Chairil, Sebuah Buku yang Ditulis dengan Cara Berbeda - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

cover buku Chairil

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 13 Juli 2020 06:26 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Chairil, Sebuah Buku yang Ditulis dengan Cara Berbeda

    Dibaca : 733 kali

    Judul: Chairil

    Penulis: Hasan Aspahani

    Tahun Terbit: 2017 (Cetakan kedua)

    Penerbit: Gagas Media                                                                                           

    Tebal: xxii + 316

    ISBN: 978-979-780-869-3

     

    Saya baru tahu dari buku ini bahwa Chairil Anwar adalah keponakan dari Sutan Syahrir dari garis ibunya. Saya pun baru tahu kalau masa kecil Chairil di Pangkalan Brandan dan Medan hidup berkecukupan dan dimanja. Pengetahuan baru ini penting bagi saya untuk menghubungkan benang merah kehebatan Chairil dalam hal puisi dengan hidupnya yang sembarangan dan miskin. Selama ini saya bertanya-tanya darimana Chairil mendapatkan pengetahuan yang demikian luas tentang sastra, padahal dia masih sangat muda dan hidup dengan cara semaunya. Ternyata latar belakang keluarga dan pendidikannya memang memungkinkan untuk Chairil berprestasi di bidang sastra.

    Buku pertama yang saya baca tentang kisah hidup Chairil adalah “Hari-Hari Akhir Si Penyair” karya Nasyah Jamin. Namun buku yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya itu hanya memuat sepenggal kehidupan Sang Pendobrak. Rasa penasaran saya menjadi semakin tebal setelah selesai membaca kisah hidup Chairil di masa akhir ini. Darimana dia belajar bahasa Inggris, Perancis, Belanda dan Jerman? Darimana dia mendapatkan akses terhadap buku-buku yang kala itu hanya dinikmati oleh kalangan inteletual kaya? Bagaimana kisahnya sehingga puisi-puisinya bisa dimuat di Pujangga Baru dan Panji Pustaka, majalah bergengsi di masa itu?

    Buku “Chairil” karya Hasan Aspahani ini memberikan banyak sekali informasi yang saya butuhkan. Buku ini bagai sekendi air yang menyejukkan dahaga saya terhadap tokoh nyentrik sastrawan angkatan 1945 itu. Yang lebih menarik lagi, buku ini ditulis dengan cara yang berbeda. Hasan Aspahani menghubungkan puisi-puisi karya Chairil dengan kehidupan nyata Si Penyair. Terbuktilah sudah bahwa Chairil Anwar tidak hanya merangkai kata indah saat mencipta puisi. Semua puisi yang ditulisnya adalah letupan dari peristiwa yang sungguh terjadi di hidupnya.

    Kesabaran Hasan Aspahani dalam melakukan riset hubungan antara puisi-puisi Chairil Anwar dengan kehidupan nyata sang Penyair ini haruslah dihargai. Tidaklah mudah untuk mencari koneksi antara sebait puisi atau bahkan sebaris kata dalam puisi dengan peristiwa dalam hidup Chairil yang tersebar di Pangkalan Brandan, Medan dan kemudian Jakarta. Hasan Aspahani mula-mula pasti harus menyusun terlebih dahulu kronologi kehidupan tokohnya. Ia harus hafal semua puisi karya Chairil. Baru kemudian mencocokkan puisi-puisi yang ditulisnya terhadap kejadian-kejadian nyata dalam hidup Chairil. Sungguh kerja yang melelahkan.

    Sejak bersekolah di tingkat SD di Pangkalan Brandan, Chairil sudah berkawan dengan sastra. Ia sudah membaca “Layar Terkembang,” sebuah novel karya Sutan Takdir Alisjahbana yang mengajak bangsa Indonesia menatap masa depan melalui jalur modernisasi. Tentu ia juga akrab dengan karya-karya Balai Pustaka lainnya. Di sekolah, baik saat SD maupun SMP, Chairil dikenal dengan anak yang cerdas. Ia banyak membaca buku. Dan memang di jaman itu Pemerintah Hindia Belanda menyediakan buku-buku sastra untuk berbagai level pendidikan. Buku-buku bacaan yang menarik tidak hanya disajikan dalam Bahasa Melayu, tetapi juga dalam Bahasa Belanda dan Inggris.

    Dari kecil Chairil adalah seorang yang sangat percaya diri. Ia selalu ingin menang. Selalu ingin nomor satu. Sifat ini mungkin terbangun melalui keluarganya. Sebagai anak tunggal yang dimanja, ia tentu menjadi orang pertama di keluarganya. Apalagi hubungan antara Toeloes sang ayah dan Saleha sang ibu, tidaklah rukun. Sebenarnya Chairil mempunyai saudara seibu, lain bapak dan juga sebapak lain ibu. Sifat tak mau mengalah ini berlanjut saat ia berada di Batavia. Perilakunya yang seenaknya digambarkan secara baik di buku karya Nasyah Jamin.

    Minang connection ternyata berperan penting dalam hidup dan keberhasilan Chairil. Selain Sutan Syahrir sang paman, Sutan Takdir Alisyahbana dan H.B. Jasin juga sangat penting perannya dalam sepak terjang kepenyairan Chairil. Chairil sendiri adalah anak Minang yang lahir di Sumatra Timur dan kemudian merantau ke Jakarta. Sutan Syahrirlah yang menampung Chairil saat di Jakarta. Sutan Syahrir pula yang mengenalkan Chairil dengan Sutan Takdir Alisyahbana. Melalui Takdir, ia berkenalan dengan Bohang sang editor sekaligus mentor bagi Chairil.

    Peran Jasin lain lagi. Jasin sudah kenal dengan Chairil sejak sama-sama tinggal di Medan. Mereka satu sekolah, tetapi Jasin beberapa angkatan di atas Chairil. Jasinlah yang mengetahui dan menghargai sajak-sajak Chairil. Jasin adalah pembela karya Chairil di depan Sutan Takdir Alisyahbana dan Armijn Pane. Jasin berperan besar untuk meloloskan karya-karya Chairil di Majalah Panji Pustaka. Budi Dharma menulis: “dia (H.B Jasin) menemukan kebesaran sajak-sajak tersebut (sajak-sajak Chairil Anwar) yang mula-mula tidak terlihat dan tidak terumuskan dengan baik.”

    Sajak-sajak Chairil Anwar juga bernuansa perjuangan, meski dia tidak pernah ikut mengokang bedil. Bagaimana Chairil sampai terlibat dalam perjuangan kemerdekaan? Tentu sangat berhubungan dengan sang Bung Kecil, yaitu pamannya. Chairil pernah menumpang di rumah Sutan Syahrir. Di rumah itulah ia bertemu dengan Des Alwi, anak angkat Syahrir. Dua pemuda sepantaran ini berkawan akrab. Bahkan mereka berdua bekerjasama saat Syahrir mulai kehilangan kemampuan ekonomi. Des Alwi dan Chairil menjadi penjual barang bekas yang didapat dari rumah-rumah Belanda yang jatuh miskin karena kedatangan Jepang. Melalui perdagangan barang bekas inilah Chairil dan Des Alwi mendapatkan perangkat radio yang dipakai oleh Syahrir memonitor berita Perang Pasifik dari luar negeri.

    Peran lain dari Chairil dalam pergerakan adalah sebagai pembawa pesan. Tujuh hari menjelang Proklamasi, 10 Agustus 1945, pukul 10 pagi, Chairil Anwar bergegas datang ke Kantor Komisi Bahasa Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur No. 23 tempat Soebadio bekerja. Chairil membawa informasi sangat penting dari Sutan Syahrir dan itu harus sampai secepatnya ke satu simpul pergerakan pada masa itu yaitu Soebadion, untuk kemudian disebarkan ke simpul-simpul perjuangan lainnya. Bahkan Chairil sendiri pernah ditangkap Jepang dan digebuki sampai mukanya bonyok. Itulah sebabnya Chairil begitu membenci Jepang.

    Selain mengisahkan tentang masa kecil Chairil, bagaimana Chairil menjadi sastrawan hebat dan peran Chairil dalam perjuangan kemerdekaan, Hasan Aspahani juga mengisahkan romantika Chairil dengan gadis-gadis yang pernah melintas di hatinya. Termasuk kisah keluarga kecil yang sangat dicintai Chairil. Sejak muda Chairil memang suka sekali dengan anak gadis yang cantik dan cerdas. Itulah sebabnya perempuan-perempuan yang singgah di hatinya dan kemudian muncul dalam puisi-puisinya adalah gadis-gadis yang rupawan sekaligus sangat cerdas. Nama Ida, Mirat dan Sri Ajati adalah gadis-gadis yang mengusik rasa cintanya. Sampai akhirnya Chairil menikah dengan Hapsah. Sayang sekali pernikahannya tidak langgeng karena Chairil tidak peduli dengan aspek ekonomi rumah tangganya. Chairil tidak mau terikat sebagai pegawai yang berpenghasilan tetap. Sementara istri dan anaknya memerlukan uang untuk menunjang hidup. Akhirnya Chairil bercerai. Namun Chairil tetap mencintai keluarganya dan ingin kembali menikahi istrinya jika buku yang disiapkannya diterbitkan dan ia mendapat uang dari situ. Sayang sekali cita-citanya itu kandas karena Chairil keburu dijemput oleh malaikat untuk kembali kepada Sang Khalik.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.