Kisah Kesabaran Dibalik Berkurban - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

https://www.bing.com/images/search?view=detailV2&ccid=U1LYiuzV&id=F196C934A85CA3B2AC9008683E02ECDF17D13355&thid=OIP.U1LYiuzVbdNQ69JguA9A-AHaFP&mediaurl=https%3a%2f%2fpaktanidigital.com%2fartikel%2fwp-content%2fuploads%2f2020%2f01%2fgoat-1596880_1280.jpg&exph=906&expw=1280&q=kambing&simid=608017513243608630&ck=4ECBD1F0C5ED73E262181C60FFE91F57&selectedIndex=13&ajaxhist=0

Ande Ryan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 21 Januari 2020

Senin, 6 Juli 2020 08:33 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Kisah Kesabaran Dibalik Berkurban

    Dibaca : 256 kali

    Berkurban adalah salah satu ibadah umat Islam yang dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah dan merupakan hari raya kedua umat Islam setelah hari raya Idul Fitri. Dibalik praktiknya yang khas, ternyata ada kisah hebat yang terkandung di dalamnya.

    Kisah ini dimulai dari pernikahan Nabi Ibahim dengan Hajar atas permintaan istri pertama beliau Sarah. Karena Sarah yang sejak lama belum dikaruniai serang anak. Sejak pernikahan beliau dengan Hajar, Allah mengaruniai mereka seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Ismail. Ibrahim sangat mencintai Ismail yang setelah sekian lama didambakan.

    Saat itulah Allah SWT menguji kesabaran Nabi Ibrahim. Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya (Ismail). Dalam suatu mimpi Nabi Ibrahim melihat dirinya menyembelih Ismail. Allah mengisahkan kisah ini dalam surat As-Saffat ayat 102;

    “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ ia menjawab: wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperinahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’”.

    Kesabaran yang luar biasa datang dari Ibrahim dan Ismail. Bagaimana seorang bapak tega menyembelih anak yang sudah lama dinanti. Tetapi ketika anak itu lahir, Allah memerintahkan beliau untuk menyembelihnya. Dan kesabaran Ismail sebagai anak yang sabar dan percaya akan mimpi ayahnya dan rela disembelih atas perintah Allah. Hal ini Allah SWT kisahkan di dalam firman-Nya;

    “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami penggil dia: ‘wahai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu’. Demikianlah kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seeor sebelihan yang besar.” (Qs. As-saffat 103-107).

    Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa musibah atau ujian yang menerpa kita bukan apa-apa dibandingkan dengan ujian yang Allah berikan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Allah SWT memberikan ujian kepada hamba-Nya sesuai dengan kemampuan yang ia mikili. Jadi mengapa kita selalu mengeluh atas ujian yang kita hadapi dan acuh terhadap pahala dari kesabaran? Sabar tidak ada batasnya.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.