Kasus Corona Masih Tinggi, Pakar 32 Negara Menyebut Virus Menular Melalui Udara, Waspada Jangan Ada Klaster Baru! - Analisa - www.indonesiana.id
x

corona

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 7 Juli 2020 13:12 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Kasus Corona Masih Tinggi, Pakar 32 Negara Menyebut Virus Menular Melalui Udara, Waspada Jangan Ada Klaster Baru!

    Dibaca : 546 kali

    Kasus corona masih tinggi baik di Indonesia maupun dunia. Pakar dari 32 negara juga menyebut virus corona menular lewat udara. Hati-hati berkegiatan seperti bersepeda dan sepak bola, jangan menjadi klaste baru. Sementara data corona dari pemerintah pun dianggap tak pernah valid.

    Kendati pandemi corona kasusnya secara akumulasi di Indonesia secara umum di Indonesia masih tinggi, rata-rata masih lebih dari 1000an setiap hari. Bahkan informasi data dari pemerintah juga diragukan validitasya, ternyata aktivitas masyarakat di berbagai bidang kehidupan sudah terlihat nampak normal. Bukan lagi transisi apa lagi new normal, tapi benar-benar sudah nampak normal.

    Hal ini mengacu dari Tempo (4/7/2020) yang menyebut bahwa data dari "Bersatu Lawan Covid" per 3 Juli 2020 data kasus yang diperoleh lebih tinggi dibanding data yang dilaporkan oleh Situs Gugus Tugas Covid-19 pemerintah.

    Uniknya, atas perbedaan data tersebut, Yurianto, jubir Covid-19 pemerintah menyebut data dari Bersatu Lawan Covid tak dibutuhkan masyarakat dan menyebut hanya akan menimbulkan kepanikan dan mengatakan bahwa yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah memakai masker yang benar, cuci tangan, dan menjaga jarak.

    Pernyataan Yuri ini semakin mempertegas bahwa selama ini, pemerintah memang tidak meng-update data kasus corona yang benar ke hadapan masyarakat. Bisa jadi juga, kasus yang setiap hari justru kini rata-rata di.atas seribu lebih, juga data rekayasa. Sebab, sebelum berlakunya PSBB data kasus malah rata-rata hanya 500an per hari. Ini mana yang benar?

    Demi membela rakyat tidak panik dengan menyembunyikan data kasus tertular, sembuh, dan meninggal yang benar, justru masyarakat semakin abai dengan upaya pemerintah yang memang sejak awal kasus corona menangani dengan setengah hati bahkan dianggap "compang-camping".

    Akibat dari ketidakjujuran pemerintah, rakyat malah tetap memaksakan dalam kondisi hidup normal karena tetap harus "makan" khususnya yang hidup dari usaha non formal.

    Dalam kondisi corona yang berkepanjangan, yang paling diuntungkan adalah ASN, PNS, dan karyawan BUMN, yang tetap menerima gaji, meski harus bekerja dari rumah. Padahal gaji mereka bersumber dari pajak dan uang rakyat. Tetapi rakyat malah banyak yang semakin kelaparan dan menderita.

    Bila kita simak lagi berita terbaru, melansir dari Kompas.com, Senin (6/7/2020) menyebutkan bahwa 239 ahli dari 32 negara memaparkan sejumlah bukti yang menunjukkan virus corona menyebar di udara dan dapat menular.

    Atas bukti-bukti yang mereka miliki,  para ilmuwan mendesak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk merevisi rekomendasinya, jika virus corona dapat menular lewat udara, ini adalah faktor penting dalam penyebaran pandemi. Hal ini terutama terjadi di ruangan dengan ventilasi buruk, konsekuensi penularan besar.

    Selama ini, WHO berpendapat bahwa SARS-CoV-2 hanya disebarkan lewat droplet atau percikan pernapasan yang keluar saat seseorang batuk atau bersin.

    Karenanya, dalam surat terbuka untuk WHO, ratusan ilmuwan ini memaparkan sejumlah bukti yang menunjukkan bahwa partikel yang lebih kecil dan ada di udara dapat menginfeksi manusia.
    Para peneliti berencana menerbitkan surat terbuka mereka dalam jurnal ilmiah minggu depan.

    Andai saja, apa yang dipaparkan oleh para pakar dengan bukti-buktinya bahwa virus corona menyebar lewat udara, ini benar-benar temuan yang wajib diwaspadai oleh seluruh negara di dunia dan rakyatnya.

    Pasalnya, meski hampir seluruh negara telah berupaya menerapkan protokol kesehatan, namun corona faktanya terus menyebar tak henti. Oleh, sebab itu, temuan bukti virus corona menyebar melalui udara sangat mungkin benar faktanya.

    Namun, untuk kepastiannya,, kita tunggu pergerakan dari para pakar ini dan apa pendapat WHO berikutnya.

    Terlepas dari data pemerintah yang tidak pernah benar dan tidak valid, ditambah adanya bukti dari para pakar dari 32 negara.yang menyebut virus corona menyebar melalui udara, maka khususnya masyarakat Indonesia benar-benar wajib waspada.

    Bersepeda dan sepak bola

    Sebab, selain masyarakat tetap hidup dalam kondisi nomal, kini yang menonjol dalam masyarakat Indonesia adalah kegiatan bersepeda menjamur dan kegiatan sepak bola dari akar rumput hingga senior pun sudah bergulir.

    Bila kita lihat khususnya kegiatan bersepeda, masyarakat cukup terlihat tertib, sebab saat bersepeda mematuhi protokol kesehatan.

    Namun, untuk sepak bola, masih sangat rentan terjadi penularan virus, karena para pesepak bola baik di akar rumput sampai senior, yaitu SSB-SSB dan klub yang sudah mulai berlatih, mereka sulit menghidar dari aturan protokol kesehatan seperti mamakai masker dan jaga jarak saat melakukan aktivitas sepak bola.

    Untuk itu, bagi kehidupan masyarakat yang tetap normal, lalu ada bersepeda, dan bersepak bola, maaf, dengan mengabaikan data kasus corona dari pemerintah Indonesia yang tidak pernah valid,  bila dugaan yang sementara sudah ada bukti dari para pakar 32 negara benar, bahwa virus corona menular melalui udara. Tentu, ini akan sangat berbahaya dan mengkawatirkan.

    Jangan sampai para pesepeda, SSB-SSB, klub sepak bola, dan lainnya, menjadi klaster baru penyebaran Covid-19 di Indonesia. Klaster adalah penamaan sekumpulan kasus penyakit menular yang terhubung oleh satu peristiwa atau lokasi.

    Bila ada anak SSB yang sampai tertular virus corona, siapa yang akan bertanggungjawab?

    Semoga, data corona dari pemerintah Indonesia segera ditampilkan yang jujur. Buka data yang benar, sebab hingga saat ini rakyat sudah tidak percaya dengan data dari pemerintah.

    Semoga penularan virus corona lewat udara adalah salah. Namun, bila benar, maka seluruh lapisan masyarakat wajib lebih waspada.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.