Pesepeda dan Sense Of Crisis di Tengah Corona - Analisa - www.indonesiana.id
x

Pesepeda

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 10 Juli 2020 11:55 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Pesepeda dan Sense Of Crisis di Tengah Corona

    Dibaca : 488 kali


    Kamis, (9/7/2020) ternyata kasus Covid-19 di Nusantara kembali memecahkan rekor. Berdasarakan siaran yang disampaikan jubir pemerintah, Achmad Yurianto dalam konferensi pers dari Graha BNPB, diketahui ada penambahan 2.657 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir.

    Catatan ini adalah rekor kasus tertinggi ketiga setelah catatan kasus pada tanggal 2 dan 8 Juli 2020 di Indonesia.

    Namun demikian, saya tidak akan membahas lagi menyoal kebenaran laporan data kasus yang disampaikan Yurianto, sebab masyarakat sudah abai dan tak lagi ambil pusing, meski kini WHO sudah mengakui virus corona menyebar melalui udara sambil menunggu pembuktian yang valid oleh para pakar dari 32 negara.

    Karena tetap abai dan cueknya masyarakat Indonesia, sebab sejak awal pemerintah sendiri yang tidak terbuka dan tidak jujur dengan laporan kasus corona, maka bila Kamis ini kasus yang dilaporkan melejit hingga mendekati tigaribuan, dan apakah data itu benar atau rekayasa, yakin masyarakat tetap tidak akan terpengaruh dan menjadi takut, dan tetap saja akan menjalankan kehidupan dan aktivitas secara normal seperti biasa.

    Yang lebih menarik dari kasus corona yang datanya sudah tak dipercaya masyarakat ini, gaya hidup masyarakat +62 ternyata bergeser drastis, yaitu menjadi "pesepeda". Kini, semua masyarakat dari rakyat biasa hingga rakyat "tak biasa" semua menjadi gandrung dengan sepeda.

    Ironisnya, gandrung menjadi pesepeda ini, sangat kontradiksi dengan kondisi perekonomian masyarakat pada umumnya.

    Di tengah ekonomi yang terpuruk, sektor informal "mati suri", rakyat bahkan banyak yang "ribut" menyoal bantuan sosial (bansos) yang salah sasaran dan lainnya, untuk makan saja susah, tetapi gandrungnya masyarakat kepada sepeda, seolah mengalahkan logika.

    Di saat sebagian masyarakat kesusahan, untuk membeli beras satu liter saja susah, tapi sepeda dengan harga lebih mahal dari motor dan mobil pun berseliweran di seluruh jalan-jalan penjuru negeri ini.

    Harga sepeda standar saja kini tidak ada yang harganya murah. Membeli sepeda bekas di toko sepeda saja harga juga sudah hampir sama dengan sepeda baru merek lokal.

    Bayangkan, berapa liter beras dapat dibeli oleh masyarakat bila dibandingkan dengam harga sepede seken yang paling murah sekalipun. Apalagi sepeda bermerek lokal maupun buatan mancanegara, yang kini ditunggangi para orang "kaya/selebreritis", kira-kira bisa dapat berapa truk beras dan dapat memberi makan berapa rakyat?

    Entah, sejatinya apa yang ada di pikiran masyarakat kita. Sangat mudah terbawa suasana dan situasi. Seperti tidak punya pendirian, tetapi malah latah dan ikut-ikutan dan demi gengsi dan gaya hidup.

    Saya sendiri bukan pecinta sepeda. Juga tidak gandrung kepada sepeda. Tetapi, sepeda sudah lekat dengan kehidupan saya sejak saya SD sampai SMP karena menjadi alat transportasi saya menuju ke sekolah. Saat itu, saya juga mengalami masa-masa ikut kucing-kucingan dan masuk jalan tikus ketika mendengar kabar ada rasia peneng (pajak) sepeda, karena sepeda saya belum ada penengnya alias belum bayar "pajak".

    Berikutnya, sepeda terus akrab dalam kehidupan saya, dan tidak lagi sekadar menjadi alat transportasi, namun juga untuk olah raga. Jadi, saat sekarang masyarakat gandrung dengan sepeda dan banyak untuk tujuan gaya hidup di tengah pandemi corona, saya dan anak-anak saya cuma tinggal memompa ban sepeda yang kurang angin di garansi, lalu melakukan tradisi bersepeda, yang bukan gandrung.

    Melihat sekeliling lingkungan saya, saya juga takjub, warga masyarakat akhirnya turut menurunkan sepeda yang disimpan di gudang, lalu diservis. Meski tetap saja, ada warga yang baru gandrung, dan ikutan gaya hidup, dengan membeli sepeda yang mahal.

    Bagaimana dengan masyarakat di lingkungan lain, di seluruh Indonesia. Faktanya, kini pesepeda menjamur, dan dominasi sepeda mahal yang beredar dan berseliweran ditunggangi masyarakat rata-rata sepeda dengan harga jutaan.

    Begitulah gambaran masyarakat kita sekarang dengan fenomena sepeda yang sangat kontradiksi dengan keadaan. Membela-bela membeli sepeda mahal, demi mengikuti trend dan gaya hidup, sementara sebagian besar rakyat Indonesia masih susah untuk sekadar makan.

    Bila masyarakat memahami betapa Presiden saja bilang ngeri akan kondisi ekonomi Indonesia, maka gandrung dan menjadikan sepeda menjadi gaya hidup dan gengsi, juga wajib menjadi refleksi.

    Coba apa yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Beliau mengaku cukup 'ngeri' terhadap realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal ketiga tahun ini, apabila jajaran menteri kabinetnya masih bekerja biasa-biasa saja.

    Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Jokowi dalam rapat yang diunggah melalui akun Youtube Sekretariat Presiden, seperti dikutip Kamis (9/7/2020).

    "Kita harus memiliki sense of crisis yang sama. Regulasi sederhanakan, SOP sederhanakan. Sesuai dengan keadaan krisis yang kita hadapi. Semua negara sekarang ini mengalami itu. Kerjanya cepet-cepetan," kata dia.

    Nah, Bapak presiden bilang kita harus memiliki sense of crisis yang sama. Jadi, gandrungnya pesepeda yang hanya untuk gengsi dan gaya hidup, mereka adalah masyarakat yang tidak memiliki sense of crisis karena sebagian besar masyarakat masih sangat menderita, tapi para pesepeda "mahal" malah hidup untuk "gaya-gaya" an. Miris.

    Saya sendiri, dan dalam artikel sebelumnya bahkan sudah mengusulkan agar sepeda mahal wajib kena peneng/pajak. Tapi bukan untuk sepeda yang merakyat.

     

     

     

     

     

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.