Logika Metafisik dan Akal Matematis - Analisa - www.indonesiana.id
x

Syaiful M.Magahtsri

Bunk Ham94 Bunk Ham94

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 Juni 2020

Selasa, 30 Juni 2020 11:32 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Logika Metafisik dan Akal Matematis

    Dibaca : 566 kali

    Manusia tidak menyadari bahwa dibalik nalar mengandung konflik yang di bawah dimensi lain. Setiap rangsangan, hasrat, dan dorongan untuk memicu perselisihan dan pertentangan “hidup dalam peran akal”. Sadar atau tidak, kendati demikian tetap terjadi. Kenapa? Karena, soal Tuhan dan agama bagi kita tidak pernah selesai dalam urusan manusia.

    Sementara soal sains, alam, dan filsafat mengalami kemajuan terhadap intuisi penalaran manusia. Rumus agama, dan akal kalau kita definisikan sebagai matematik, maka standar kebenaran bersifat statis, tetapi kalau diujikan dengan logika metafisik, extensi kemutlakan kebenaran melampui batas.

    Tidak ada tolak ukur yang bisa memastikan berapa standar iman, keyakinan, dan mutualitas kecerdasan dan kejeniusan pikiran manusia. Semuanya ada, namun yang memicu atas kebodohan, dan kecerdasan manusia adalah volume akal yang mematikan hasrat, dan perasaan.

    Socrates, seorang filsuf Yunani kuno, meminum racun bukan karena kebodohan yang membasmi kecerdasan atas kekolotan akal, dan logika matematis, tetapi kelumpuhan hasrat, dan energi yang menghidupkan jiwa.

    Socrates, jenuis melihat racun itu bisa membunuh, dan mematikan sel-sel yang hidup dalam organ tubuh manusia. Namun, kenapa dasar penalaran akal dan kesakralan manusia itu, begitu kejam membasminya?

    Salah satu keputusan akhir bagi dia adalah kesatuan entitas akal, dan kerohanian atas kelumpuhan logika. Manusia cerdas, jenius, logis dan rasionalis itu adalah simbiosis akal yang memecahkan soal matetatis, berbeda dengan manusia metafisik.

    Sebab, tidak ada yang bisa melihat Tuhan, dan kedalaman perasaan, hati dan cinta seorang manusia. Meskipun Rabiatul Al-adawiyah yang begitu cinta, dan peka pada jiwa, akal, dan kedalaman hatinya, namun tetap tidak akan mampu menebus ke dalam penampakan wajah Tuhan. Seperti yang ia potrekan dalam puisinya.

    “Tuhan bila aku cinta berharap,karena ingin akan surgamu maka tutupkanlah pintu itu, dan bila aku cinta karena takut akan neraka mu, maka bakarlah aku dengan api nerakamu, namun bila aku cinta karena tulus akan kesucianmu, maka bukalah tirai wajahmu hingga aku bisa menatapinya”.

    Logika itu yang kemudian hidup dalam entitas metafisik. Sesuatu yang abstrak bisa dilihat, dirasa, dan dimaknai, bila perasaan, cinta, dan kemurnian jiwa dihidupkan oleh logika.

    Abu Hamid Muhammad al-Gazhali sebelum berangkat ke Baghdad, ia menulis Tahafut Al-Falasifah (kerancuan filsafat-1095), sebuah karya yang mengkaji tentang soal hubungan agama Islam dan filsafat. Ia menganalisis bahwa kendati akal tidak pernah membangun premis sendiri, sebab akal hidup dan berada di bawah pengetahuan intuitif (Gnosis).

    Meskipun Corbin (1964: 254) berargumen, untuk memahami dan memaknai dari segala sesuatu itu, terlepas dari kacamata indrawi harus berdasarkan objek material. Namun kejernihan pikiran dan kemurnian jiwa manusia merangsang bentuk-bentuk yang dapat dimengerti langsung dari intuitif metafisik (Agama dan tuhan).

    Hal demikian ini, yang membuat logika metafisik dan akal matematis, bagi Rabiatul Al-Adawiyah hidup dalam kegelisahan yang tinggi dan kedalaman cinta yang utuh. Karena bagi dia, dunia hanyalah kediaman yang meruntuhkan sesaat, sementara akhirat adalah keabdian yang hakiki.

    Al-Ghazali tetap bersikukuh untuk memadukan soal tindakan dan pengetahuan, karena bagi dia untuk memahami salah dan benar serta dekat dan jauh antara surga, neraka, ilmu, Tuhan, dan agama harus berdasarkan akal yang rasio, dan kebatinan jiwa yang suci.

    Melalui tindakan bahwa pengetahuan, dan etika akan sampai pada hirarki kebenaran. Karena bagi Hamka kebajikan moral, ketinggian ilmu, dan kecerdasan intelektual adalah kebaikan tertinggi. Manusia tidak sadar, peran akal, wahyu, dan logika sains itu energi yang menghidupkan yang mati.Tujuh ribu tahun yang lalu, sejarah memberikan bukti bahwa Yesus Kristus atau Isya Al-Masih bisa menghidupkan orang yang mati, menyembuhkan orang yang sakit, buta, tuli atau yang lainya.

    Kalaudi analisa, dan digambarkan secara rasional peristiwa spetakuler itu. Tentu, sesuatu hal tidak akan diterima oleh akal dan logika sains. Sebab kalau dibuktikan secara empiris, kebenaran logika metafisik bersifat lemah, karena hadirnya wahyu-atas muhzizat yang diberikan Tuhan, maka wanita perawan tanpa suamipun bisa punya anak.

    Mungkin manusia akan bertanya, kenapa hal di luar kemampuan manusia lain memungkinkan bisa terjadi?

    Karena potensi nalar dan intusi alam bawah sadar kita dialiri, dan dihidupi oleh logika sains dan akal metafisik. Fragmen freud menulis buku tentang Consciousness and Unsciousness, berasumsi bahwa manusia pada hakikatnya dikendalikan oleh alam bawah sadarnya.

    Yang membuat pikiran dan intuitif aktif adalah simbiosis akal dengan logika metafisik (wahyu). Maurice Bucaille, seorang Dr asal Prancis dalam bukunya Le Bible La quran at La Sains (2010) yang menganalisis tentang bibel, quran, dan sains modern berargumen sangat mustahil bagi Muhammad yang hidup pada abad 15 tahun yang lalu, mampu menulis dengan baik tentang keajaiban dan peristiwa Firaun dan Musa di abad 7 M.

    Karena kalau itu bukan atas wahyu dan ijin Tuhan atas pengaruh dan kesatuan intuisi yang hidup dibawah alam sadar. Sungguh tidak rasional logika metafisik mampu dikonsumsi dengan baik oleh Muhammad.

    Hal demikian itu, kalau diuji dengan sains modern, maka keilmiahan Al-Qur'an dan pengetahuan bisa memperbaiki wahyu dan kitab-kitab sebelumnya.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.