Petualangan di Goa Pindul - Travel - www.indonesiana.id
x

Lokasi pemberangkatan (start) dalam petualangan susur goa pindul

Raiders Marpaung

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Juni 2020

Kamis, 2 Juli 2020 10:40 WIB
  • Travel
  • Berita Utama
  • Petualangan di Goa Pindul

    Dibaca : 1.076 kali

    Daerah Istimewa Jogjakarta adalah salah satu daerah tujuan wisata di Indonesia yang begitu banyak memiliki objek wisata. Objek wisata yang ada di Jogjakarta dan sekitarnya antara lain wisata peninggalan sejarah, wisata budaya dan wisata alam.

    Salah satu objek wisata alam yang menjadi andalan adalah Cave Tubing Goa Pindul atau disebut juga Susur Goa Pindul. Goa Pindul adalah objek wisata alam berupa goa kuno yang terletak di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Jogjakarta.

    Kegiatan ini dikenal dengan istilah cave tubing yang merupakan aktifitas air dan beresiko basah-basahan sehingga para pengunjung diingatkan untuk tidak lupa membawa pakaian ganti.

    Kegiatan operasional berlangsung setiap hari dari Senin sampai Minggu dari pukul 07.00 s/d 17.00 dengan fasilitas pendukung tempat makan, musholla, toilet, dan penjualan souvenir dengan harga tiket Rp.45 ribu. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang menyenangkan untuk mengisi liburan bersama keluarga atau rekan-rekan kerja yang punya hobi petualangan.

    Goa Pindul awalnya hanyalah sebuah goa yang tak terawat dan menjadi sarang kelelawar. Kemudian, warga bekerjasama dengan sejumlah mahasiswa yang melaksanakan pengabdian masyarakat desa Beji untuk membersihkan kawasan tersebut.

    Karena keunikannya, goa dengan panjangya sekitar 300 m yang terbagi menjadi tiga area (terang, remang-remang dan gelap gulita) ini kemudian dijadikan dan dikembangkan menjadi objek wisata alam. Pada tahun 2010 yang lalu, pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, meresmikan goa ini dengan nama Goa Pindul. Dari situlah kemudian objek wisata Goa Pindul menjadi terkenal.     

    Goa Pindul dikenal karena cara menyusuri goa yang dilakukan dengan menaiki ban pelampung di atas aliran sungai bawah tanah yang tenang di dalam goa sambil menikmati keindahan stalagmit (merupakan batuan lancip yang biasanya terbentuk berlapis-lapis di lantai goa dengan bagian ujung yang mengarah ke atas) dan stalaktit (batuan yang runcing dan berlubang-lubang lancip dengan ujungnya mengarah ke bawah, khas goa.

    Sebagian stalaktit dan stalagmit yang ada bahkan masih aktif, artinya ukurannya masih bertambah panjang. Salah satu stalaktit yang ada di Goa Pindul diberi nama goong, karena apabila dipukul, mengeluarkan suara yang mirip suara goong. Para pengunjung diingatkan pula untuk membawa senter, agar tidak terbentur stalagmit, stalaktit, dan dinding goa. 

    Kepopuleran Goa Pindul didukung oleh kemudahan akses dan kisah yang menyelimutinya. Sejarah Goa Pindul berawal dari perjalanan Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Pemanahan yang merupakan utusan Panembahan Senopati dari Kerajaan Mataram untuk mencari seorang bayi. Ketika bayi tersebut ditemukan keduanya membawa bayi tersebut ke arah timur, yaitu wilayah Gunung Kidul yaitu di daerah Karangmojo.

    Suatu saat bayi tersebut menangis, kedua utusan itupun lalu memandikan sang bayi. Ki Juru Mentari mencoba naik ke bukit, ia kemudian menginjak tanah bukit tersebut. Dengan kesaktiannya tanah itupun menganga dan runtuh sehingga membentuk lubang yang terdapat aliran air didalamnya. Setelah itu sang bayi pun dibawa turun dan akan dimandikan. Saat itulah pipi bayi itu terbentur (kebendhul) batu yang terdapat di goa. Dari kejadian itulah kemudian berkembang nama Goa Pindul dari pipi yang terbentur (kebendhul).


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.








    Oleh: Supartono JW

    Senin, 27 Juli 2020 18:56 WIB

    Kisah Perjalanan (4) 27 Juli, Sehari di La Vallee dan Disneyland-Paris

    Dibaca : 449 kali

    Hari ini, Rabu, 27 Juli 2011 setelah sarapan pagi, sesuai agenda kami akan bertandang ke La Valee Outlet Shooping Village dan lanjut ke Paris-Disneyland. Sebenarnya, masih ingin badan ini rebahan di kamar hotel, namun apa boleh buat, saya harus mengikuti agenda perjalanan wisata yang memang sudah sangat tertata. Jadi, tidak boleh ada waktu yang meleset dari jadwal yang telah ditentukan. Kemarin, setengah hari ada di Brussel-Belgia, dan setengah harinya lagi berada di bus baik dari Amsterdam menuju Brussel, maupun Brussel menuju Paris, memang tidak begitu banyak menguras tenaga, karena semua perjalanan di tempuh pada siang hari. Nyamannya bus yang membawa kami dan pemandangan indah antara Brussel-Paris, menjadikan kami tak merasakan bahwa kami harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam 40 menit. Bahkan, saat bus harus rehat di rest area pun, kami sebenarnya ingin bus tak perlu berhenti, karena semangatnya kami. Malah saat bus masuk ke Paris, kami pun tak menyadari bahwa kini kami sudah ada di negera Prancis. Bila di sebelumnya kami sudah bercengkerama di Istanbul-Turki selama sehari. Lalu, di Sofia, Veliko Tarnovo, dan Razgrad-Bulgaria selama delapan hari. Berikutnya, singgah di Koln, Duseldorf-Jerman sekitar tiga jam, dan di Volendam, Amsterdam-Belanda selama dua malam satu hari. Kemudian, di Brussel-Belgia setengah hari, maka di Paris-Prancis ini, kami menginap selama empat malam dan bercengkerama selama tiga hari penuh.