Status New Normal Amankah? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Levicha Charlamitha

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 10 Juli 2020

Sabtu, 11 Juli 2020 10:59 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Status New Normal Amankah?

    Dibaca : 1.114 kali

    New Normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) mulai diselenggarakan di beberapa kota dan kabupaten di Indonesia. New Normal adalah perubahan perilaku masyarakat agar tetap menjalankan aktivitas normal dengan menerapkan protokol kesehatan guna mencegah penularan covid-19.

    Penerapan Adaptasi Kebiasaan baru perlu dilakukan mengingat sudah empat bulan banyak orang yang melakukan segala aktivitasnya dari rumah. Mulai dari bekerja, belajar, belanja, olahraga hingga ibadah pun harus dilakukan dari rumah. Kebijakan tersebut terus dilakukan guna mengurangi penyebaran virus covid-19.

    Terlalu lama dirumah ternyata menyebabkan kejenuhan atau rasa bosan. Rasanya semua kegiatan sudah dicoba dilakukan dari rumah. Hingga membuat beberapa orang kehilangan rasa takut dan menganggap bahwa virus corona ‘biasa saja’. Sudah mulai banyak orang yang berkeliaran di luar untuk menghilangkan rasa penatnya selama dirumah. Ketidakdisiplinan tersebut pun memicu angka bertambahnya pasien positif virus corona atau covid-19 di Indonesia.

    Data terakhir dalam laman covid19.go.id pada 8 Juli 2020 telah mengkonfirmasi sebanyak 68.079 orang terjangkit covid-19 di seluruh wilayah di Indonesia. Pembagiannya, sebanyak 31.585 dinyatakan sembuh dan 3.359 orang meninggal dunia. Dalam sehari data positif orang yang terjangkit covid-19 naik sebanyak 1.853 orang pada 8 Juli 2020 (sumber Kementrian Kesehatan).

    Sejak diberlakukannya New Normal di beberapa daerah di Indonesia. Sejumlah aktvitas masyarakat baik di tempat ibadah, perkantoran, restoran, pasar serta pusat kegiatan lain mulai dibuka secara bertahap. Pembukaan tempat-tempat tersebut tetap mewajibkan untuk orang-orang memperhatikan protokol kesehatan dan kapasitasnya pun hanya sebanyak 50 persen. Lain halnya dengan kegiatan di sekolah,  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sedang menyiapkan skenario belajar dari rumah hingga akhir tahun 2020.

    Sampai kapan fase new normal akan berlangsung? Belum ada jawaban pasti untuk pertanyaan tersebut. Pasalnya WHO (world health organization) pun sudah menganjurkan kita untuk hidup berdampingan dan menyesuaikan diri dengan virus corona karena sampai sekarang belum ditemukan vaksin untuk virus ini. Yang dapat dilakukan oleh seluruh masyarakat yaitu bertansformasi dengan tatanan kehidupan dan perilaku baru sesuai dengan anjuran pemerintah.

    Selain dengan menjaga jarak sosial dengan mengurangi kontak fisik dengan orang lain dan berolahraga secara rutin untuk menjaga daya tahan tubuh, ada beberapa hal atau starter pack  yang harus disiapkan untuk menghadapi new normal. Starter pack ini berguna untuk melindungi diri kita di saat beraktivitas di luar rumah atau di tempat umum yang penuh dengan banyak orang.

    Hal-hal atau strater pack yang harus disiapkan di era New Normal ini meliputi masker, face shield, hand sanitizer, helm, alat-alat makan dan minum pribadi, perlengkapan untuk beribadah, tisu kering dan tisu basah. Beberapa hal tersebut mungkin susah untuk dibawa namun kini menjadi kewajiban setiap orang.

    Masker perlu digunakan untuk menghindari percikan (droplet) dari orang yang menunjukkan gejala seperti batuk dan bersin. Walaupun tidak dapat menangkal virus sepenuhnya, masker bisa sebagai perlindungan diri terhadap virus corona. Selain mencuci tangan menggunakan sabun dan air yang mengalir, saat berperrgian sabun bisa digantikan dengan hand sanitizer guna menjaga kebersihan tangan agar tetap higienis. Starter pack lain pun memiliki fungsi yang signifikan untuk membantu mencegah penularan virus covid-19.

    Dengan segala protokol kesehatan yang sudah disiapkan, apakah dapat menjamin bahwa status new normal itu aman? Sebenarnya semua itu kembali kepada kedisiplinan masyarakat. Harus diingat bahwa virus ini belum benar-benar selesai. Yang pasti hal itu dilakukan guna mengembalikan lagi produktivitas atau kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat.

    Presiden RI, Joko Widodo memberikan pernyataan di Istana Negara, tanggal 30 Mei 2020 “Kalau dari sisi epidomologi seharusnya memang belum saatnya. Dari angka kasus harian keseluruhan di Indonesia itu kan jelas, kita kasusnya fluktuatif terus meningkat” pungkasnya.

    Akibat dari penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), perekonomian lumpuh, daya beli masyarakat melemah, PHK dan angka pengangguran meningkat. Jika dibiarkan secara terus-menerus sektor perekonomian dapat ikut terancam.

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, ide penerapan new normal datang sendiri dari Presiden Jokowi. Kenormalan baru ini diterapkan agar perekonomian Indonesia bisa bangkit kembali sambil menunggu perkembangan wabah penyakit covid-19. Menurutnya, perkembangan ekonomi itu didasarkan pada data fundamental serta sentimen publik-pasar. Kedua hal itu akan bergerak dengan sendirinya jika ada harapan yang positif di tengah-tengah masyarakat.

    Fase new normal akan terus berlangsung selama vaksin belum dapat ditemukan. Seluruh peneliti di dunia saat ini sedang mencoba mencari vaksin untuk dapat memberhentikan penyebaran virus ini, namun diperkirakan vaksin baru dapat ditemukan di awal atau pertengahan tahun 2021.

    Oleh karena itu, kita harus berhenti berandai-andai dengan berpikir “kalau pandemi ini sudah berakhir, saya akan..”. Karena saat ini kita harus menjalani kehidupan berdampingan dengan virus corona atau covid-19. Status new normal ini memperingatkan kita untuk senantiasa memperhatikan protokol kesehatan dan menjaga jarak dengan orang lain. Perhatikan kesehatan fisik dan juga kesehatan mental. Ingin aman? Maka taatilah peraturan yang sudah disiapkan oleh pemerintah.

               


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.