di luar Jawa yang mulai memberlakukan normal baru dapat menjadi penyokong bagi perekonomian nasional. Kembali hidupnya aktivitas ekonomi di Pulau Jawa serta disokong oleh wilayah-wilayah di luar Pulau Jawa secara kolektif mendorong ekonomi Indonesia menjauh dari resesi dan dapat menjaga asa pertumbuhan yang positif. Penguatan ekonomi domestik sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik terutama investor.

    Kebijakan melonggarkan penguncian wilayah (lockdown) juga dilakukan oleh beberapa negara mitra dagang Indonesia seperti China, Korea Selatan, India dan beberapa negara Eropa. Ini menjadi kabar baik terutama untuk mendukung aktivitas perdagangan Indonesia. Aliran ekspor dan impor, terutama impor bahan baku dapat kembali menggeliat sehingga pertumbuhan positif dapat dinikmati.

    Saat ini, bertahan dengan pertumbuhan positif meski dengan persentase yang kecil adalah preferensi yang tepat dibandingkan ngebet mengejar pertumbuhan yang tinggi. Pertumbuhan ekonomi dengan persentase yang kecil adalah pilihan yang realistis di masa pandemi. Normal baru menjadi momentum untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi positif meski dengan nilai yang kecil.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.