Saya Narsistik atau Tidak, Bisa Dijawab oleh Diri-Sendiri, dan Kasat Mata Dilihat Orang Lain - Analisa - www.indonesiana.id
x

Narsistik

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 5 Juli 2020 11:38 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Saya Narsistik atau Tidak, Bisa Dijawab oleh Diri-Sendiri, dan Kasat Mata Dilihat Orang Lain

    Dibaca : 555 kali


    Khususnya di tayangan televisi dan umumnya di media massa serta media sosial yang kini merebak melebihi jamur, kita semakin banyak menjumpai orang-orang yang terlalu percaya diri, sulit menerima pendapat orang lain, bahkan cenderung meremehkan dalam berbagai persoalan aktual di +62.

    Apakah orang-orang yang demikian tergolong manusia yang normal? Atau sebenarnya mereka sudah terjangkit gangguan mental yang mengarah kepada gangguan kepribadian narsistik. Sebab bila tampil di layar kaca, atau di dalam pemberitaan, atau dalam media sosial, sangat kentara dalam hal narsis, egois, dan membanggakan diri sendiri.

    Perilaku orang-orang ini, justru sudah semakin dikenal oleh masyarakat. Ada yang dari kalangan elite partai, kalangan pemerintahan, kalangan parlemen, para artis dan seleberitis, dan publik figur. Karuan saja, sikap percaya diri, narsis, egois, meremehkan orang lain, dan sejenisnya malah jadi ditiru oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

    Bukannya teladan yang baik, namun sikap  negatif, rarsis, dan arogan malah menjadi santapan masyarakat sehari-hari dalam kehidupan yang terus sulit di tengah pandemi corona.

    Sikap orang-orang ini, seharusnya disetop dari peredaran di layar kaca maupun dalam pemberitaan media massa. Sayang, layar kaca dan media massa malah sangat senang mengundang dan menampilkan orang-orang semacam ini demi rating, oplah, maupun viewers (pemirsa).

    Narsistik adalah kondisi gangguan kepribadian dimana seseorang akan menganggap dirinya sangat penting dan harus dikagumi.

    Saat Pilkada DKI dilanjutkan Pilpres, mungkin kebanyakan tokoh dari kalangan elite partai, kalangan pemerintahan, kalangan parlemen, para artis dan seleberitis, hingga publik figur, tak menyadari bahwa ketika mereka tampil di hadapan publik, layar kaca, maupun pemberitaan media massa hingga media sosial,  kepercayaan diri, keegoisan, dan sikap meremehkan orang lain saat membela kelompok partainya, sejatinya sudah sangat membikin tak nyaman masyarakat.

    Bisa jadi, mereka melakukan sikap tersebut juga tak mempedulikan apakah akan dianggap narsistik atau tidak, terpenting, mereka harus menunjukkan dirinya yang prima, hebat, tanpa cacat, dan paling menguasai persoalan.

    Akibatnya, sejak peristiwa Pilkada DKI hingga Pilpres yang membawa Presiden Jokowi duduk sebagai pemimpin Indonesia dalam dua periode, hingga kini sikap narsistik ini terus menjadi sumbu penyulut perseteruan.

    Kini, apa pun konten aktual baik dari pemerintah maupun parlemen, tak ada satupun yang tak menyulut perdebatan publik. 

    Tak dapat dihitung lagi, cikal bakal pemicu yang membikin para tokoh dan figur akhirnya menjadi narsistik di hadapan layar kaca dan pemberitaan media massa hingga kini.

    Terbaru, bagaimana para tokoh dan figur publik ini saling egois dan meremehkan lawan bicaranya dengan argumentasinya menyoal Presiden marah.

    Bahkan perdebatan Presiden marah ini pun banyak sekali yang akhirnya menjadi topik pembahasan yang saling unjuk narsistik para pelakunya.

    Lebih miris adanya kasus pengusiran pejabat BUMN oleh anggota Dewan di ruang sidang DPR. Apa yang mau dibuktikan dan ditunjukkan dari sikap egois dan arogansi pengusiran itu? 

    Mundur ke belakang yang juga masih hangat, menyoal RUU-HIP. Kasusnya bahkan malah menyisakan saling tuntut menuntut karena adanya unjuk rasa yang sampai akibatkan pembakaran bendera partai.

    Tak pelak, masalah RUU-HIP ini pun mondar-mandir dan hilir-mudik menjadi diskusi narsistik di layar kaca.

    Sementara pandemi corona juga tak pernah usai timbulkan perdebatan narsistik para tokoh dan publik figur.

    Pertanyaannya, siapa yang bertanggungjawab dan memiliki tugas untuk menyetop sikap-sikap narsistik di layar kaca, media massa, dan media sosial? 

    Apakah sikap narsistik yang sejatinya dapat menjadi penyakit gangguan mental bila sampai ekstrem, akan terus menjadi santapan dan tontonan masyarakat?

    Sungguh, inilah compang-campingnya keteladanan sikap dan karakter bangsa. Sebab, sikap nasrsitik yang belum sampai menjadi penyakit gangguan mental, malah terus mengilhami masyarakat untuk meniru sikap yang sama dalam kehidupan sehari-hari yang semakin jauh dari sikap sopan-santun, etika, dan budi pekerti luhur.

    Yang pasti, kini sikap narsistik pun berpandemi, ditiru rakyat.

    Narsistiknya masyarakat

    Haruskah rakyat terus "menyantap" asupan teladan "narsistik" dari para tokoh dan publik figur yang sewajibnya menjadi teladan?

    Kini masyarakat sudah sangat mudah menerka, bila dalam sebuah acara di televisi, nara sumber atau pembicara yang diundang si A atau si B. Sudah terukur dan terbaca, kira-kira apa yang akan terjadi. 

    Apakah "mereka" tidak pernah berpikir dan bertanya pada diri sendiri. Saya narsistik tidak, ya? 

    Di luar sosok kalangan tokoh dan publik figur yang semakin hobi narsistik, budaya narsistik juga menjadi pademi di masyarakat. Masyarakat pun kini asyik-masyuk dalam bernarsistik ria, panjat sosial (pansos) melalui berbagai aplikasi media sosial yang dimiliki.

    Menjadi hobi pamer dan unjuk gigi dalam berbagai hal dan kegiatan yang sangat kentara tidak mau kalah saing dengan orang lain. Meski ada juga masyarakat yang sangat narsistik namun seperti disengaja demi mempromosikan dirinya di berbagai media sosial dan menyadari orang lain tentu sangat memperhatikannya, namun "cuek bebek".

    Dalam grup-grup media sosial, terutama whatsapp, sikap narsistik  masyarakat juga semakin berkembang pesat, karena mamang tidak ada wadah lain untuk pamer dan mempromosikan kehebatan dirinya.

    Intinya, sangat dapat dibaca orang-orang narsistik yang memang hanya berpikir untuk dirinya sendiri agar tak kalah saing dari orang lain. Namun, justru tetap banyak orang-orang yang sengaja bersikap narsistik karena memang ada tujuan di baliknya. Yang pasti, setiap orang dapat mengukur sendiri, apakah dirinya selama ini narsistik atau tidak. Apakah saya narsistik, ya? Bisa dijawab oleh diri sendiri, bisa dilihat dan kasat mata oleh orang lain.

     








    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.