Kalung Anti Corona, Tetaplah Berpikir Jernih - Analisa - www.indonesiana.id
x

Kalung antivirus Corona. shopee

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 9 Juli 2020 12:37 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Kalung Anti Corona, Tetaplah Berpikir Jernih

    Dibaca : 1.379 kali

    Pageblug Corona ini memang luar biasa memengaruhi hidup manusia—individu maupun sosial. Tantangan yang diberikan oleh pandemi ini mengoyak sendi-sendi hidup masyarakat melampaui masalah kesehatan. Banyak orang kehilangan pekerjaan, pekerja mandiri semakin sukar memperoleh penghasilan, sebagian orang kehilangan orang dekat, kerabat, maupun sejawat. Pendidikan tak berjalan sebagaimana mestinya.

    Tekanan yang demikian kuat dan tidak kunjung teratasi melahirkan persoalan kejiwaan: bosan, jenuh, stres, paranoid, hingga linglung. Menjaga kewarasan memang perkara yang pelik; bagaimana menjaga akal sehat agar tetap sehat dan tidak tergerus oleh kecemasan, ketakutan, dan kegelisahan. Paranoid membuat kita merespons keadaan sekeliling secara berlebihan.

    Ketika vaksin medis anti-Corona belum kunjung ditemukan, perburuan obat untuk membasmi virus terus dilakukan. Kecemasan dan keyakinan mendorong banyak orang berikhtiar menemukan obat ampuh nan manjur. Barangkali karena terlampau yakin, muncullah klaim-klaim. Optimisme itu bagus, tapi juga perlu dibarengi dengan langkah-langkah yang dapat dipertanggungjawabkan.

    Misalnya saja, bagaimana Kementerian Pertanian sampai kepada produksi masal kalung anti-Corona. Banyak orang membayangkan, bila kita memakai kalung itu, yang sakit akan sembuh dan yang belum sakit akan terlindungi dari virus. Benarkah seperti itu? Klaim yang terlalu cepat hanya membuat kita terlihat seperti orang hebat yang tegap berdiri tapi lemah kaki-kakinya.

    Klaim kalung antivirus itu alih-alih mengundang apresiasi, sayangnya lebih banyak orang menjadikannya bahan perundungan. Meme-meme yang mengundang senyum bermunculan di media sosial: ada kalung anti-lapar dengan foto orang memakai kalung yang berisi potongan pizza. Andaikan klaim itu ditempatkan pada proporsinya, mungkin tidak akan muncul perundungan. Orang banyak akan mengapresiasi ikhtiar sebatas yang sudah dicapai. Orang banyak akan merundung manakala klaimnya dua meter padahal langkahnya baru satu meter.

    Sebelum kalung antivirus sebenarnya sudah banyak klaim yang dimajukan oleh banyak orang. Saat pertama kali muncul klaim bahwa ramuan rempah-rempah sanggup menaklukkan virus Corona, para pejabat pun tampil di muka umum dan memperlihatkan aksi minum ramuan rempah-rempah. Klaim seringkali memang beberapa langkah melampaui kenyataan yang sebenarnya. Seringkali pula, semangat yang menggebu-gebu atau saking senangnya membuat kita bersikap kurang kritis. Kekalutan hanya akan mengeruhkan pikiran.

    Pengalaman itu semestinya dapat membuat para pejabat publik untuk tidak mudah mendeklarasikan klaim-klaim yang terlihat menjanjikan. Bila pijakannya tidak kuat, klaim-klaim itu hanya akan melahirkan meme-meme yang menyedihkan dan meniadakan apresiasi. Di sinilah pentingnya menjaga akal agar tetap sehat agar tidak mudah tergiur oleh bisikan bahwa sudah ditemukan penawar Covid-19 padahal belum lagi diuji secara semestinya. Jangan sampai menebar pepesan kosong ketika jutaan orang betul-betul tengah berharap obat pelawan Covid itu segera ditemukan. >>


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.